Komunitas

Elemen Gerakan Maros Protes FGD ‘Maros Kota Literasi’ yang Diadakan KNPI

Gerakan Pemuda Literasi (GPL) Maros yang terdiri dari HPPMI Maros, IMM,HMI,GMNI, Sapma Pemuda Pancasila dan Komunitas IT (Komit), mengadakan konferensi pers terkait evalusi Pelaksanaan Focus Grup Discussion (FGD) Maros

MAKASSAR, EDUNEWS.ID-Gerakan Pemuda Literasi (GPL) Maros yang terdiri dari HPPMI Maros, IMM,HMI,GMNI, Sapma Pemuda Pancasila dan Komunitas IT (Komit), mengadakan konferensi pers terkait evalusi Pelaksanaan Focus Grup Discussion (FGD) Maros kota literasi yang diadakan oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Maros dan beberapa komunitas yang diadakan di Ruang Pola kantor Bupati Maros pada Selasa 24 Januari 2017 lalu. Konfrensi pers tersebut diadakan di Florian Cafe, kota Maros pada Rabu (25/1/2017)

Chaerul Syahab yang juga Ketua Umum HPPMI Maros mengatakan, bahwa ada beberapa indikasi dalam pelaksanaan kegiatan FGD tersebut diantaranya logo organisasi yang terpampang tetapi KNPI tidak melakukan koordinasi dan konfirmasi.

“Seharunya ketika dilibatkan, harus ada rapat khusus terkait konsep kegiatannya. Begitu pun dalam pembentukan tim kerja yang mayoritas diisi oleh unsur SKPD dan KNPI secara sepihak, kami minta pemda Maros membatalkan nama – nama tim tersebut,” bebernya.

Sementara itu, dari perwakilan HMI Maros mengatakan konsep yang dihasilkan FGD tersebut sebenarnya sudah ada sebelumnya.

“Harusnya yang dirumuskan bagaimana menumbuhkan minat masyarakat dengan melakukan pendekatan pola culture. Ini harus didorong oleh masyarakat melalui model botton up. Kami juga sayangkan Dinas pemuda dan Olahraga tidak dilibatkan,” papar Alryansyah Nasir, Ketua Umum HMI Cabang Butta Salewangang Maros.

Sementara itu Ketua IMM Maros, Rizal Pauzi mengatakan bahwa sangat disayangkan FGD ini tidak memberikan ruang kepada organisasi kepemudaan untuk menyampaikan gagasannya.

“Apalagi lagi gagasan ini telah didiskusikan kurang lebih setahun bersama lintas OKP. Apa yang dipaparkan dan dirumuskan di forum FGD ini tidak berbasis hasil survei serta tak sesuai dengan aspirasi masyarakat,” umbar Rizal.

Padahal kota literasi sasarannya untuk masyarakatkan literasi, jadi harus berbasis partisipasi. Bukan dalam bentuk program yang ujung – ujungnya bagi – bagi proyek.

“Ini baru beberapa organisasi kepemudaan dan komunitas yang hadir. Tapi Insya Allah akan banyak yang akan bergabung. Kita rencana akan melakukan beberapa model kegiatan salah satunya dengan mengadakan kembali FGD Kota Literasi GPL ini tujuannya untuk konsisten bergerak wujudkan Maros kota literasi,” jelas Mahasiswa Pascasarjana Unhas ini.

RLS

To Top