Politik

Elektabilitas NH Naik, IYL Justru Menurun

 

 

MAKASSAR, EDUNEWS.ID – Sinergi Data Indonesia (SDI) melakukan riset terkait Pilkada Sulawesi Selatan (Sulsel). Di daerah lumbung Partai Golkar tersebut, terjadi persaingan sengit antara beberapa pasangan calong gubernur/wakil gubernur.

Pasangan Ichsan Yasin Limpo (IYL)-Andi Mudzakkar meraih dukungan suara terbanyak yakni 27.50%. Namun persentasenya cenderung menurun dibanding survei serupa pada Desember 2017. Sementara pasangan Nurdin Halid-Aziz Kahar Mudzakkar cenderung naik dengan elektabilitas mencapai 24.80%.

Survei dilakukan di 24 Kabupaten/kota sejak tanggal 14 hingga 20 Februari 2018. Responden yang diwawancarai sebanyak 1.000 orang, dengan margin of error 3.16% pada tingkat kepercayaan 95%. Responden dipilih dengan menggunakan metode multistage random sampling.

Pilkada Sulsel menghadirkan 3 pasangan calon yang bersaing ketat yakni Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar meraih dukungan suara 27.50%, disusul Nurdin Halid-Aziz Kahar Mudzakkar dengan elektabilitas mencapai 24.80%, posisi ketiga Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman 21.20% dan Agus Arifin Nu’mang-Tanri Bali Lamo 8.9% serta suara yang masih belum memutuskan 17.60%.

Berdasarkan survei yang pernah dilakukan oleh SDI pada Desember 2017, raihan suara Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar mencapai 30.30%. Dengan demikian suara pasangan ini mengalami penurunan di survei Februari 2018. Hal berbeda terjadi pada Nurdin Halid-Aziz Kahar Mudzakkar yang pada survei sebelumnya 22.30% kini naik menjadi 24.80%.

“Pasangan lain yang relatif naik adalah pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman 20.00% di Desember 2017 dan pasangan yang stabil dukungannya adalah Agus Arifin Numang-Tanri Bali Lamo 8.1% pada surveI Desember 2017,” kata Direktur Sinergi Data Indonesia, Barkah Pattimahu, Senin (12/3/2018).

Turunnya suara Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar, lanjut Barkah, ditengarai karena penolakan publik atas politik kekerabatan atau dinasti di Sulsel. Sebagai isu nasional, penolakan atas politik kekerabatan/dinasti terkonfirmasi dalam survei SDI, dimana lebih dari separuh atau 62.29% pemilih tidak menyetujui politik kekerabatan/dinasti. Hanya 23.49% yang menyatakan setuju.

Dukungan yang impresif terjadi pada Nurdin Halid-Aziz Kahhar Mudzakkar. Meski diterpa isu korupsi masa lalu, namun masyarakat Sulsel masih terbuka bagi mereka yang pernah tersandung kasus hukum.

Sebanyak 40.90% pemilih yang menyatakan mereka yang pernah tersandung hukum dapat diberi kesempatan sebagai pemimpin, dan sebanyak 42.70% yang menyatakan tidak dapat diberi kesempatan untuk memimpin.

Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman, punya tantangan tersendiri. Dimana publik menilai pengalaman memimpin kabupaten bukan jaminan keberhasilan dalam memimpin provinsi atau sebagai Gubernur.

Sebanyak 46.90% menyatakan pengalaman sebagai bupati tidak menjadi jaminan atau tolak ukur keberhasilan memimpin provinsi, sementara 33.10% menyatakan hal itu dapat menjamin keberhasilan memimpin provinsi.

Mayoritas pemilih Sulsel menurut Barkah adalah pemilih rasional, dimana 50.60% adalah pemilih rasional, sementara 26.40% adalah pemilih sosiologis dan 19.20% adalah pemilih psikologis.

Dari 21.20% pemilih Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman, sebanyak 54.59% adalah pemilih rasional. Nurdin Halid-Aziz Kahhar Mudzkkar juga mendapat dukungan terbesar atau 52.00% pemiihnya adalah rasional, sementara Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar sebanyak 45.84% dari pendukungnya adalah pemilih rasional.

Siapakah yang akan menang ditentukan oleh kemampuannya meraih swing voters yang mencapai 47.30%. Dari total swing voters di Sulsel yang mencapai 47.30% tersebut, sebanyak 54% nya adalah pemilih rasional.

Olehnya itu siapakah yang mampu mempengaruhi pemilih rasional dengan visi, misi serta program yang tepat akan berhasil memenangkan pertarungan di Sulsel. Dua pasangan yang punya peluang besar meraih suara pemilih rasional adalah Nurdin Halid-Aziz Kahar Mudzakkar dan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman.

MERDEKA.COM

To Top