Nasional

Wanita Ini Polisikan Petugas Lelang, Ini Penyebabnya 

Ilustrasi

EDUNEWS.ID – Wanita bernama Valentina (61 tahun), warga Kota Malang, Jawa Timur, melaporkan oknum-oknum proses lelang yang nekat melakukan pelaksanaan lelang eksekusi di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Lelang (KPKNL) Malang, pada Rabu, 3 Juni 2020, kepada Polres Kota Malang. Dia menganggap proses lelang cacat prosedur dan tidak transparan.

Menurut Ketua tim kuasa hukum Valentina, Gunadi Handoko, ada 26 aset yang dilelang oleh KPKNL. Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah. Kasus itu bermula dari perkara mantan suami-istri, Valentina dan Hardi Soetanto, yang bercerai sejak 2012. Namun, sengketa asetnya berlangsung sampai sekarang.

“Tiga kali pelaksanaan sebelumnya, lelang atas objek itu, sudah dibatalkan sendiri oleh KPKNL Malang karena dianggap sangat tidak memenuhi legalitas formal subjek dan objek puluhan tanah dan rumah yang dilelang. Dengan kata lain, terdapat perbedaan data di Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT). Sehingga pejabat lelang tidak yakin dengan kebenaran formal surat pemberitahuan lelang kepada termohon eksekusi,” kata Gunadi, Kamis, 4 Juni 2020.

Gunadi mengungkapkan, bahwa lelang yang dilakukan KPKNL untuk keempat kalinya dianggap cacat prosedur. Sebab, tiga kali lelang sebelumnya telah dibatalkan karena bukti kepemilikan objek lelang (sertifikat) tidak dalam penguasaan pemohon lelang. Pemohon juga tidak bisa menyerahkan kepada KPKNL sehingga, sesuai pasal 34 Peraturan Menteri Keuangan, lelang aset itu seharusnya dibatalkan.

“Kami menduga lelang ini cacat prosedur. Kami menduga belum ada penyetoran uang jaminan sebesar 30 persen dari nilai objek lelang melalui rekening KPKNL. Sehingga ini juga melanggar Pasal 34 Permenkeu. Kedua, diduga dilakukan penyetoran uang melebihi batas waktu keterlambatan, yakni satu hari kerja sebelum lelang harus efektif masuk ke dalam rekening KPKNL,” kata Gunadi.

Seluruh aset merupakan milik pihak ketiga, bukan milik pemohon lelang maupun termohon lelang. Dari 26 aset itu, 5 objek aset telah terjual dalam proses lelang. Pembeli dari lima aset itu adalah Rebbeca dan Debora. Objek yang terjual ditaksir sebesar Rp18,5 miliar terdiri dari rumah, tanah, ruko, dan perkantoran.

“Rebbeca membeli empat objek serta Debora membeli satu objek. Kami juga belum tahu apakah mereka sebagai pembeli, juga bagian dari pemohon lelang. Tapi yang pasti, seluruh objek yang dilelang tidak memenuhi legalitas formal subjek dan objek lelang (perbedaan data terdapat pada Surat Keterangan Pendaftaran Tanah,” jelas Gunadi.

Gunadi mengatakan, bahwa tiga kali permohonan lelang eksekusi di KPKNL tidak dapat dilaksanakan karena ada perlawanan dari pihak lain atau pihak ketiga karena objek lelang adalah milik pihak ketiga. Dia menyebut, dasar pelaksanaan eksekusi lelang Pengadilan Negeri Malang adalah putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung No: 598/PK/Pdt/2016 tanggal 24 November 2016.

“Tapi amar putusannya tidak menyebut berupa apa wujud harta bersama dari perkawinan pemohon lelang in casu, Hardi dan termohon lelang in casu klien kami yang harus dibagi. Sehingga amar putusan itu tidak jelas (obscuur) dan tidak dapat dilakukan pelaksanaan eksekusi,” tutur Gunadi.

Kuasa hukum Hardi Soetanto, Lardi, menyebut bahwa permohonan lelang yang dilakukan oleh kliennya sudah sesuai dengan prosedur aturan yang berlaku. Landasannya sesuai dengan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung No: 598/PK/Pdt/2016 tanggal 24 November 2016.

“Yang penting apa yang kami mohonkan sudah sesuai prosedur aturan yang berlaku,” ucapnya.

Keputusan termohon Valentina dengan melaporkan oknum yang terlibat dalam lelang kepada polisi dianggap sebagai langkah yang kurang tepat. Menurutnya, keputusan pejabat lelang KPKNL untuk melelang aset telah sesuai keputusan Mahkamah Agung yang memerintahkan untuk dibagi dua.

“Kalau saya menilai, aneh, itu ada putusan Mahkamah Agung sampai peninjauan kembali; ada penetapan, ada delegasinya. Keputusan Mahkamah Agung adalah dibagi dua. Petugas tidak seceroboh itu (nekat melakukan lelang),” ujar Lardi.

 

 

vva

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top