SAMPEAN

Melenting Di Antara Empat Universitas Tanah Jawa

Oleh: Sampean*

…O alangkah harum perjalanan ini, bersama angin musim telah bertiup 600 tahun/tiga kali kau ikut ekspedisi pencitraan Kaisar Ming/sambil mencari pangeran yang minggat/pada setiap dermaga melihat bayangmu singgah dan berkelebat, mencatat segala macam produk lokal, komoditas dagang, alat ukur, mata uang, adat istiadat, pemerintah, dan agama/catatan perjalananmu tampak seperti buku panduan dagang di negeri rantau; ringkas tanpa tanda baca….

SKETSA, EDUNEWS.ID – Narasi puisi kompas (19/11/2016) “cuplik catatan perjalanan Ma Huan” karya John Kuan menggambarkan perjalanan di tanah rantau, yang selalu menemui segala setakjuban untuk dicatat dan dikabarkan di negeri asal. Meskipun, Ma Huan tidak pernah menemukan pangerannya. Ia selalu mengabarkan apa yang ditemuinya. Setiap orang yang melakoni perjalanan selalu ada cerita untuk dikabarkan. Perjalanan tanpa cerita, sia-sia.

Dari cuplikan puisi ini, aku menarasikan hal serupa dari tanah rantau bermula dari persinggahan dan pertemuan di setiap tempat. Meninggalkan tanah lahir bukan keputusan mudah, pelarangan dan restu dari orang tua saling berkecamuk satu sama lain. Air mata mengutik di setiap lambaian tangan perpisahan. Rona merah dan lekuk keriput wajah orang tua, menyayat dan mengiris batin perlahan-lahan. Derai air mata pun harus terjatuh dalam rangkulannya. Keputusan sudah bulat, perjuangan harus dilanjutkan dengan membuka mata di setiap persinggahan dan belajar dari setiap orang yang aku temui. Pada akhirnya, aku menemukan di setiap tempat menemukan orang cerdas tanpa guru, orang cinta pengetahuan, orang peduli kreativitas orang lain, guru yang menghargai anak didiknya, dan peduli terhadap muridnya.

Di tanah lahirku, aku senantiasa bergelut dengan orang-orang serupa di tanah rantau membimbing dan menunjukkan jalan pengetahuan. Orang-orang ini pula menuntun jalanku sampai ke tanah rantau menimba ilmu di sumur pengetahuan di tanah Yogyakarta. Perjalanan yang tertatih dengan bekal seadanya membutuhkan strategi bertahan hidup di tanah rantau. Impian utama yang hendak aku wujudkan dengan kuliah di kampus ternama di negeri rantau. Aku melenting beberapa kampus dengan menyodorkan berkas-berkas lamaran menjadi mahasiswa pasca sarjana di kampus tersebut, berulang kali pula aku terpental dari setiap ujian yang aku lakoni. Kegagalan-kegagalan senantiasa mendekap, aku pun tak pernah patah arang berjuang mengais ilmu dan mempersiapkan masuk kampus tersebut. bermula dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), hingga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menghambur cerita yang dikabarkan dari setiap kampus, yang pada akhirnya aku tidak berjodoh dengan UGM. Tetapi, mendarat di IPB.

Dari lentingan beberapa kampus tersebut, aku belajar dari rahimnya dan mengais ilmu darinya. Beberapa pertemuan dengan mahasiswa empat perguruan tinggi tersebut, aku terus menggali catatan perjalanan hidup mereka dalam kampusnya. Mulai dari hubungan dosen dengan mahasiswa, hubungan birokrasi dengan mahasiswa, hubungan mahasiswa dengan mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, perpustakaan, buku-buku, dan gerakan sosial. Pertemuan itu aku tersadar betapa jauh aku tertinggal dari mahasiswa-mahasiswa itu.

Narasi di Balik Empat Kampus
Kurang lebih satu setengah tahun bermukim di Yogyakarta dan lima bulan di antaranya kugunakan belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur. Tidak bisa dimungkiri di rentang waktu itu aku menyinggahi beberapa tempat dan banyak menemui orang-orang, baik di kegiatan mahasiswa atau pun pertemuan yang tak disengaja di tempat makan atau ruang nongkrong. Dari pertemuan itu kadang melahirkan perbincangan yang sekedar basa-basi, sok kenal sok dekat dan pada akhirnya benar-benar kenal. Perbincangan serius pun kerap kali terjadi dan berjalan apa adanya.

Dari perbincangan itu aku berusaha memetik cerita dibalik perguruan tinggi UGM, UMY, UI, dan IPB. Di kampus ini aku menyimpang cerita dan kenangan dalam pertemuannya. Di UGM aku terpental dua kali dalam seleksi mahasiswa pasca sarjana, satu kali di UI, Lolos di UMY dan IPB. Pada akhirnya, aku memilih kuliah di IPB. Dari perjalanan itu aku menjajaki cerita setiap kampus tersebut.
Aku mengungkai cerita sahabat sekaligus kakak kuliah di UGM berinisial AS. Ia menceritakan kepadaku bahwa di UGM ia menemui dosen-dosen yang sangat bersahaja terhadap mahasiswa. Dosen bergaul seperti seorang sahabat dan berdiskusi dengannya. Bahkan, dosennya kerap meneleponnya untuk kuliah dan bimbingan tesis. Begitu pun, di saat dia kuliah S3 dan bimbingan disertasi. Kebersahajaan dosen-dosen tidak hanya di rasakan oleh mahasiswa pasca sarjana tetapi juga oleh mahasiswa program sarjana.

Bukan pula rahasia bahwa UGM memiliki koleksi buku dan literatur puluhan ribu eksemplar di perpustakaannya. UGM pula memiliki perpustakaan di setiap fakultas bahkan sampai di tingkat jurusan. UGM adalah universitas langganan jurnal internasional terbanyak di Indonesia. Di UGM mahasiswa dimanjakan dengan akses literatur yang mudah sehingga tidak heran jika UGM menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mempuni. Penghargaan UGM terhadap mahasiswa dengan memberikan ruang berekspresi terhadap mahasiswa mulai dari kegiatan kelembagaan di malam hari serta menampung suara kritis mahasiswa. UGM tidak pernah membungkam nalar kritis mahasiswanya. Tidak ayal, kita bisa temui mahasiswanya yang beraliran marxian.

Sedangkan, di UMY di jurusan hubungan internasional memfasilitasi mahasiswanya dengan menerbitkan skripsi mahasiswa yang berkualitas. UMY terus mendorong mahasiswanya terus berkarya dalam pengembangan inovasi teknologi dan penguatan intelektual. Pihak UMY pun memberikan insentif pada setiap dosen yang menerbitkan buku ataupun karya tulis ilmiah. UMY tidak sungkan-sungkan mengeluarkan dana bagi dosen yang sedang melakukan penelitian dan publikasi. Apatah lagi, dosen yang ingin mengikuti konferensi internasional.

Di UI kampus paling aktif mulai dari pagi hari sampai malam hari. Aktivitas mahasiswa tidak pernah dibatasi, mahasiswa pun tidak dikekang oleh aturan yang ketat. Berdasarkan, pengakuan dari mahasiswa pasca sarjana UI berinisial Z dan E menyatakan bahwa perkuliahan di sangat menekankan kebebasan dan kualitas. Kualitas mahasiswa dinilai dari tugas-tugas makalah, artikel ilmiah, dan review jurnal yang dibuatnya. Mahasiswa pun dituntut dalam setiap diskusi mengedepankan data dan landasan teoritis yang kuat. Di program sarjana UI pengajaran dalam kelas sudah dikombinasikan dengan bahasa inggris dan bahasa Indonesia.

Jika di UI menekankan kebebasan, di IPB sistem yang bekerja dengan cukup kaku. Pemberlakuan aturan akademik kemahasiswaan cukup ketat termasuk dalam penilaian dan kehadiran mahasiswa dalam kelas. Tetapi, IPB sangat menghargai suara mahasiswanya dan sangat mengapresiasi mahasiswa yang berprestasi. Tidak ada kampus yang aku temui memajan foto mahasiswanya yang berprestasi dan memberikan ucapan selamat dari pihak kampus dan dosen atas prestasi yang dicapai oleh anak didiknya melalui baliho atau insentif khusus. Pihak IPB pun menyediakan media centre untuk memajang hasil inovasi dan karya mahasiswa IPB. Beberapa tulisan dosen yang dimuat di koran ditempel di majalah dinding (mading). Itu aku temui di depan sekret jurusan Sosiologi Pedesaan.

Di IPB pun saya merasakan nuansa akademik yang sangat berbeda dari kampus asalku. Budaya membaca dan menulis sangat ditekankan dalam proses akademik. Di IPB budaya meniru dan plagiat terutama pada tugas sangat tidak dianjurkan dan langsung diberikan sanksi berat dari pihak kampus. Budaya ini sudah terbangun sejak dari strata satu di IPB sampai pasca sarjana. Mahasiswa pun didorong membaca jurnal internasional dan buku-buku bahasa inggris. Satu Minggu sebelum perkuliahan, salah satu dosen sudah menyerahkan lima buah buku dengan jumlah halaman sekitar 5000 halaman untuk dibaca lebih awal. Buku itu merupakan pengantar untuk memasuki ruang kuliah. Cerita yang sama aku dapatkan dari mahasiswa Universitas Teknologi Malaysia Johor baru bahwa mahasiswa di sana telah terbiasa dengan literatur bahasa inggris dan mahasiswa yang menulis dengan bahasa inggris difasilitasi untuk menerbitkan karyanya di jurnal internasional.

Dari perjalanan empat kampus ini dengan membandingkan kampus asalku dengan kabar terakhir yang aku terima. Aku cukup miris mendengarnya ketika terjadi pelarangan kelompok tertentu membawakan materi dalam diskusi mahasiswa dan pencopotan-pencopotan aspirasi mahasiswa di mading-mading mahasiswa. Ketika kampus-kampus lain menyiapkan mahasiswanya berpikir kritis, dan mendorong mahasiswanya membaca dan menulis di jurnal internasional. Beberapa oknum Universitas Negeri Makassar (UNM) masih saja sibuk mengurusi mading-mading mahasiswa. Itu pertanda bahwa ada ruang sosial yang sedang disfungsional. Ketika nalar kritis mahasiswa bertumbuh dan berkecamuk berarti kampus itu sedang tidak baik-baik saja.

Pencopotan tulisan-tulisan di mading dan pengancaman pembredelan koran profesi tentunya mengungkung ruang ekspresi mahasiswa. Sudah saatnya pihak UNM tidak terusik dengan nalar kritis mahasiswa, pihak kampus sudah seharusnya memikirkan pengembangan kualitas mahasiswa. UNM pun harus menyiapkan fasilitas akses literatur terhadap mahasiswanya. Jika dibandingkan dengan empat universitas yakni UGM, UI, UMY, dan IPB, UNM sangat jauh tertinggal dari ketersediaan literatur.

Dari pelayanan akademik pun UNM sangat jauh tertinggal. Satu urusan saja bisa berhari-hari pulang pergi di kampus kadang tidak selesai. Di IPB saja, pihak administrasi mahasiswa program studi sosiologi pedesaan, informasi waktu kuliah hampir tiap hari kita diingatkan. Di IPB ketika mahasiswa mendapatkan kendala administratif justru pihak kampus yang mengurus dan menelepon pihak-pihak yang terkait. Pegawai pun kadang lebih sibuk dari pada mahasiswa. Hal serupa bisa ditemui di kampus UI. Tapi, pegawai-pegawai itu tidak pernah bekerja mencabut-cabuti pengumuman di majalah dinding mahasiswa.

Sekelumit cerita ini merupakan tulisan ringkas yang harus dikabarkan, babakan tulisan ini merupakan potongan cerita yang terburai di tanah rantau di antara keprihatinan dan kepedulian terhadap kampusku sendiri. mungkin, Catatan ini merupakan kumpulan catatan tanpa tanda baca, yang sudah sepatutnya diabaikan apabila masih ingin memelihara kegelapan.

Sampean, Lahir di Bulukumba, 10 Februari 1989. Penulis Pernah Bergiat di Komunitas Belajar Menulis (KBM) di Yogyakarta. Alumni Sosiologi UNM. Dan, sementara menempuh pendidikan pasca sarjana Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor (IPB).

To Top