ABDULLAH HEHAMAHUA

Komitmen

Abdullah Hehamahua

Oleh: Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M.*

INTEGRITAS, EDUNEWS.ID – Alhamdulillah, kita berjumpa lagi hari ini di kolom integritas, seri kelima. Semoga selama sepekan yang lalu, anda sudah mempraktikkan kehidupan yang konsisten, di rumah, di jalan, di tempat kerja atau di mana saja anda beraktivitas setiap hari. Indi-katornya, sebagai pimpinan, anda tiba lebih dulu di kantor daripada anak buah. Anda pun pulang setelah semua karyawan sudah pulang. Sebab, anda tidak ingin dimur-kai Allah swt karena memerintahkan anak buah disiplin masuk kantor, tetapi anda sendiri tidak disiplin. Di rumah, beberapa menit sebelum masuk waktu maghrib, anda sudah siap-siap ke masjid/mushalla sambil mengajak anak atau cucu. Se-belumnya, anda hanya pandai menyuruh anak ke masjid/mushalla, tapi anda sendiri asyik di depan kaca teve. Dengan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan seperti itu, hari ini kita komunikasikan pilar ketiga dari integritas: Komitmen.

Perkataan komitmen, berasal dari bahasa Inggeris, commitment, yang berarti ”janji,”  ”tanggung jawab.”  Dalam kamus besar bahasa Indonesia, perkataan komit-men ditulis dengan istilah komit, yang artinya  ”mewajibkan diri.”  Sedangkan komit-men itu sendiri tidak mungkin hadir di diri seseorang jika dia tidak konsisten. Begitu pula halnya, sikap konsisten hanya ada di diri seseorang yang berperilaku jujur: jujur terhadap diri sendiri, jujur terhadap orang lain, dan jujur terhadap lingkungan. Oleh-nya, komitmen sebagai turunan dari perilaku jujur dan konsisten, mempunyai tiga indikator: setia terhadap perjuangan; berkinerja tinggi; dan berjiwa melayani.

Setia Terhadap Perjuangan
Ibu-ibu di kampung, berpanas-panas dan berhujan-hujan di tengah pematang sawah, menanam benih padi. Pasti, kaki dan tangannya berlumpur, kotor, dan berbau tak sedap. Bahkan, ada orang yang jijik terhadap lumpur. Tetapi, empat bu-lan kemudian, lumpur yang ada di pematang sawah itu, berubah menjadi nasi di atas meja makan. Ia juga bisa berbentuk ikan, sayur, buah, pakaian, asesori, buku-buku, bahkan kenderaan dan rumah ketika hasil panen dijual dan ditabung secara konsisten. Tapi, perhatikanlah, apakah ada seorang ibu yang makan atau sarapan lebih duluan dari anaknya.? Apakah ada seorang ibu yang mengenakan baju baru sementara anaknya mengenakan sepatu yang koyak ke sekolah.? Apakah ada seorang ibu yang mengenakan perhiasan emas kalau anaknya jalan kaki ke sekolah berkilo-kilo meter, apalagi tanpa uang jajan?

Semua itu dilakukan seorang ibu karena komitmennya ke diri sendiri dan ke Rabb-nya bahwa dia akan membesarkan anak-anaknya menjadi anak yang saleh dan salehah. Jadi, komitmen mewajibkan diri sendiri untuk menepati janji ketika kampanye Pilpres, Pemilu, Pemilukada, Munas atau Kongres. Jika tidak, maka presiden, wakil presiden, gubernur, bupati, walikota, Ketua Umum Parpol atau Ormas adalah orang yang tidak konsisten dengan ucapannya yang berarti tergolong pemimpinnya yang tidak jujur. Dalam bahasa kaki lima, mereka adalah pemimpin yang munafik.

Berkinerja Tinggi
Mustahil seseorang akan berkomitmen jika dia tidak konsisten. Mustahil pula seseorang akan konsisten kalau dia tidak berperilaku jujur. Loginya, jika seseorang berperilaku jujur, dia akan konsisten, kemudian komitmen atas janji-janjinya, maka dia akan menjadi seorang pribadi yang berkinerja tinggi. Apakah anda seorang yang berkinerja tinggi.? Perhatikanlah pohon kelapa yang di ada di pekarangan rumah atau di rumah tetangga. Jika tidak ada juga, kenanglah masa kanak-kanak dan remaja ketika di kampung halaman yang pasti ada pohon kelapanya. Mulai dari daun sampai akarnya, semua bermanfaat. Daunnya digunakan untuk membuat ketupat. Lidinya untuk sapu. Air kelapa muda, selain merupakan minuman segar, ia juga berjuga berfungsi sebagai penetralisasi racun dalam tubuh manusia. Air kelapa tua, bahan baku pembuat gula jawa. Isi kelapa bisa dibuat santan atau mentega. Ampas kelapa dijadikan pakan ayam.

Tempurung kelapa, selain untuk arang, ia bisa dibuat menjadi sendok, mangkok atau alat perhiasan. Sabut kelapa dapat dijadikan tali dan kesetan di rumah. Batang kelapa dijadikan jembatan atau tiang rumah. Sedangkan akar pohon kelapa, direbus, kemudian diminum, maka pinggang tidak hilang, tetapi sakit pinggang anda akan hilang. Subhanallah, betapa tingginya kinerja sebatang pohon kelapa. Jadi, jika anda ingin menjadi mahasiswa, karyawan, pengusaha atau pejabat yang berkinerja tinggi, belajarlah dari pohon kelapa. Maknanya, fungsi dan operasionalkan seluruh potensi yang ada di diri anda, di mana, kapan, dan dalam keadaan apa saja.

Berjiwa Melayani
Selain berfungsi sebagai komandan dan manajer, pemimpin juga berstatus sebagai pelayan. Pelayan yang melayani segala keperluan jamaah, karyawan, bawahan atau rakyat yang dipimpinnya. Rasulullah saw, setiap sore mendatangi ujung kota Madinah, menyuapi seorang pengemis buta. Pengemis ini seorang Yahudi yang setiap hari memaki-maki Nabi Muhammad. Mengapa Nabi Muhammad tetap secara konsisten memberi makan orang yang selalu menghinanya.

Sebab, Nabi Muhammad melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin yang harus melayani seluruh rakyatnya. Umar ibnu Khattab memikul sendiri karung berisi bahan makanan ke rumah seorang perempuan miskin di tepi kota Madinah. Beliau melakukan hal itu karena sebagai khalifah, diketahui ada warganya yang tidak mempunyai sesuatu yang bisa dimasak untuk anaknya yang terus menangis karena kelaparan.

Untuk memelihara komitmen sebagai seorang pejabat atau pimpinan, senan-tiasalah memerhatikan berita-berita orang meninggal karena tidak memiliki uang untuk membayar dokter atau uang deposito operasi. Simak  tayangan teve tentang mereka yang cuma mengkonsumsi nasi aking, atau sagu, keladi, singkong tanpa lauk. Perhatikan bagaimana keadaan pengungsi ketika terjadi banjir atau bencana alam.

Sewaktu menyaksikan tayangan itu, fikirkan, jika sekali waktu, anak cucu anda mengalami hal serupa. Setiap pejabat publik harus berfikir seperti itu karena gaji dan semua fasilitas yang dimiliki berasal dari pajak rakyat. Jika sampai di kesimpulan bahwa, anda tidak ingin anak cucunya mengalami hal-hal seperti yang dialami sebagian rakyat Indonesia yang miskin, bodoh, dan mengganggur, maka anda harus segera bangkit dari tidur. Segera laksanakan semua komitmen anda dalam bentuk program dan kegiatan yang ada di masing-masing profesi. Dengan komitmen seperti itu, anda akan menjadi seorang individu yang konsisten. Sementara orang yang konsisten adalah individu yang senantiasa jujur, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Kesimpulannya, komitmen terhadap perjuangan umat, bangsa, dan negara, jika setiap individu, khususnya pejabat dan Penyelenggara Negara melaksanakan tugas yang diamanahkan ke dirinya dengan penuh tanggung jawab, profesional yang menghasilkan output yang optimal dan outcome yang signifikan. Oleh karena itu, bagi mereka yang mau menjadi individu teladan, silahkan dimulai sekarang juga. Tetapi, jangan lupa untuk senantiasa senyum, di hati, kemudian pancarkan senyuman itu ke wajah anda.

Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M. Penasehat KPK Periode 2005-2013.

To Top