Kesehatan

Manfaatkan Momentum TB Day, Yamali TB Deklarasikan Komitmen Komunitas Perangi TBC

MAKASSAR, EDUNEWS.ID – Momentum pekan peringatan hari tuberkulosis (TBC) se-dunia yang jatuh setiap tanggal 24 Maret dijadikan Sub Recipient (SR) Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (Yamali TB) Sulawesi Selatan untuk mendeklarasikan komitmen komunitas dalam peran penaggulangan TBC di Indonesia, khususnya wilayah Sulsel.

Deklarasi komitmen itu dilakukan usai penutupan kegiatan Pelatihan pengelola program TB Komunitas di hotel Pesonnna Makassar, Jumat (26/3/2021) kemarin.

Ketua Badan Pengurus Yamali TB, Kasri Riswadi menuturkan bahwa keterlibatan dan peran komunitas dalam upaya penanggulangan TBC adalah sebuah kepastian.

Persoalan TBC katanya, adalah hal klasik tapi tak kunjung usai sejak ditemukan 139 tahun lalu.

“Dibandingkan dengan Covid-19, TBC ini sudah ada sejak lama. Kenapa tak kunjung selesai karena banyak faktor, khususnya kesadaran dan keterlibatan lebih banyak pihak untuk menaggulanginya,” ujarnya.

Kasri menambahkan, bahwa selama ini program TBC sudah dijalankan secara maksimal oleh pemerintah melalui kementrian kesehatan dan jajarannya sampai pada tingkat layanan puskesmas.

Demikian halnya peran komunitas, telah berjalan namun masih belum maksimal.

“Deklarasi kali ini untuk merefleksi peran kami, dengan peningkatan upaya-upaya khususnya di tengah Pandemi Covid-19, serta pelibatan lebih banyak pihak lagi dalam memerangi TBC, baik dari dunia usaha, komuntas-komunitas, lembaga pendikan, anak-anak muda milenial, dan sebagainya,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yamali TB, Wahriyadi menambahkan bahwa lapran WHO Global TB Report tahun 2020, Indonesia memiliki beban 845.000 orang yang jatuh sakit karena tuberkulosis. Dengan angka kematian sebanyak 98.000 orang atau setara dengan 11 kematian per jam.

“Khusus di Sulsel berdasarkan data tahun 2020 Dinas Kesehatan, terduga TBC ada pada angka 62.839 kasus, yang memeriksakan diri hanya 57.171. Artinya masih ada 5.668 kasus yang belum jelas status dan keberadaanya, sebagai penyakit menular tentu ini ancaman karena 1 kasus TBC itu bisa menularkana ke 10-15 orang,” urainya.

Terpisah, penaggungjawab Program TBC Dinas Kesehatan Sulsel, Andi Julia Junus, mengonfirmasi bahwa tidak maksimalnya temuan dan perawatan kasus TBC dikarenakan terhambatnya kegiatan investigasi kontak, serta beban petugas TB yang ganda karena selama pandemik merangkap sebagai petugas Covid-19.

Uli sapaannya, berharap menaruh harapan komunitas dapat memberikan pengaruh lebih besar terhadap capaian kasus TBC yang belum ditemukan itu.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top