JAKARTA, EDUNEWS.ID — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Sudaryono, secara tegas menyatakan komitmennya untuk menerapkan kebijakan zero tolerance (tanpa toleransi) terhadap segala bentuk praktik korupsi, penyimpangan, serta tindakan yang merugikan keuangan negara dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pernyataan tersebut disampaikan Sudaryono usai dilantik secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (22/7). Ia menggantikan Kepala BGN sebelumnya, Nanik Sudaryati Deyang, yang mengundurkan diri untuk menjalani pengobatan di luar negeri. Pengangkatan ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 78/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Badan Gizi Nasional.
Pembenahan Tata Kelola dan Transparansi Digital
Dalam arahannya, Sudaryono menekankan pentingnya pembenahan tata kelola di tubuh BGN agar seluruh proses kerja berjalan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Mengingat program MBG menggunakan anggaran negara yang bersumber dari masyarakat, ia memastikan setiap rupiah harus tepat sasaran untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, serta lanjut usia.
“Doakan kami semua untuk bisa amanah dan menjalankan program ini dengan sebaik-baiknya, zero tolerance untuk praktik-praktik korupsi dan hanky panky dan copet-copetan,” ujar Sudaryono.
Sebagai langkah konkret pencegahan penyimpangan, BGN akan memperketat transparansi sistem operasional melalui digitalisasi proses, yakni mengubah sistem kerja yang sebelumnya masih manual menjadi berbasis digital guna memastikan setiap transaksi dan alur kerja memiliki rekam jejak (audit trail) yang jelas. Selain itu, keterbukaan informasi juga akan dikedepankan guna menghapuskan praktik-praktik tersembunyi agar seluruh kebijakan berjalan transparan dan terang benderang di hadapan publik.
Tolak Penyelesaian Masalah Lewat Jalur Pribadi
Sudaryono juga menegaskan bahwa segala bentuk penyelesaian persoalan di lingkungan BGN harus ditempuh melalui mekanisme sistem yang berlaku, bukan melalui pendekatan personal atau lobi-lobi tertutup.
Ia meminta seluruh pihak yang memiliki kedekatan profesional maupun pribadi untuk tidak mengharapkan adanya perlakuan khusus.
“Saya ingin penyelesaian masalah, saya ingin penyelesaian persoalan, follow-up dan lain-lain dilaksanakan sesuai mekanisme sistem. Jadi kita bukan lagi trust in person, kemudian kita bicara di ruang-ruang yang remang-remang, yang gelap, di private room, restoran, tapi segala sesuatu harus dibahas di ruang-ruang yang terang dan transparan dan dilihat orang,” tegasnya.
Meski berkomitmen penuh untuk menjaga integritas institusi, Sudaryono menyadari bahwa BGN tidak dapat bekerja sendiri. Ia membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memberikan masukan konstruktif serta melaporkan apabila menemukan kejanggalan dalam pelaksanaan di lapangan demi menyukseskan misi besar Badan Gizi Nasional.
Kontributor: Ahmad Alfian||Redaktur: Eka Setiawan
