Opini

Hijrah dan Kekuasaan; Tafsir Sosiologi Islam terhadap Sejarah Peradaban Nusantara

Ikhsan Kurnia

Iksan Kurnia*  

OPINI, EDUNEWS.DI – Ada banyak fakta sejarah yang sungguh menarik tentang Nusantara, yang jika dikaji lebih kritis akan membuat kita terpesona.

Pertama, peradaban nusantara terbangun dari sebuah aktivitas hijrah. Sejarah mencatat bahwa kerajaan pertama di Nusantara, yakni Salakanagara (150-362 Masehi), pertama kali didirikan oleh seorang imigran yang berasal dari Dinasti Pallawa di India yang bernama Dewawarman.Ia hijrah dari India ke Pandeglang, lalu menikah dengan Dewi Pwohaci Larasati, anak Aki Tirem sang penguasa pandeglang ketika itu. Kisah ini sungguh menarik karena seolah sejarah berulang, dimana kisah ini nyaris mirip dengan kisah Nabi Musa yang bermigrasi dari Mesir ke Negeri Madyan/Midian, yang kemudian dinikahkan dengan Zafura, anak Nabi Syuaib. Bahkan, kedua kisah hijrah sekaligus romance ini (Kisah Dewawarman dan Nabi Musa), memiliki persinggungan genealogis dimana Dewawarman (Dinasti Pallawa di India) masih termasuk keturunan dari bangsa Madyan (bangsa Nabi Syuaib), yang tidak lain merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim dari anaknya, Madyan/Midian (hal ini akan dibahas nanti).

Kedua, Islam masuk ke nusantara, sama dengan Hindu-Budha masuk ke nusantara, yakni dengan peristiwa hijrah. Uniknya, Islam yang datang belakangan, dengan sangat mudah dapat diterima tanpa ada konflik sama sekali dengan penguasa setempat yang beragama Hindu-Budha. Fakta ini, jika dikaji lebih jauh, tidak hanya disebabkan oleh cara dakwah para wali yang lembut dan damai (bil hikmah wal mauidhah hasanah), tapi juga karena ada persinggungan genealogi ajaran antara Hindu-Budha dan Islam. Hal ini bukan berarti Islam membenarkan konsep ajaran Hindu-Budha, namun hasil penelitian sejarah, genealogis dan linguistik banyak menemukan adanya koneksi historis antara ketiga agama tersebut, dimana semuanya merujuk kepada nama Nabi Ibrahim. Beberapa penelitian mengatakan bahwa Dewa Brahma dalam terminologi Hindu, adalah nama yang sama dengan nama Ibrahim/Abraham. Meskipun teori ini masih bisa diperdebatkan, namun fakta sejarah mengatakan bahwa Islam dapat dengan sangat mudah diterima oleh masyarakat nusantara yang beragama Hindu-Budha.

Ketiga, proses penguasaan nusantara, dilakukan dengan cara yang elegan, baik oleh orang Hindu maupun Islam. Dewawarman, menjadi penguasa bukan karena menyerang Aki Tirem, namun dengan cara menikahi anaknya, Pwahaci Larasati. Demikian pula Islam, dimana para ulama dan wali banyak yang menikahi putri raja. Sebutlah misalnya Maulana Ishak yang menikahi Dewi Sekardadu (anak raja Blambangan), Maulana Malik Ibrahim yang menikahi Putri kerajaan Campa, dan para wali songo yang menikahi putri-putri raja. Pastinya, orang-orang tersebut, bukanlah orang-orang sembarangan. Fakta ini sekaligus menjadi kritik para sejarawan sekuler yang mengatakan bahwa Islam masuk ke nusantara oleh para pedagang yang “nyambi” (sambilan/freelance) menyebarkan Islam. Pendapat ini sungguh tidak logis. Bahwa memang ada para pedagang Islam yang masuk ke nusantara, terutama dari Gujarat, namun penyebaran Islam lebih banyak diperankan oleh para ulama/wali yang memang datang ke nusantara dengan sengaja dan totalitas untuk berdakwah.

Pandangan Sosiologi Islam
Dari beberapa fakta dan teori sejarah tersebut, tulisan ini akan membahas tentang Sejarah peradaban nusantara dari sudut pandang sosiologi Islam. Sosiologi Islam memahami perubahan sejarah masyarakat dari sebuah world view yang berbasis pada kebijaksanaan Islam (Islamic wisdom), baik yang bersumber dari pandangan normatif (normative view) maupun pelajaran/ibroh dari peristiwa sejarah Islam (Islamic history) di masa lalu. Pemahaman reflektif ini menjadi penting, agar peristiwa dan fakta-fakta sejarah tidak hanya berupa kronologi dan berisi informasi, namun juga sarat akan nilai-nilai kehidupan.

Peradaban nusantara terbentuk dari sebuah transformasi nilai yang dibawa dari luar melalui aktivitas hijrah. Hijrah secara literal bermakna berpindah. Kata hijrah tidak dapat dipisahkan dari kata bergerak (harokah). Pergerakan merupakan syarat terjadinya perubahan. Orang-orang yang melakukan hijrah, adalah orang-orang yang menghendaki perubahan, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Menurut Ali Syariati, dua puluh peradaban in born dari peristiwa hijrah, sehingga tidak ada suku primitif manapun yang berkembang tanpa melalui hijrah. Sejarah nabi-nabi adalah sejarah yang diwarnai dengan peristiwa hijrah. Jika Nabi Ibrahim tidak hijrah membawa Sarah dan Ismail ke Makkah, maka tentu tidak akan ada air zam-zam, tidak ada ibadah haji, tidak ada peradaban di Makkah. Demikian pula kisah Nabi Musa yang hijrah ke negeri Madyan/Midian, yang setelah hijrahnya itu, ia mendapatkan wahyu kenabian. Rosulullah Muhammad saw hijrah dari Makkah ke Madinah dan menjadikan Madinah sebagai masyarakat madani – dalam bahasa akademis disebut civil society – yang oleh semua sejarawan diakui sebagai masyarakat yang paling beradab dalam sejarah manusia.

Sejarah hijrah juga dimiliki oleh nusantara. Dewawarman, raja pertama Salakanagara, ternyata mewarisi “fitrah hijrah” dari nenek moyangnya. Tentu ini lebih dari sebuah kebetulan (more than mere coincidence). Hijrah merupakan sebuahsunnatullah untuk terbentuknya sebuah peradaban baru. Jika kita mengkaji sejarah peradaban ummat manusia secara utuh, maka akan kita dapati bahwa peradaban bangsa yang satu dengan bangsa yang lain tidaklah saling terpisah satu sama lain. Semuanya memiliki persinggungan genealogi (genealogy connection). Demikian pula dengan Dewawarman. Para pengkaji genealogi menemukan bahwa Dewawarman ternyata memiliki silsilah ke Nabi Ibrahim.

Jika teori ini benar, maka peradaban nusantara tidak lain merupakan produk dari sebuah proses sejarah yang panjang, yang tidak terlepas dari sejarah Islam, dimana Nabi Ibrahim sebagai leluhur nusantara merupakan bapak para nabi (abu al-anbiya). Nabi Ibrahim telah diberikan karunia oleh Allah berupa keturunan-keturunan yang hebat dan menjadi arsitek-arsitek peradaban.

Allah berfirman dalam Surat Al Baqarah: 124
“Dan (ingatlah) tatkala telah di­uji Ibrahim oleh TuhanNya dengan beberapa kalimat, maka telah dipenuhinya semuanya. Diapun berfirman : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan engkau Imam bagi manusia. Dia berkata: Dan juga dari antara anak-cucuku. Berfirman Dia: Tidaklah akan mencapai perjanjianKu itu kepada orang-orang yang zalim.”

Teori ini tidak berhenti sampai di wilayah genealogi genetik (keturunan), namun juga ke wilayah genealogi ajaran, antara Hindu-Budha dan Islam. Akhir-akhir ini sudah mulai banyak peneliti yang menyatakan bahwa figur Dewa Brahma dalam ajaran Hindu sesungguhnya dinisbatkan kepada sosok Nabi Ibrahim. Salah satu peneliti yang populer adalah Gene D Matlock B.A., M.A. dalam papernya yang berjudul ‘Who Was Abraham”. Ia menemukan ada banyak persamaan antara sosok Brahma dan Ibrahim, baik dari sumber-sumber ajaran kedua agama hingga persamaan nama-nama lokasi.

Kesimpulan
Jika semua teori diatas benar, maka sungguh wajar jika Syaikh Jumadil Kubro yang berhijrah dari Samarkand untuk menyebarkan Islam ke nusantara di abad ke-14 Masehi, diterima dengan sangat baik oleh Hayam Wuruk dan Gadjah Mada pada waktu itu. Seolah-olah mereka bertemu bagai saudara yang terpisah berabad-abad lamanya. Bahkan, anak-anaknya yang bernama Maulana Ishaq dan Maulana Malik Ibrahim, dengan sangat mudahnya dinikahkan dengan para putri raja: Maulana Ishaq dengan putri Raja Blambangan, sementara Maulana Malik Ibrahim dengan putri raja Campa. Di kemudian hari, para ulama keturunan dari Syaikh Jumadil Kubro berhasil mengislamkan nusantara, dengan Kerajaan Demak dan Samudera Pasai sebagai pusatnya.

Sampai disini, kita sudah tidak bisa memungkiri bahwa peradaban nusantara dibangun dari sebuah aktivitas hijrah oleh Dewawarman dari India di abad ke-2 Masehi, dan hijrah oleh para ulama Islam di beberapa abad setelahnya. Kedua agama tersebut datang dengan cara yang elegan dan jauh dari jalan kekerasan, bahkan Islam dapat diterima dengan jalan pernikahan dan akulturasi budaya. Kekuasaan Islam di nusantara dibangun atas dasar ilmu/ajaran dan titik temu genealogi. Dimana proses ini juga terjadi dalam peradaban-peradaban yang pernah ada sebelumnya. Nabi Musa yang merupakan keturunan dari Yakub bin Ishak bin Ibrahim dari istrinya Sarah/Sarai, bertemu dengan Zafura binti Syuaib yang merupakan keturunan dari Madyan/Midian bin Ibrahim dari istrinya Qanturah/Ketura.

Indonesia, sebagai nusantara modern, tidak bisa terlepas dari sejarah panjang tersebut. Islam sebagai agama yang telah membangun peradaban nusantara selama 14 abad, tidak boleh dilupakan. Peradaban Barat yang datang melalui jalan imperialisme dan kolonialisme, tidak dapat disamakan dengan peradaban Islam yang hijrah dengan cara damai. Kesadaran historis ini yang tidak boleh lepas dari anak-anak muda saat ini. Wallahu’alam.

Ikhsan Kurnia
Penulis

To Top