Literasi

Kegagalan Retorika Benny Mamoto Berujung Hujatan Warganet

Oleh : Arie Purnama*

OPINI, EDUNEWS.ID-Kasus penembakan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J tak henti menyita perhatian publik. Brigadir J dilaporkan tewas tertembak pada 8 Juli lalu di rumah dinas eks Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Ada banyak bias yang terjadi dalam kasus tersebut. Mulai dari kesimpangsiuran kronologi sampai ketidaksinkronan versi satu dengan yang lainnya. Bahkan kematian Brigadir J baru diumumkan pihak kepolisian kepada publik usai 3 hari pasca kejadian, tepatnya, Senin (11/7/2022).

Berdasarkan versi polisi, Brigadir J diduga masuk ke kamar istri Sambo, yakni Putri Candrawathi. Ia dituding akan melakukan pelecehan seksual. Aksi Brigadir J juga dibarengi dengan todongan pistol yang menyebabkan Putri berteriak. Teriakan tersebut lantas didengar oleh Bharada E yang sedang berjaga di sana.

Bharada E kemudian masuk dan memastikan keadaan yang terjadi. Brigadir J yang panik membalas pertanyaan Bharada E dengan tembakan. Setelahnya terjadi baku tembak antara keduanya. Brigadir J disebut mengeluarkan tembakan sebanyak tujuh kali dan dibalas oleh Bharada E sebanyak lima kali.

Di antara banyaknya aspek yang membuat kening berkerut, kehadiran Benny Mamoti selaku Ketua Harian Kompolnas tidak lepas dari sorotan. Pada awalnya, dirinya merasa tidak ada yang janggal dalam peristiwa yang menghilangkan nyawa Brigadir J. Ia mengatakan, peristiwa tersebut murni aksi saling tembak antara Brigadir J dan Bharada E. Cerita yang disampaikan Benny Mamoti senada dengan yang diungkapkan pihak kepolisian.

“Terjadi baku tembak yang meyebabkan hilangnya nyawa,” tegasnya dikutip dari  Kompas TV pada 13 Juli 2022.

Jika ditelisik berdasarkan kajian komunikasi, penuturan yang disampaikan Benny Mamoto adalah sebuah retorika. Retorika dilakukan untuk meyakinkan dan mempengaruhi khalayak. Sang komunikator perlu memutar otak mengemas pesannya agar bisa mencapai tujuan tersebut. Sebab, jika pengemasan pesan tidak tepat, maka dapat menjadi bumerang bagi pelakunya. Peristiwa tersebut sayangnya terjadi dalam kasus Benny Mamoto.

Merujuk pada teori retorika Aristoteles, retorika yang dilakukan Benny Mamoto terdiri dari beberapa aspek. Rinciannya sebagai berikut:

  1. Inventio (Penemuan)

Tahap ini merupakan proses penggalian topik dan penelitian khalayak demi menyesuaikan metode persuasi yang paling tepat. Dalam hal ini, Benny Mamoto yakin bahwa khalayak dapat secara mudah mempercayai skenario awal yang disampaikan pihak kepolisian.

  1. Dispositio (Penyusunan)

Tahap ini merupakan pengorganisasian pesan. Benny Mamoto seharusnya dapat menyusun narasi yang tak memihak serta mengusung bukti-bukti pembanding yang ada di lapangan.

  1. Elocutio (Gaya)

Tahap ini merupakan pemilihan diksi serta kalimat yang tepat untuk mengemas pesan. Sayangnya, pengemasan pesan Benny Mamoto tampak masih mentah. Ia menyampaikan hasil penyelidikan pihak kepolisian secara utuh. Ini tampak dari gaya bicara Benny yang seolah telah melakukan cek TKP, “saya turun langsung, melihat langsung bukti-bukti yang ada termasuk foto-foto yang ada,”. Pada akhirnya, hal ini justru tampak seperti pembohongan publik.

  1. Memoria (Memori)

Pada tahap ini, pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikan secara terorganisir.

  1. Pronuntiatio (Penyampaian)

Pembicara menyampaikan pesannya secara langsung ditunjang dengan komunikasi nonverbal. Pembicara harus memperhatikan suara (vocis) dan gerakan-gerakan anggota badan (gestus moderatio cum venustate ). Adapun langkah yang ditampilkan Benny mamoto sangat santai dan cenderung yakin dengan peristiwa yang terjadi. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan publik bahwa pernyataannya benar.

Saat kebenarannya sedikit demi sedikit terungkap, publik pun geram dengan Benny Mamoto. Benny mamoto dihujat habis-habisan oleh warganet lantaran ucapannya tak terbukti. Padahal, tujuan awal retorika adalah membina pengertian dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat lewat kegiatan bertutur. Bukan membuat kegaduhan dan cenderung menggiring publik ke informasi yang salah.

 

Arie Purnama, Mahasiswa Magister Ilmu komunikasi Universitas Lampung,Alumni Universitas Muhammadiyah Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); });