Kampus

Kekerasan Terhadap Mahasiswa Masih Terjadi, Penyelenggara Pendidikan Harus Diberi Sanksi

Anggota Komisi X DPR Dony Ahmad Munir

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Jika masih terjadinya kekerasan kepada mahasiswa, penyelenggara pendidikan perlu diberi sanksi. Apalagi kekerasan yang hingga menyebabkan jatuhnya korban tewas. Hal ini terkait dengan tewasnya tiga mahasiswa setelah mengikuti Diklatsar The Great Camping (TGC) yang digelar Mapala Universitas Islam Indonesia (UII) di Gunung Lawu, Jawa Tengah pada 13-20 Januari 2017 lalu.

“Harus ada punishment terhadap penyelenggara pendidikan, yang tidak melaksanakan peraturan dalam penyelenggaraan kegiatan, sehingga ada efek jera. Harapan kita, akan ada sanksi seperti menurunkan akreditasi,” kata Anggota Komisi X DPR Dony Ahmad Munir, Rabu (25/1/2017).

Ahmad juga meminta perlu adanya sistem yang membuat kekerasan tidak terjadi lagi. Kemenristekdikti, maupun penyelenggara pendidikan harus betul-betul memberikan perhatian pada kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan anak didiknya. Sistem itu harus menjamin keselamatan dan keamanan mahasiswa, sehingga tak ada lagi peristiwa yang menyebabkan kematian.

“Kemenristekdikti harus memonitor itu. Menjamin bahwa aturan dijalankan dengan baik. Penyelenggaranya pun harus menjalankannya dengan baik. Dan harus betul-betul koordinasi dalam menjalankan pengawasan. Misalnya sebelum acara, ada pengarahan dulu dari rektorat untuk mengedepankan keselamatan,” jelas Dony.

Kasus-kasus kekerasan kepada anak didik, seperti tewasnya taruna Sekolah Tinggi Pelayaran (STIP) terjadi beberapa waktu lalu, seharusnya menjadi contoh bagi penyelenggara pendidikan agar lebih hati-hati.

“Berarti ada yang salah dari sisi pengawasan. Kemudian pelaksananya pun mungkin ada keteledoran. Senioritas juga harus dihilangkan. Karena kejadian kekerasan bisa berawal dari situ,” pesan politisi asal dapil Jawa Barat itu, sembari meminta pihak berwajib menyelidiki kasus ini hingga tuntas.

To Top