JAKARTA, EDUNEWS.ID – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan komitmennya untuk melakukan reformasi besar-besaran di dunia perguruan tinggi.
Sejumlah Program Studi (Prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri strategis nasional akan segera dihapus atau ditutup guna meningkatkan efisiensi dan kualitas lulusan.
Langkahini diambil untuk memastikan sumber daya manusia (SDM) Indonesia terserap maksimal di sektor-sektor penggerak ekonomi masa depan, terutama bidang hilirisasi dan digitalisasi.
Strategi Market Driving vs Market Driven
Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menjelaskan bahwa saat ini banyak kampus terjebak pada strategi market-driven—hanya membuka prodi yang sedang laris tanpa mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang negara. Kini, pemerintah beralih ke strategi market driving.
“Mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” tegas Badri dalam Simposium Nasional Kependudukan 2026, Senin (27/4/2026).
Fokus pada 8 Sektor Strategis
Pemerintah telah menetapkan delapan industri strategis yang menjadi prioritas pembangunan nasional, di antaranya:
-
Digitalisasi (Kecerdasan Buatan dan Semikonduktor)
-
Hilirisasi dan Industrialisasi
-
Ketahanan Pangan
-
Kesehatan
-
Energi
-
Pertahanan
-
Maritim
-
Material Maju dan Manufaktur
Kemdiktisaintek mendorong perguruan tinggi untuk lebih berani mengembangkan prodi-prodi baru yang berkelindan dengan delapan sektor tersebut. Mahasiswa pun diarahkan untuk melirik jurusan yang mendukung kemandirian ekonomi nasional berbasis sains dan teknologi.
Dukungan Beasiswa LPDP 2026
Sejalan dengan kebijakan ini, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga telah membuka Beasiswa STEM Industri Strategis Tahun 2026. Program ini menjadi “karpet merah” bagi mahasiswa yang ingin menempuh jenjang S2 dan S3 di bidang prioritas, termasuk bidang pendukung seperti Kebijakan Publik, Hukum, serta Bisnis dan Ekonomi.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menambahkan bahwa integrasi antara sains, teknologi, dan industri adalah kunci pertumbuhan ekonomi nasional.
“Sektor strategis ini merupakan penggerak utama pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi,” pungkasnya.
