JAKARTA, EDUNEWS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan “sinyal dingin” terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah. Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), IHSG kembali terpuruk dengan anjlok 129,12 poin atau 2,04% ke level 6.189,38 pada pukul 10.48 WIB.
Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi harian. Jika ditarik sejak awal Mei 2026 yang sempat berada di kisaran 6.900-an, IHSG kini telah mencatatkan akumulasi penurunan mendekati 10% hanya dalam kurun waktu tiga minggu. Kondisi ini mempertegas posisi pasar yang secara konsisten melakukan aksi jual sebagai respons atas ketidakpastian fundamental ekonomi nasional.
Pasar Butuh Kepastian
Meskipun Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) untuk RAPBN 2027 dalam Rapat Paripurna DPR kemarin, pasar tetap menunjukkan sikap skeptis. Investor tampaknya melihat adanya diskoneksi antara narasi optimisme yang dibangun pemerintah dengan realitas pahit di lapangan, seperti nilai tukar Rupiah yang terus tertekan hingga menembus level Rp17.700 per Dolar AS.
Dalam dunia investasi, pasar bertindak sebagai ‘detektor kejujuran’ yang tidak bisa dibungkam oleh pidato saja. Bagi pelaku pasar, data statistik yang dipaparkan pemerintah tidak memiliki bobot jika tidak disertai dengan langkah disiplin fiskal yang konkret untuk menambal defisit dan menahan laju inflasi.
Ujian Kepercayaan (Trust)
“Pasar sedang memberikan hukuman. Penurunan 10% di bulan Mei ini adalah cerminan hilangnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan fiskal ke depan. Mereka tidak melihat adanya solusi tuntas atas tekanan ekonomi yang ada,” ujar seorang analis pasar modal.
Kejatuhan IHSG ke level 6.100-an menjadi alarm keras bahwa kepercayaan (trust) adalah aset paling berharga yang kini mulai retak. Investor asing terpantau terus melakukan aksi jual bersih (net sell), memilih untuk memindahkan modal mereka ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi domestik.
Tanpa langkah eksekusi yang nyata dan keberanian untuk terbuka mengenai tantangan ekonomi yang sebenarnya, tekanan jual di bursa diperkirakan akan terus berlanjut. Pemerintah kini berada di titik krusial: apakah akan terus memoles narasi, atau jujur mengakui kondisi ekonomi dan mulai menempuh kebijakan yang benar-benar kredibel di mata investor. (*)
