Ekonomi

Intervensi tak Bisa Perbaiki Posisi Rupiah

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Guna memperbaiki posisi kurs rupiah yang terus melemah belakangan ini dinilai tidak cukup dengan intervensi pasar oleh Bank Indonesia (BI). Intervensi hanya akan menguras devisa negara dan tidak memperkuat kedudukan mata uang RI itu dalam jangka panjang.

Ekonom Universitas Padjajaran, Ina Primiana, mengatakan untuk mengantisipasi agar pelemahan rupiah tidak berkepanjangan, pemerintah harus mengambil kebijakan jangka panjang.

“Jangan cuma bisa melakukan intervensi, karena akan menghabiskan devisa. Harus ada gebrakan yang friendly dengan investor, salah satunya kemudahan berinvestasi langsung,” ujar Ina, Kamis (8/3)/2018.

Menurut dia, kebijakan yang bersahabat dengan investor itu harus bersifat jangka panjang. Untuk itu, harus ada kepastian hukum, perizinan murah, dan tidak berbelit-belit. “Jangan ada kebijakan yang berubahubah. Kalau tidak konsisten kita jadi rentan terhadap perubahan global,” jelas Ina.

Buktinya, lanjut dia, baru saja muncul kabar Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menaikkan suku bunga, Fed Fund Rate, rupiah langsung loyo. “Belum lagi nanti kalau ditambah dengan imbas perang dagang dan gaduh politik dalam negeri,” tukas dia.

Pada perdagangan di pasar spot, Kamis, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,41 persen dibandingkan hari sebelumnya menjadi 13.816 rupiah per dollar AS. Ini merupakan posisi terendah sejak Januari 2016.

Tidak cuma di pasar spot, pada kurs tengah BI rupiah juga melemah 0,08 persen ke posisi 13.774 rupiah per dollar AS. Ina mengungkapkan tekanan depresiasi rupiah belakangan ini memang lebih banyak dipicu oleh faktor global, yakni rencana kenaikan suku bunga acuan The Fed.

Namun, fenomena pelemahan seperti ini sudah terlalu sering terjadi. Oleh karena itu, Indonesia harus mencari strategi alternatif agar pelemahan rupiah tidak berkelanjutan. Menurut Ina, hal itu bisa dilakukan kalau investasi tidak hanya bertumpu pada hot money.

“Karena hot money jadi sebentar saja. Mereka kabur ketika The Fed akan menaikkan suku bunga,” papar dia.

Terkait dengan perang dagang, Ina memaparkan hal itu bakal tak terhindarkan karena Tiongkok juga akan melakukan sejumlah balasan bila Presiden AS, Donald Trump, meluncurkan serangan dagang pertamanya, yakni menaikkan tarif impor baja dan aluminium pada akhir pekan ini.

“Memilih perang dagang tentu sebuah tindakan yang salah. Pada akhirnya Anda hanya akan merugikan orang lain dan juga diri sendiri,” kata Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, di Beijing, Kamis (8/3/2018).

“Tiongkok tentu saja akan memberi respons yang pantas dan perlu,” tambah dia.

To Top