Pendidikan

SILE-Project Selesai, Ini Beberapa Progres yang berhasil Dicapai

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Kerjasama Kementerian Agama dan Pemerintah Kanada dalam program Supporting Islamic Leadership in Indonesia (SILE-Project) telah berakhir. Kerjasama yang sudah berlangsung sejak tahun 2011 dinilai berhasil mengembangkan model Kemitraan Unversitas dan Masyarakat (KUM).

Direktur Pendidikan Tinggi Islam Amsal Bahtiar menjelaskan, Pemerintah Kanada termasuk negara yang paling konsisten membantu perguruan tinggi Islam sejak tahun 1950. Setiap periode tertentu, Pemerintah Kanada dengan pemerintah Indonesia mempertahankan pola kemitraan tersebut meski dengan nomenklatur dan fokus yang berbeda.

Pada tahun pertama, kerjasama ini terwujud dalam bentuk pemberian beasiswa kepada para dosen untuk studi lanjut, khususnya di Universitas McGill di Montreal. Dalam rentang tahun 1989 1999, kerjasama ini mempunyai nama khusus, yaitu Indonesia Canada Islamic Higher Education (ICIHEP).

“Sejak 2011 – 2016, program kemitraan difokuskan pada penguatan kepemimpinan lokal muslim dalam program SILE-Project, dengan dana hibah sebesar CDS 13.500.000 dan dana pendamping dari pemerintah Indonesia,” tutur Amsal pada Penutupan SILE-Project di Gedung Kementerian Agama Jakarta, Senin (30/1/2017).

Menurutnya, selama 6 tahun, SILE-Project menggarap dua PTKIN, yakni UIN Alauddin Makassar dan UIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam implementasinya, telah diperkenalkan beberapa pendekatan community engagement.

Pertama, Asset Based Community Development (ABCD). Yaitu, pendekatan pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai subyek yang mengetahui kekuatan, potensi, dan asetnyauntuk dioptimalkan kemanfaatannya. Dalam pendekatan ini, masyarakat menjadi pemberdayaan dalm mengembangkan kreatifitas dan inisiatif perbaikan.

Kedua, Community Based Research (CBR). Yaitu, penelitian bersama masyarakat untuk mengatasi permasalahan. CBR merupakan wujud kerjasama antara insan kampus dengan masyarakat untuk perubahan sosial manfaat keberadaan kampus dapat dirasakan.

Ketiga, Service Learning (SL). Yaitu, langkah mentransformasikan mata kuliah yang diajarkan pada perguruan tinggi ke dalam tatanan sosial.

UIN Alauddin Makasar dan UIN Sunan Ampel masing-masing menggandeng delapan ormas untuk bersama-sama membangun kesadaran perubahan dengan agenda yang berbeda-beda, antara lain: kesetaraan jender, clean government, ekonomi, dan kerukunan. Adapun organisasi yang terlibat antara lain FITRA, WALHI, Maarif NU, dan Muhammadiyah.

“Ke depan, UIN Sunan Ampel dan UIN Alauddin Makassar akan mendiseminasikan pendekatan KUM ini kepada PTKI lainnya,” ujar Amsal.

Dikti telah mendiseminasikan produk SILE seperti panduan teknis tentang CBR, SL, dan ABCD kepada penerima bantuan pengabdian masyarakat. Tahun 2016, sebanyak 191 dosen sudah diperkenalkan metode ABCD dan CBR di luar kedua perguruan tinggi mitra.

“Pengenalan CBR, ABCD dan SL adalah jalan mengintegrasikan Tridharma Perguruan Tinggi yang juga bisa digunakan untuk kampanye moderasi Islam dan penanggulangan radikalisme. PTKIN adalah pranata strategis melakukan edukasi dan budaya literasi masyarakat,” ujarnya.

To Top