Ekonomi

Cegah Rupiah Melemah Berkepanjangan, Faktor Fundamental Ekonomi Harus Dibenahi

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pemerintah diminta mencegah nilai tukar rupiah terus melemah berkepanjangan dengan membenahi faktor fundamental ekonomi Indonesia. Sebab, sudah lebih dari enam tahun mata uang RI tersebut terus melemah dan tidak pernah mendekati level terkuat setelah krisis 2008, yakni pada 2 Agustus 2011 di posisi 8.460 rupiah per dollar AS.

Sejumlah kalangan mengemukakan depresiasi rupiah yang berkepanjangan itu mengindikasikan ada masalah struktural perekonomian nasional yang belum tertangani dengan baik, bukan cuma karena faktor eksternal.

Sementara itu, pada Rabu (14/3/2018), di pasar spot, rupiah naik tipis 0,13 persen ke level 13.734 rupiah per dollar AS. Kurs tengah rupiah Bank Indonesia (BI) juga mencatat rupiah menguat 0,13 persen menjadi 13.739 rupiah per dollar AS.

Dalam dua pekan Maret ini, mata uang RI terkikis 0,27 persen, sedangkan sepanjang tahun ini (1 Januari–1 Maret), rupiah terdepresiasi 1,5 persen. Dibandingkan dengan posisi terkuatnya pada 2 Agustus 2011, rupiah hingga kini terpangkas 38,4 persen.

Peneliti Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan pemerintah semestinya tidak selalu menuding faktor eksternal yang bersifat jangka pendek karena pelemahan rupiah sudah berlangsung lama, lebih dari enam tahun.

“Makanya perlu ditelaah pula kemungkinan adanya masalah struktural ekonomi kita yang membuat rupiah cenderung melemah berkepanjangan,” ungkap Bhima, di Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Menurut dia, pemerintah mesti segera mengantisipasi agar terhindar dari krisis akibat terus melemahnya rupiah tersebut. Solusi pertama, cadangan devisa diperkuat melalui peningkatan ekspor nonmigas dan sektor pariwisata, bukan hanya mengandalkan standby loan.

Bhima merujuk pada krisis keuangan 1998. Saat itu, cadangan devisa Indonesia yang jumlahnya relatif kecil terkuras untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. “Akhirnya nggak kuat menahan gejolak tadi,” katanya.

Solusi kedua, imbuh Bhima, BI perlu menaikkan suku bunga acuan sampai 50 basis poin untuk menaikkan return atau imbal hasil instrumen investasi yang ada di Indonesia. “Jadi, kalau asing melihat BI menaikan bunga acuan, mereka akan berpandangan yield surat utang di Indonesia tambah menarik, sehingga nggak jadi melepas investasinya,” jelas dia.

Ketiga, memulihkan kepercayaan investor dengan cara memperkuat fundamental ekonomi. Sebab, fundamental ekonomi menjadi salah satu faktor yang menentukan keputusan investasi.

“Artinya, pertumbuhan ekonomi kita harus ditingkatkan lebih dari 5,1 persen. Kemudian, inflasi harus lebih rendah dari target dan terakhir industri diberikan insentif lebih besar. Karena kalau paket kebijakan ekonomi berjalan, sebenarnya secara otomatis modal bakal masuk ke Indonesia,” tukas Bhima.

To Top