BANDA ACEH, EDUNEWS.ID – Bencana banjir dan tanah longsor yang menghantam Aceh telah berlalu lebih dari enam bulan. Namun, bagi ribuan siswa di provinsi tersebut, trauma bencana belum benar-benar usai. Hingga hari ini, mereka masih harus bergelut dengan keterbatasan, menimba ilmu di bawah tenda darurat yang jauh dari kata layak.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per Februari 2026 mencatat realita yang cukup memprihatinkan. Sebanyak 52 sekolah di Aceh masih terpaksa melangsungkan kegiatan belajar mengajar (KBM) di tenda atau kelas darurat. Selain itu, ada 20 sekolah lainnya yang harus menumpang di fasilitas sekolah lain karena bangunan mereka hancur total.
“Di Aceh, 3.001 sekolah telah kembali ke sekolah asal, sementara 52 sekolah belajar di tenda/kelas darurat dan 20 sekolah menumpang di sekolah lain sementara,” tulis Kemendikdasmen dalam laporan resminya.
Kisah di Aceh Barat dan Aceh Tengah
Kondisi lapangan yang menyayat hati terekam jelas di Aceh Barat. Jumat (5/6/2026), para siswa SDN Alue Lhok di Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, harus berjibaku mengangkat meja sendiri untuk mengikuti ujian di dalam tenda darurat.
Posisi tenda mereka sangat memprihatinkan, terletak tepat di depan bangunan sekolah yang rusak parah dan hanya berjarak beberapa meter dari bibir sungai. Ruang kelas yang terbatas dan fasilitas yang hancur akibat bencana hidrometeorologi akhir November 2025 memaksa mereka tetap bertahan di sana.
Situasi serupa terjadi di Aceh Tengah. Plt Kadis Pendidikan Aceh Tengah, Salimsyah, menyebutkan sedikitnya ada 12 sekolah di Kecamatan Ketol, Bintang, dan Linge yang masih beroperasi di tenda darurat.
Menurut Salimsyah, kondisi sekolah di wilayah tersebut sudah tidak bisa dipakai sama sekali. Selain kerusakan fisik, perubahan kontur sungai akibat bencana membuat akses menuju sekolah menjadi berbahaya bagi anak-anak.
“Ada inisiatif pemerintah daerah membangun dua tempat, pertama, sekolah asal; kedua, ada tempat yang bisa dimanfaatkan di tenda. Ada beberapa titik seperti itu di Ketol, Bintang, dan Linge,” jelas Salimsyah.
Mendesak Langkah Permanen
Meskipun ruang belajar darurat terus diupayakan, pemerintah daerah mengakui bahwa ini bukanlah solusi jangka panjang. Pihaknya kini tengah berpacu dengan waktu untuk segera menghadirkan ruang belajar yang lebih aman, baik dengan memanfaatkan rumah warga, sekolah terdekat, hingga mempercepat pembangunan fisik sekolah permanen.
“Kita harapkan dalam waktu dekat bisa dihadirkan ruang belajar yang lebih layak. Yang jelas, ini terus kita usahakan secepat mungkin demi menghadirkan pendidikan yang nyaman untuk anak-anak kita,” pungkasnya.
Potret para siswa yang mengangkat meja sendiri di tengah tenda darurat menjadi pengingat keras bagi pemerintah pusat maupun daerah. Di balik janji revitalisasi, anak-anak di Aceh masih menanti sekolah yang benar-benar bisa mereka sebut sebagai rumah kedua yang aman. (dtk/ant)
