Ekonomi

Kompak Melemah saat Corona, Laba Bank BUMN Anjlok

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Kinerja bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kompak melemah pada semester I 2020 akibat tekanan virus corona. Kondisi ini tercermin dari perolehan laba empat bank BUMN yang anjlok hingga dua digit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan laba paling tajam dicatat oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. Pada semester I 2020, BNI membukukan laba bersih sebesar Rp4,46 triliun.

Angka ini merosot 41,54 persen dibandingkan semester I 2019 sebesar Rp7,63 triliun. Untuk PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, perolehan laba hanya mencapai Rp768 miliar, atau turun tajam 40 persen dari laba semester I 2019 yang masih bisa Rp1,3 triliun.

Perolehan laba bank BUMN yang fokus pada pembiayaan perumahan itu memang sudah tergerus sejak awal tahun. Pada kuartal I 2020 lalu, laba BTN anjlok 36,79 persen menjadi Rp457 miliar.

Kondisi serupa dialami oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, yang mencetak laba bersih sebesar Rp10,2 triliun pada semester I 2020. Realisasi itu anjlok 36,88 persen dari posisi yang sama tahun lalu yang masih bisa mencapai Rp16,16 triliun.

Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp10,29 triliun per semester I 2020. Angka itu anjlok 23,94 persen dari realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp13,53 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar memaparkan biaya operasional perusahaan membengkak dari Rp18,37 triliun menjadi Rp19,18 triliun. Selain itu, cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) juga naik dari Rp6,21 triliun menjadi Rp10,29 triliun.

“Untuk mengantisipasi potensi ketidakpastian ekonomi ke depan, kami juga membangun pencadangan untuk memastikan terjaganya kualitas aset. Per Juni 2020, rasio coverage CKPN konsolidasi kami berada di kisaran 195,5 persen,” kata Royke.

Pertumbuhan Kredit Satu Digit

Dari sisi kinerja kredit, keempat bank pelat merah itu juga tampak lesu, hanya tumbuh satu digit. Bank BNI misalnya, hanya mencatat pertumbuhan kredit sebesar 5,0 persen, dari Rp549,23 triliun pada semester I 2019 menjadi Rp576,78 triliun pada semester I 2020.

Pertumbuhan kredit Bank BNI dikontribusi oleh kredit korporasi swasta yang tumbuh 12,6 persen, dari Rp174,3 triliun menjadi Rp196,32 triliun. Disusul, pertumbuhan kredit korporasi BUMN yang tumbuh 6,1 persen dari Rp111,04 triliun menjadi Rp117,8 triliun.

Untuk kredit segmen kecil dan konsumer juga menunjukkan pertumbuhan, masing-masing sebesar 3,4 persen dan dan 3,9 persen.

Bahkan, pertumbuhan kredit Bank BTN tidak mencapai satu persen pada medio pertama 2020 ini. Terpantau, penyaluran kredit dan pembiayaan BTN hanya tumbuh 0,32 persen, dari Rp251,04 triliun pada semester I 2019 menjadi Rp251,83 triliun.

Kinerja penyaluran kredit Bank BTN ditopang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi yang menempati porsi sebesar 45,11 persen dari total portofolio kredit perseroan. Penyaluran KPR tumbuh 5,84 persen dari Rp107,34 triliun menjadi Rp113,61 triliun.

Serupa, Bank BRI juga hanya mampu mencatat kenaikan penyaluran kredit 5,23 persen dari Rp888,32 triliun menjadi Rp922,97 triliun pada semester I 2020. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, BRI mampu meraih pertumbuhan penyaluran kredit hingga 11,84 persen.

Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan mayoritas kredit disalurkan kepada UMKM. Dari total pinjaman tersebut, sebesar 78,58 persen diantaranya atau senilai Rp725,27 Triliun disalurkan ke segmen UMKM.

“Perseroan menargetkan 80 persen portofolio pinjaman BRI pada 2022 merupakan pinjaman yang disalurkan ke segmen UMKM,” tutur Sunarso.

Senada, penyaluran kredit Bank Mandiri tumbuh tipis sebesar 4 persen dari Rp835,11 triliun menjadi Rp871,66 triliun. Penyaluran kredit diberikan untuk sejumlah segmen, seperti korporasi sebesar Rp326,2 triliun, komersial Rp140,4 triliun, konsumer Rp90 triliun, dan usaha kecil menengah (UKM) Rp49,9 triliun.

Selain itu, Bank Mandiri juga menyalurkan kredit pada program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tercatat, perusahaan mengucurkan KUR sebesar Rp7,03 triliun atau 39,7 persen dari target penyaluran tahun ini yang mencapai Rp17,7 triliun.

“Jumlah penerima sebanyak 84.500 debitur. Dengan demikian outstanding KUR Bank Mandiri sejak 2015 hingga saat ini mencapai Rp31,5 triliun kepada 1,65 juta debitur,” ujar Royke.

NPL Tembus 3 Persen

Pandemi covid-19 juga berdampak pada kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) bank pelat merah. Dalam enam bulan pertama tahun ini, mayoritas NPL bank BUMN berada di posisi 3 persen, hanya satu bank yang berada di level 2 persen.

Tercatat, kualitas NPL Bank BNI memburuk dari posisi 1,8 persen pada semester I 2019 menjadi 3 persen di semester I 2020. Lalu, NPL gross Bank BRI naik dari 2,51 persen menjadi 3,13 persen pada semester I 2020.

Kondisi serupa dialami Bank Mandiri yang mencatat kenaikan NPL dari 2,59 persen menjadi 3,28 persen. Sementara itu, hanya Bank BTN yang mampu mencatat penurunan NPL dari 2,42 persen per Juni 2019 menjadi 2,40 persen pada Juni 2020.

Namun demikian, bank pelat merah tersebut masih mencatatkan kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan aset di tengah himpitan pandemi. Tercatat, Bank BNI meraih kenaikan DPK 11,3 persen dari Rp595,07 triliun menjadi Rp662,38 triliun pada paruh pertama 2020.

Pertumbuhan DPK tersebut lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan DPK di industri per Juni 2020 yang tumbuh 7,9 persen.

Kenaikan DPK, mendorong pertumbuhan aset Bank BNI sebesar 4,4 persen dari Rp843,21 triliun menjadi Rp880,12 triliun. Laju Pertumbuhan aset di semester pertama ini relatif sama dengan tahun 2019, yakni 4,6 persen.

Kemudian, Bank BRI mengantongi pertumbuhan DPK 13,49 persen menjadi Rp1.072,5 triliun. Kenaikan DPK ini mendorong pertumbuhan aset Bank BRI menjadi Rp1.387,76 triliun.

Selanjutnya, Bank Mandiri juga mencatat kenaikan DPK sebesar 15 persen dari Rp843 triliun menjadi Rp976 triliun. Sementara, total aset perusahaan tumbuh 10,02 persen dari Rp1.235,62 triliun menjadi Rp1.359,44 triliun.

Di sisi lain, DPK Bank BTN pun terpantau naik 2,99 persen dari Rp219,76 triliun menjadi Rp226,32 triliun. Kenaikan DPK tersebut turut mengerek aset Bank BTN sebesar 0,68 persen menjadi Rp314,60 triliun.

cnn

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top