JAKARTA, EDUNEWS.ID — Perubahan iklim terbukti kian mengancam kesehatan fisik dan produktivitas masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan terbaru dari Climate Central bertajuk “Climate Change is Costing People Sleep”, warga di kota-kota besar Indonesia tercatat kehilangan rata-rata hingga 84 jam tidur per tahun akibat peningkatan suhu malam hari, dengan sekitar 7 jam di antaranya disebabkan langsung oleh pemanasan global akibat aktivitas manusia.
Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kehilangan waktu tidur tertinggi di Asia Tenggara, jauh melampaui rata-rata global yang berada di kisaran 56 jam tidur per tahun.
Kota Besar Alami Kehilangan Waktu Tidur Tertinggi
Berdasarkan data laporan tersebut, warga di enam kota besar di Indonesia mengalami kerugian jam tidur yang melampaui rata-rata dunia. Kota Surabaya mencatatkan angka tertinggi dengan kehilangan 91 jam tidur per tahun, disusul oleh Jakarta (84 jam), Semarang (83 jam), Medan (78 jam), Bandung (61 jam), dan Malang (59 jam).
Kondisi ini diperparah oleh fenomena efek pulau panas perkotaan (urban heat island) di kota-kota besar akibat tingginya kepadatan penduduk serta minimnya ruang terbuka hijau, yang membuat suhu malam hari semakin panas dan sulit mereda.
Dr. Courtney Howard, MD, Dokter Gawat Darurat sekaligus Ketua Aliansi Iklim dan Kesehatan Global, mengingatkan bahwa orang dewasa idealnya memerlukan 7 hingga 9 jam tidur per malam guna menjaga kesehatan optimal. Kekurangan tidur kronis akibat malam yang panas membawa dampak serius bagi tubuh.
“Tidur kurang dari 7 jam per malam dikaitkan dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh dan kinerja, serta peningkatan kesalahan, nyeri, dan kecelakaan. Jika kurang tidur terus berlanjut secara teratur, hal itu dikaitkan dengan penambahan berat badan, diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan peningkatan risiko kematian,” tegas Howard.
Kesenjangan Akses Pendingin Udara
Meskipun penggunaan pendingin udara (air conditioning/AC) dapat membantu meredam suhu panas, akses terhadap teknologi ini sangat timpang dan bergantung pada tingkat pendapatan. Di Indonesia, tingkat kepemilikan AC rumah tangga masih tergolong rendah, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah yang paling rentan terdampak.
Koordinator Outreach and Advocacy CERAH, Dzatmiati Sari, menegaskan bahwa tidur berkualitas adalah hak dasar masyarakat yang kini mulai tergerus oleh krisis iklim. Penurunan kualitas tidur ini tidak hanya memicu risiko kesehatan dan menurunnya produktivitas, tetapi juga membengkakkan beban ekonomi rumah tangga.
Oleh karena itu, Dzatmiati mendesak pemerintah untuk menempatkan krisis iklim sebagai agenda prioritas nasional. Langkah konkret yang mendesak dilakukan antara lain mempercepat transisi energi dengan menghentikan ketergantungan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara demi memulihkan kualitas lingkungan hidup yang sehat bagi warga negara.
Sementara itu, Climate Central merekomendasikan penguatan kebijakan adaptasi perkotaan, seperti masifnya perluasan ruang terbuka hijau untuk menekan efek pulau panas, serta mengintegrasikan mitigasi risiko panas ekstrem ke dalam tata ruang kota dan kebijakan kesehatan publik demi melindungi kesejahteraan masyarakat ke depan. (*/rls)
