Internasional

Ujian SMA, Jam Buka Kantor dan Jadwal Penerbangan di Seoul Tertunda

ILUSTRASI TUNDA KEBERANGKATAN PESAWAT

SEOUL, EDUNEWS.ID – Hari ini di Korea Selatan, 605.987 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) tingkat akhir dan yang belum lama lulus, tengah mengikuti College Scholastic Ability Test (CSAT). Ujian ini sangat krusial karena bisa menentukan universitas dan pekerjaan mereka di masa depan. Pemerintah Korea Selatan pun menunda jam buka kantor dan penerbangan pesawat agar para siswa tak terganggu.

Sebagaimana dilaporkan oleh The Guardian, pemerintah menginstruksikan kantor pemerintahan, pusat perdagangan besar, serta Bursa Efek Seoul agar buka jam 10 pagi, satu jam lebih lambat dari biasanya. Hal ini dilakukan agar jalanan tidak macet dan para peserta tidak terlambat datang ke lokasi tes. Untuk itu, truk-truk besar juga dilarang melintas di dekat lokasi tes.

Polisi lokal mengatakan mereka telah menyiapkan 14 ribu personel untuk mendukung tes yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan Korea Selatan ini. Para petugas kepolisian juga akan memberi tumpangan menggunakan motor dan mobil dinas kepada para peserta untuk sampai ke tempat tes.

Kereta bawah tanah di ibukota juga memerpanjang jam operasinya selama dua jam pada waktu-waktu sibuk. Sementara bis kota juga memerpanjang waktu operasi di jam komputernya.

Untuk menghilangkan polusi suara, pekerjaan konstruksi bangunan di dekat tempat tes dilarang aktif untuk sementara. Selain itu, otoritas transportasi juga menunda keberangkatan dan kedatangan pesawat selama 30 menit pada pukul 13:10 waktu setempat. Jam tersebut adalah waktu ketika ujian memasuki listening section pada tes Bahasa Inggris.

Tes yang dilangsungkan di 1,183 lokasi seluruh Korea Selatan ini berlangsung dari pukul 08.40 dan akan berakhir pukul 5.40 waktu setempat. Subjek-subjek dalam CSAT di antaranya adalah Matematika, Sains, Bahasa Asing, Bahasa Inggris, Bahasa Korea, dan Sejarah Korea. Nilai yang didapat dari CSAT akan sangat menentukan ke universitas mana siswa dapat melanjutkan kuliah.

Di Korea Selatan, bisa berkuliah dan lulus dari universitas ternama menjadi syarat utama untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus dan bergaji tinggi. Hal ini menimbulkan tekanan yang sangat tinggi dan disebut-sebut sebagai pemicu tingginya angka depresi dan bunuh diri di kalangan remaja.

Menghadapi tes ini, ribuan orang tua pun berbondong-bondong pergi ke kuil untuk berdoa dan para biksu mengadakan sesi khusus untuk para siswa.

To Top