Ekonomi

Kenaikan Bunga Acuan BI Dinilai Solusi Penguatan Rupiah

 
 
JAKARTA, EDUNEWS.ID – Bank Indonesia (BI) dinilai tidak bisa terus menerus melakukan intervensi pasar dengan menghamburkan cadangan devisa yang relatif terbatas untuk meredam tekanan depresiasi kurs rupiah.
Oleh karena itu, BI sudah saatnya mempertimbangkan penaikan suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate, guna menjaga agar spread dengan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate (FFR) tidak semakin sempit.
Dengan begitu, rupiah masih dianggap menarik bagi investor sehingga mencegah terjadinya pelarian modal atau capital outflow. Sementara itu, Bloomberg mencatat pada perdagangan di pasar spot, Selasa (24/4/2018), nilai tukar rupiah menguat 0,62 persen ke level 13.889 rupiah per dollar AS.
Namun, kurs tengah BI menunjukkan rupiah masih berada di posisi 13.900 rupiah per dollar AS, atau terdepresiasi 0,04 persen dibandingkan posisi Senin (23/4/2018). Ekonom Universitas Ibnu Khaldun, Ahmad Iskandar, mengatakan pelemahan rupiah belakangan ini antara lain dipengaruhi oleh keputusan BI yang menahan suku bunga acuan di level 4,25 persen.
Padahal, beberapa negara tetangga sudah mengikuti langkah The Fed dengan mengetatkan kebijakan moneternya. “Keputusan BI menahan suku bunga acuan membuat rupiah ‘dihukum’ oleh pelaku pasar,” jelas dia, di Jakarta, Selasa (24/4/2018).
Menurut dia, jika BI tidak menaikkan suku bunga acuan maka bisa terjadi kepanikan di pasar keuangan karena selisih antara bunga acuan BI dengan The Fed semakin kecil.
Apalagi tahun ini, The Fed berencana menaikkan FFR hingga tiga kali lagi dari level 1,5–1,75 persen saat ini. Hal ini menandakan era bunga rendah sudah berakhir.
“Rupiah tidak tertutup kemungkinan bisa tembus level 15 ribu rupiah per dollar AS. Apalagi memasuki tahun politik ini, rupiah berpeluang masih akan di bawah tekanan. Jadi, BI memang harus hatihati mengambil keputusan,” papar Iskandar.
Dia mengakui BI memang menghadapi dilema dalam mengambil keputusan untuk stabilisasi rupiah. Apabila terus intervensi pasar maka cadangan devisa akan tergerus sehingga membahayakan perekonomian. Namun, jika BI menaikkan bunga acuan maka tidak sejalan dengan target pemerintah untuk menurunkan bunga kredit.
“Suku bunga rendah itu hanya dengan bunga acuan yang rendah. Tapi, bunga acuan BI yang rendah nggak bisa terus dipertahankan kalau rupiah tertekan dollar terus,” kata Iskandar.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati, mengatakan pergerakan rupiah sebenarnya juga bergantung pada supply and demand. Namun, cadangan devisa Indonesia yang semu karena lebih banyak berasal dari investasi asing langsung, bukan dari ekspor, membuat pasokan dollar di pasar terbatas.
“Jadi, sekalipun cadangan devisa kita dianggap tinggi, tetapi bisa jadi supply dollar di pasar itu kering karena rendahnya kinerja ekspor,” jelas Enny.
Ancaman Deindustrialisasi
Iskandar juga mengemukakan jika fundamental ekonomi Indonesia kuat seharusnya nilai tukar rupiah juga ikut perkasa. Salah satu indikatornya adalah nilai ekspor harus lebih besar dari impor.
Tapi, sayangnya ciri khas ekonomi Indonesia selalu mengandalkan impor sehingga neraca perdagangan cenderung defisit. Syarat perdagangan kuat, menurut dia, sebenarnya terletak pada industri yang unggul.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Indonesia justru tengah menghadapi deindustrialisasi. “Apa yang mau diperdagangkan kalau industrinya nggak maju? Akhirnya kita impor terus, dari kebutuhan ujung kepala sampai ujung kaki,” tukas dia.
Sementara itu, Gubernur BI, Agus DW Martowardojo, dalam pernyataan resmi dari Washington, AS, Selasa (24/4/2018) pagi, menyatakan bank sentral akan terus memonitor dan mewaspadai risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah.
“Baik yang dipicu oleh gejolak global seperti dampak kenaikan suku bunga AS, perang dagang AS-Tiongkok, kenaikan harga minyak, dan eskalasi tensi geopolitik terhadap berlanjutnya arus keluar asing dari pasar SBN (Surat Berharga Negara) dan saham Indonesia,” ungkap dia.
Risiko pelemahan yang bersumber dari kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik akan terus diwaspadai. Itu terkait kebutuhan pembayaran impor, utang luar negeri, dan dividen yang biasanya cenderung meningkat pada triwulan II-2018.
Untuk itu, BI akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya. “Kami juga telah melakukan intervensi baik di pasar valas, maupun pasar SBN dalam jumlah cukup besar,” imbuh Agus.

To Top