Internasional

Skandal Intelijen, Rusia Tuding Inggris Terlibat Aksi Peracunan

Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg

 

 

MOSCOW, EDUNEWS.ID – Pemerintah Russia tetap membantah terlibat dalam penyerangan yang menggunakan gas saraf terhadap Sergei Skripal, 66 tahun, dan putrinya, Yulia, 33 tahun, di Inggris. Russia malah minta Inggris untuk membuktikan dinas intelijennya tidak terlibat dalam aksi penyerangan itu sebab hingga saat ini belum ada bukti valid.

“Analisis atas semua keadaan membuat kita berpikir tentang kemungkinan keterlibatan dalam aksi peracunan dari dinas intelijen Inggris,” kata Kementerian Luar Negeri Russia dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Rabu (28/3/2018).

“Jika bukti yang meyakinkan untuk sebaliknya tidak disampaikan kepada pihak Russia, kami akan mempertimbangkan bahwa kami berurusan dengan dengan upaya kehidupan warga negara kami sebagai akibat provokasi politik besar-besaran,” imbuh Kementerian Luar Negeri Russia.

Kasus penyerangan Sergei Skripal (66 tahun) dan putrinya Yulia (33 tahun) telah memicu krisis diplomatik Inggris dengan Russia. Skripal merupakan warga Inggris yang pernah menjadi agen intelijen militer Russia.

Ia dan putrinya diserang menggunakan gas saraf produksi militer Russia bernama Novichok pada 4 Maret lalu. Informasi terakhir, Skripal dan putrinya masih dalam keadaan kritis. Inggris menuding Russia menjadi dalang aksi penyerangan Skripal.

Tuduhan itu didasarkan pada fakta bahwa agen saraf Novichok pernah dikembangkan pada era Uni Soviet pada 1970-an. Russia membantah tegas tudingan tersebut. Presiden Russia, Vladimir Putin, bahkan menegaskan negaranya tidak lagi memiliki senjata kimia.

“Semua senjata kimia milik Russia telah dihancurkan di bawah pengawasan organisasi internasional,” ujarnya.

Bantahan Russia tidak digubris Inggris. Malah, sejumlah negara mengikuti jejak Inggris mengusir diplomat Russia. Hingga kini, telah ada 27 negara di seluruh dunia yang telah mengusir agen intelijen Moskwa. Setidaknya ada 151 diplomat Russia yang harus segera meninggalkan negara tempat mereka bertugas.

Setelah 16 negara Uni Eropa, AS, Kanada, Ukraina, Norwegia, Albania, Australia, Belgia, Irlandia, Moldova, terakhir giliran Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengusir diplomat Russia.

Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, mengatakan pengusiran tujuh diplomat Russia sebagai konsekuensi atas kasus peracunan eks matamata, Sergei Skripal, di Inggris, pada awal Maret lalu.

Stoltenberg juga menuturkan akan mengurangi sepertiga perwakilan Russia di NATO dari 30 menjadi 20 orang sebagai respons internasional atas insiden yang diduga didalangi oleh Kremlin tersebut.

“Saya telah menarik akreditasi tujuh perwakilan Rusia di NATO. Saya juga akan menolak permintaan akreditasi bagi tiga perwakilan Rusia lainnya. Langkah ini jelas memberi pesan kepada Rusia bahwa ada harga dan konsekuensi dari tindakannya yang berbahaya dan tidak dapat diterima,” lanjut mantan Perdana Menteri Norwegia itu.

Panggil Dubes Pulang

Sementara itu, pemerintah Luksemburg mengumumkan telah menarik duta besarnya dari Russia.

“Pemerintah Luksemburg mengutuk serangan itu dalam hal yang paling kuat dan setuju dengan analisis Inggris bahwa sangat mungkin bahwa Federasi Rusia bertanggung jawab atas tindakan ini dan bahwa tidak ada penjelasan yang masuk akal lainnya,” kata kementerian luar negeri Luksemburg.

To Top