Literasi

Hardiknas: Antara Merayakan dan  Menertawakan Diri Sendiri

Muh. Nur Fajar. Sekretaris Korwil Semmi Sul-Sel 2025-2027

Oleh : Muh. Nur Fajar*

OPINI, EDUNEWS.ID – Setiap tanggal 2 Mei, kita kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Ucapan selamat berseliweran, poster inspiratif dipajang dimana-mana, dan pidato-pidato penuh harapan kembali dibacakan. Namun di tengah semua seremoni itu, pernahkah kita benar-benar bertanya, apa yang sebenarnya sedang kita rayakan?

Apakah kita sedang merayakan lahirnya generasi yang tercerahkan? Ataukah kita hanya sedang merayakan sebuah sistem yang hingga hari ini masih pincang di banyak sisi?

Pendidikan seharusnya menjadi jalan untuk membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan berpikir, dan ketertinggalan. Namun realitasnya, dunia pendidikan kita justru masih berkutat pada masalah yang itu-itu saja dan ironisnya, terus dianggap biasa saja.

Guru honorer masih berjuang dengan penghasilan yang jauh dari kata layak, padahal di pundak merekalah masa depan bangsa ini kita dititipkan. Banyak sekolah di pelosok masih berdiri dengan fasilitas seadanya, sementara di ruang-ruang rapat, pendidikan kerap dibahas dengan bahasa statistik tanpa benar-benar menyentuh akar persoalan. Yang lebih mengkhawatirkan, kita terlalu sibuk mencetak angka, tetapi lupa membentuk manusia yang berkarakter.

Neil Postman, dalam The End of Education, pernah mengingatkan bahwa ketika pendidikan kehilangan makna, sekolah tak lebih dari bangunan yang memenjarakan rasa ingin tahu. Murid datang untuk patuh, bukan untuk berpikir. Guru mengajar demi sebuah target, bukan demi perubahan dan sekolah perlahan berubah menjadi pabrik yang memproduksi ijazah, bukan tempat lahirnya manusia merdeka.

Kegelisahan baru kita hari ini adalah ketika pendidikan mulai diukur dengan logika industri: yang tak menghasilkan keuntungan dianggap tak penting, yang tak sesuai kebutuhan pasar dianggap tak layak dipertahankan. Kampus perlahan diarahkan menjadi ruang pencetak tenaga kerja, bukan lagi ruang tumbuhnya gagasan, kritik, dan kebebasan berpikir. Ketika pendidikan hanya tunduk pada kebutuhan industri, maka ilmu kehilangan kemerdekaannya dan manusia perlahan direduksi menjadi sekadar alat produksi saja.

Barangkali salah satu tantangan terbesar guru hari ini bukan lagi bagaimana mendidik murid yang bermasalah, melainkan bagaimana menghadapi orang tua yang tak siap menerima kenyataan bahwa anaknya sedang dibentuk oleh proses pendidikan. Teguran dianggap ancaman, disiplin dianggap tekanan, dan guru kerap berada pada posisi serba salah antara menegakkan nilai pendidikan atau meredam amarah orang tua.

Lalu, apakah pendidikan hari ini sedang membangun peradaban atau hanya memproduksi lulusan semata?

Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi hari evaluasi, bukan hanya sekadar seremoni belaka saja. Sebab bangsa yang gagal membenahi pendidikan tentunya sedang menyiapkan masa depan yang rapuh dengan tangannya sendiri.

Dan jika masalah-masalah ini terus dibiarkan begitu saja, maka yang kita rayakan setiap 2 Mei bukanlah kemajuan pendidikan, melainkan kemampuan kita menormalisasi kegagalannya.

Muh. Nur Fajar. Sekretaris Korwil Semmi Sul-Sel 2025-2027

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kerjasama dan Mitra silakan menghubungi 085171117123

Kirim Berita

  • redaksi@edunews.id
  • redaksiedunews@gmail.com

ALAMAT

  • Branch Office : Gedung Graha Pena Lt 5 – Regus – 520 Jl. Urip Sumoharjo No. 20, Pampang, Makassar Sulawesi Selatan 90234
  • Head Office : Plaza Aminta Lt 5 – Blackvox – 504 Jl. TB Simatupang Kav. 10 RT.6/14 Pondok Pinang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12310. Telepon : 0411 366 2154 – 0851-71117-123

 

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com