Ekonomi

Masa Pandemi, Bisnis Alkes di Indonesia Meroket 268 Persen!

JAKARTA, EDUNEWS.ID-Pemerintah Indonesia terus mendorong terciptanya ketahanan dan kemandirian pada sektor alat kesehatan (alkes), khususnya dalam masa pandemi Covid-19.

Oleh karena itu, pemerintah berupaya untuk menarik investasi pada sektor alat kesehatan di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan, yakni pembangunan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang yang memproduksi alkes.

Direktur Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT, Sodikin Sadek Ditjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Semarang menjelaskan bahwa pertumbuhan industri alat kesehatan dalam negeri dalam 6 tahun terakhir tumbuh sebanyak 518 industri, atau sebesar 268,39% per Juli 2021.

Dia juga menjelaskan bahwa 16 alkes konsumsi terbesar sudah dapat diproduksi dalam negeri.

“Dari 19 alkes, 16 sudah mampu diproduksi dalam negeri, tiga impor. Walaupun bahan baku tetap melalui impor,” ungkapnya dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (18/9/2021).

Saat ini, investasi lokal di bidang alkes yang sudah ada berjumlah Rp 209 miliar, sedangkan investasi asing berjumlah Rp 232 miliar, sehingga total Rp 441 miliar.

Investasi asing ini meliputi perusahaan yang di dalamnya terdapat saham asing, baik 100% perusahaan asing maupun sebagian saham asing.

Menyambung, Asisten Deputi Bidang Investasi Strategis Kemenko Maritim dan Investasi (Kemenko Marves), Bimo Wijayanto mengatakan potensi investasi dari perusahaan lokal setara dengan perusahaan asing, bila penyertaan modal lokal dalam JV (joint venture) dihitung, potensi investasi perusahaan lokal dapat lebih besar.

Dia juga mengungkapkan bahwa komitmen investasi yang sudah ada maupun yang akan berjalan, pemerintah akan secara aktif memfasilitasi komunikasi dengan berbagai pihak untuk debottlenecking (menghilangkan hambatan) atas permasalahan yang dihadapi.

“Investasi yang sudah berjalan di Indonesia juga perlu diperhatikan, misal dengan fasilitasi/pendampingan dalam mencari sumber pendanaan dan strategi partner untuk pengembangan bisnis,” tambahnya.

Menurut dia, dalam mengembangkan industri produk alat kesehatan, terdapat 79 jenis dari total 358 jenis alkes produksi dalam negeri yang sudah dapat menggantikan produk-produk impor di e-katalog LKPP.

Asdep Bimo menambahkan, khususnya seperti masa pandemi seperti ini agar Indonesia dapat secara mandiri memproduksi alat kesehatan.

“Perlunya kemandirian alkes, belajar dari pengalaman penanganan pandemi Covid-19, dan untuk antisipasi kedepan penanganan krisis lain yang serupa dengan pandemi Covid-19,” imbuhnya.

Untuk menarik investasi pada sektor alkes, pemerintah berupaya membangun KIT Batang yang rencananya akan dibangun sektor tersebut. Kawasan ini memiliki luas lahan sebesar 4.300Ha.

Dalam kesempatan itu, Kemenko Marves beserta rombongan melakukan kunjungan kerja ke KIT Batang pada Jumat, 17-9-2021.

Kawasan ini merupakan kawasan industri prakarsa pemerintah yang dibangun untuk menangkap peluang momentum relokasi investasi asing termasuk PSN yang berdasarkan Perpres No. 109 Tahun 2020. Proyek ini fokus pada industri otomotif, tekstil, kimia, logistik, ICT, dan teknologi tinggi.

Pada 2020, realisasi investasi yang diperoleh sebesar Rp 826,3 triliun atau 101,1% dari target. Kemudian, sepanjang tahun 2021 pada Januari hingga Juni, realisasi investasi yang diperoleh sebesar Rp 442,8 triliun atau sebesar 49% dari target yang akan dicapai.

Menurut Direktur Promosi Sektoral Kementerian Investasi/BKPM, Sri Endang Novitasari bahwa pemerintah dapat mendorong investasi melalui industri padat karya yang berorientasi ekspor, seperti industri farmasi dan alat kesehatan, otomotif, elektronik, dan energi (khususnya energi baru dan terbarukan).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top