Politik

Parpol Harus Berikan Pendidikan Politik untuk Masyarakat

Anggota Komisi II DPR RI Sutriyono

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Anggota Komisi II DPR RI Sutriyono menilai peran terpenting dari partai politik adalah pendidikan politik bagi rakyat. Rakyat harus dibekali dengan pendidikan politik yang cukup, karena setiap persoalan kehidupan masyarakat dalam bernegara sangat berkaitan dengan kebijakan-kebijakan politik. Parpol sebagai institusi politik harus mengutamakan pendidikan politik untuk rakyat.

“Yang paling pokok adalah pendidikan politik bagi rakyat. Saya pikir semua partai melalukan hal itu. Karena jika rakyat tahu persoalan politik pasti akan terjadi konsolidasi politik. Karena semua hal dari kita itu ditentukan oleh kebijakan-kebijakan politik,” jelas Sutriyono dalam FGD ‘Pemilu dan Pengokohan Demokrasi di Indonesia’ di Ruang Pleno Fraksi PKS, Senayan, Jakarta, Rabu (25/1/2017).

Pendidikan politik memberikan kesadaran politik bagi rakyat sebagai Zoon Politicon. Jika rakyat memiliki pendidikan politik yang baik, maka dapat menjadi alat kontrol, khususnya dalam kebijakan yang dilahirkan oleh partai penguasa. Termasuk, untuk menentukan apakah benar klaim pro rakyat partai penguasa dalam setiap program-program yang dikeluarkan.

“Setiap mereka yang berkompetisi, dan dia menang, tentu akan mewujudkan setiap programnya. Apakah dia pro rakyat atau tidak, tentu akan ditentukan pada penguasa yang memiliki legitimasi. Di sinilah peran rakyat untuk mengawasi persoalan abuse of power yang dilakukan penguasa tersebut,” jelasnya.

Oleh karena itu, Sutriyono mencontohkan di internal partainya, pendidikan politik untuk rakyat, terlebih bagi para kader, telah berjalan dengan baik. Hal itu selaras dengan platform PKS sebagai Partai Dakwah. Sehingga, apapun perjuangan yang dilakukan oleh PKS, adalah bagian dari ibadah.

“Bagi PKS ada pemahaman, bahwa ada agama dan negara adalah konteks perjuangan untuk ibadah. Jadi kalau ada yang jadi caleg PKS, lalu berkorban adalah untuk ibadah. Kalau kita menang, berarti itu perjuangan. Kalau kalah, berarti takdir,” jelas Sutriyono.

To Top