ABDULLAH HEHAMAHUA

Tahapan Pembentukan Integritas

Oleh: Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M.*

INTEGRITAS, EDUNEWS.ID – Setajam-tajamnya pisau, jika digunakan terus tanpa diasah, akan tumpul juga. Sebaliknya, setumpul-tumpul pisau, kalau terus diasah, akan tajam juga. Begitulah karakter seseorang, dapat dibentuk, baik oleh diri sendiri, orang lain atau lingkungan sekitarnya.

Ketika baru menikah sampai beberapa bulan, setiap pagi isteri saya “bernyanyi.” Sebab, dia menemukan kain sarung dan handuk yang saya gunakan habis mandi, berserakan di mana-mana. Saya lalu teringat sepenggal khutbah Rasulullah pada haji wadah, “jagalah perempuan.” Saya lalu berjanji ke diri sendiri, tidak akan mem-buat isteri jengkel disebabkan kain sarung dan handuk yang berserakan di mana-mana. Sejak itu sampai hari ini, sehabis mandi, handuk saya letakkan di tempat gan-tungan handuk. Kain sarung saya lipat dengan rapih dan meletakkannya di atas bantal. Artinya, wajah atau bentuk fisik seseorang, tidak dapat diubah, tetapi watak, karakter atau perilaku dapat diubah atau dibentuk menjadi pribadi berintegritas.

Berhubung masyarakat Indonesia sedang mengalami krisis identitas yang akut, khususnya mereka yang bertanggung jawab dalam pengelolaan pemerintahan dan kenegaraan, maka pembentukan integritas di kalangan PNS dan karyawan swasta menjadi sangat urgen. Dalam membangun atau melahirkan integritas pegawai, me-nurut Novi, hal pertama yang harus dilakukan adalah: “Membangun sistem orga-nisasi yang mapan yang berfungsi mengawasi tindak tanduk setiap pegawai. Sistem tersebut harus melahirkan budaya organisasi dan budaya kerja yang bertapak di atas dasar-dasar integritas dan profesionalisme. Untuk menopang budaya orga-nisasi dan budaya kerja pegawai, tahap berikutnya adalah penyusunan SOP dan Kode Etik yang berfungsi mengawasi semua kegiatan, tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang ada dan disertai dengan perilaku yang juga berintegritas. Untuk itu, perlu didefinisikan standar perilaku integritas yang diterap-kan organisasi terkait. Standar perilaku ini menjadi acuan dalam proses wawancara terarah terhadap pegawai atau pimpinan. Tahapan berikutnya adalah standar perta-nyaan yang akan diajukan dalam proses wawancara. Pertanyaan tersebut haruslah dibuat senetral mungkin tanpa menimbulkan tendensi tertentu, sehingga kandidat dapat merespon dengan lugas.

Dari pendapat di atas, dapat disederhanakan, untuk melahirkan PNS, karyawan swasta, anggota legislative, dan penegak hukum yang berintegritas, program utama dan pertama adalah membangun sistem di masing-masing lembaga. Barangkali, ada orang kampung yang kurang paham, apa itu “sistem”. Saya selalu memberi ilustrasi dengan menyebutkan cara kerja lift. Untuk menggunakan jasa lift, sese-orang harus menekan tombol di dekat pintu lift. Kalau mau naik, tekan panah yang mengarah ke atas. Sebaliknya, kalau mau turun, tekan panah yang mengarah ke bawah. Selama tombol tidak ditekan, pintu lift tidak terbuka, kecuali ada penumpang yang keluar dari dalam lift.

Berkaitan dengan lift, saya mempunyai pengalaman menarik ketika berada di Makkah (2015). Saya harus mengajari seorang penghuni hotel yang tidak tahu cara masuk lift. Keesokan harinya, saya juga harus mengajari seorang perempuan tua yang tidak tahu cara keluar dari lift. Dua peristiwa yang sama substansinya ini – cara menggunakan jasa lift – setiap orang atau organisasi harus mempunyai, paham, dan bisa mempraktikkan apa yang disebut SOP, standar operasi baku. Jadi, setelah menekan tombol masuk, kemudian tombol lantai yang dituju, baru tombol tutup lift ditekan. Masalahnya ketika orang berebut masuk sampai lift penuh sesak. Apa yang terjadi? Bunyi alarm, dan pintu lift tidak mau tertutup. Siapa pun penumpang lift, mulai dari bayi sampai kakek-kakek, laki-laki, perempuan, sampai banci, yang menggunakan jubah dan purdah sampai yang stengah telanjang, pintu lift tetap tidak bisa tertutup. Bahkan penumpangnya ada yang tamatan SD sampai professor, ada satpam sampai presiden, pintu lift tetap tidak bisa tertutup. Jalan keluarya? Harus, mesti, wajib hukumnya ada yang keluar dari dalam lift. Sebab, jumlah penumpang melebihi kapasistas daya angkut lift. Begitu ada beberapa orang yang keluar, tanpa ditekan tombol, pintu lift tertutup dengan sendirinya. Itulah yang namanya sistem. Ada aturan bakunya. Tersedia petunjuk pelaksanaannya. Ada budaya kerja serta pengawasannya. Terakhir, ada reward and punishment. Itulah tahapan pemben-tukan integritas seseorang, mulai dari rakyat biasa sampai presiden.

Kesimpulannya, tahapan pembentukan dan perawatan integritas yang efektif dan efisien di kementerian dan perusahaan adalah: (a) memiliki sistem serta metode rekrutmen dan seleksi pimpinan/pegawai yang handal sehingga mereka merupakan individu unggulan. (b) mempunyai budaya kerja organisasi yang unggul atas dasar sistem yang komprehensif yang memiliki perangkat-perangkat: SOP, Kode Etik, dan Peraturan Kepegawaian yang penyusunan dan pelaksanaannya, transparan dan akuntabel karena didukung sistem IT yang canggih. (c) pengawasan serta reward and punishment yang berjalan secara kontinyu, transparan dan akuntabel.

Bagaimana tahapan pembentukan integritas dalam budaya Islam.? Datanglah ke masjid atau mushalla yang terdekat. Perhatikan SOP shalat berjamaah. Sekali-pun hanya sedetik, kalau belum waktunya, Bilal tidak boleh melaungkan adzan. Ketika iqomah, jamaah serempak berdiri, berbaris lurus, rapat, dan rapih. Imam maju ke depan menghadap jamaah, memerhatikan dari kanan ke kini, dari depan sampai ke belakang. Setelah memastikan seluruh jamaah berdiri lurus, rapat, dan rapih, imam menghadap kiblat, langsung bertakbir. Serempak pula, makmum bertakbir. Ketika imam rukuk, makmum rukuk. Begitu pula halnya dengan gerakan imam yang lain. Makmum tidak boleh mendahului gerakan imam, sejak takbir pertama sampai salam. Jika imam salah baca, terlupa ayat atau ketinggalan rukun shalat, detik itu ju-ga, makmum menegur. Jika imam batal wudu’, langsung meninggalkan tempat, di-gantikan makmum yang tepat berada di belakangnya. Rewardnya, yang datang du-luan dan di shaf pertama, pahala lebih tinggi dari yang datang belakangan dan ber-ada di shaf terakhir. Punishmentnya, neraka tempat tinggalnya (QS Al Ma’un: 4), minimal wajahnya menjadi keledai di akhirat (Hadis).

Jadi, yang mau berintegritas, datangilah masjid/mushalla (khusus lelaki), shalat berjamaah lima kali sehari semalam. Oh ya, jangan anda benci Arab karena kata Rasulullah, beliau orang Arab, al-Qur’an berbahasa Arab, dan bahasa perbualan di surga adalah bahasa Arab. Jangan juga lupa untuk tetap senyum, di hati!

Dr. H. Abdullah Hehamahua, S.H., M.M. Penasehat KPK Periode 2005-2013.

To Top