Ekonomi

Rupiah Sulit Menguat Jika Permasalahan Akut tak Segera Diperbaiki

 
 
JAKARTA, EDUNEWS.ID – Nilai tukar rupiah dinilai sulit menguat, apabila pemerintah belum mampu membenahi penyakit mendasar perekonomian Indonesia, yakni kebergantungan pada impor khususnya pangan dan energi, serta tingginya defisit transaksi berjalan.
Pada perdagangan awal pekan ini, mata uang RI itu kembali tertekan hingga hampir menyentuh level psikologis 14 ribu rupiah per dollar AS. Mengutip Bloomberg, Senin (23/4/2018) sore, nilai tukar rupiah di pasar spot berada di level 13.975 rupiah per dollar AS atau melemah 0,59 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.
Ini merupakan posisi terburuk rupiah sejak November 2015. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), kemarin, rupiah juga melemah 0,65 persen menjadi 13.894 rupiah per dollar AS.
Ekonom senior UGM, Mudrajad Kuncoro, mengemukakan pelemahan rupiah hanyalah soal waktu karena BI maupun pemerintah belum mampu memperbaiki penyakit mendasarnya. Akibatnya, sampai kapan pun ekonomi Indonesia diombang-ambing oleh fluktuasi kurs dan gejolak eksternal secara umum.
“Depresiasi rupiah dalam lima tahun terakhir sudah mencapai 43,75 persen. Artinya, tugas BI menjaga rupiah sebagaimana UU Bank Indonesia belum ditunaikan dengan baik. Financial inclusion yang menjadi tanggung jawab BI dan pemda juga tidak bergerak,” ungkap dia, Senin (23/4/2018).
Mudrajad memaparkan dalam 10 tahun sejak krisis keuangan 2008, indeks harga saham gabungan dan rupiah cenderung menguat. Pasar modal dan pasar uang terintegrasi penuh.
“Namun, integrasi ini maknanya negatif karena kebergantungan kepada dana global. Pasar membaik karena program QE (Quantitative Easing) Amerika. Pasar tertekan karena The Fed menaikkan suku bunga. Lalu, apa peran BI dan pemerintah,” jelas dia.
Artinya, menurut Mudrajad, ada masalah akut di dalam negeri yang tak kunjung dibenahi. Hal itu bisa dilihat dari defisit transaksi berjalan yang tinggi. Di neraca perdagangan, meski positif tapi neraca migas dan pangan trennya negatif sehingga menjadi net importir. Perdagangan juga bergantung pada 10-20 komoditas tradisional dan 10 negara tujuan ekspor tradisional.
Komoditas tradisional itu ekspor yang berbasis buruh murah dan sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Sedangkan tujuan ekspor selalu AS, Eropa, Tiongkok, Jepang, Singapura, dan negara-negara itu saja.
“Terus andalkan buruh murah dan SDA ini masalah besar yang tidak pernah ada terobosannya. Negara tujuan juga begitu, Timteng dan Afrika meski terus naik, tapi belum signifikan, belum digarap serius,” jelas Mudrajad.
Sementara itu, imbuh dia, di neraca modal yakni selisih antara pendapatan orang Indoensia di luar negeri dengan pendapatan orang asing di Indonesia ditambah biayabiaya jasa konsultan asing, selalu negatif.
Mudrajad juga menilai policy mix di antara BI, Kemenkeu, dan sektoral, yakni Kementerian Perindustrian, Kemendag, Kementan, BKPM, dan juga pemda tidak jalan. Semua berjalan sendiri dan tanggung jawab yang diemban pun meleset tidak sesuai target.
“Itu yang saya sebut sebagai penyakit kelemahan struktural yang harus kita obati dan pecahkan,” tukas dia.

To Top