MAKASSAR, EDUNEWS.ID– Guncangan hebat di pasar keuangan dalam negeri kian tak terkendali dan berada dalam fase kritis. Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) dilaporkan terjun bebas tanpa rem pada perdagangan Senin pagi (18/5/2026). Ambruknya pasar modal domestik yang sangat ekstrem ini menjadi sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi nasional, sekaligus menguji daya tahan arsitektur fiskal di bawah komando Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Memasuki pukul 09.55 WIB (10.55 WITA), gelombang kepanikan pasar (panic selling) semakin menjadi-jadi. IHSG longsor sedalam 274,39 poin atau anjlok tragis 4,08% ke posisi 6.448,92. Angka ini menunjukkan bahwa indeks tidak hanya melewati level psikologis 6.500, melainkan terseret dalam ke zona rendah baru di level 6.400 hanya dalam waktu kurang dari dua jam perdagangan.
Kondisi “berdarah” di lantai bursa ini menjadi kontras yang sangat menohok di tengah optimisme makro ekonomi yang selama ini ditekankan pemerintah. Pelaku pasar kini melemparkan pertanyaan besar: dengan pelarian modal (capital outflow) asing yang begitu masif, apakah Menkeu Purbaya masih bisa tersenyum mempertahankan target-target fiskalnya?
Data perdagangan mencatat tekanan jual yang luar biasa masif dengan 208 saham bergerak terkoreksi, sementara hanya 134 saham yang mampu bertahan menguat, dan 349 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi awal melesat tinggi didorong oleh aksi lepas barang yang padat sejak bel pembukaan dimulai.
Rebalancing Global MSCI-FTSE & Krisis Selat Hormuz
Kejatuhan ekstrem IHSG hingga minus lebih dari 4% ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif eksternal dan internal. Di dalam negeri, kelanjutan aksi lego saham kapitalisasi besar (big caps) milik sejumlah konglomerat papan atas serta emiten raksasa seperti DSSA terus menekan indeks. Aksi ini merupakan dampak lanjutan dari review indeks internasional Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan FTSE yang memaksa fund manager asing merestrukturisasi portofolio mereka secara agresif.
Kondisi babak belur ini memperparah tren negatif pekan lalu, di mana bursa saham domestik sudah rontok 3,5% dan rupiah melemah 0,58%. Pekan ini, dengan posisi IHSG yang amblas ke 6.448, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dipastikan akan jauh lebih berat.
Ujian Nyata Fiskal Menkeu Purbaya
Pelaku pasar keuangan kini menanti respons cepat dari otoritas keuangan. Fokus investor tertuju pada bauran kebijakan strategis antara Kemenkeu yang dinakhodai Purbaya Yudhi Sadewa dengan Bank Indonesia, yang dijadwalkan akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG BI) untuk merespons fluktuasi pasar dan kebijakan suku bunga.
Sentimen luar negeri pun ikut memperkeruh suasana, di mana pasar global tengah bersiap menanti rilis data ekonomi China hari ini serta risalah rapat Bank Sentral AS (FOMC Minutes dari The Fed) pada Rabu (21/5/2026) nanti.
Eskalasi Geopolitik Global Membakar Bursa Asia
Kepanikan di dalam negeri bergerak lurus dengan rontoknya bursa regional Asia-Pasifik. Investor global didera kecemasan akut setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran untuk “bertindak cepat”, yang langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia di atas 1% akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Minyak Brent merangkak naik ke US$110,72 per barel, dan WTI menguat ke US$107,26 per barel.
Dampaknya, mayoritas bursa utama Asia memerah. Indeks Kospi dan Kosdaq di Korea Selatan anjlok parah di atas 2%. S&P/ASX 200 Australia turun 0,76%, dan Hang Seng Hong Kong terperosok ke level 25.733 akibat berlanjutnya blokade ketat AS di pelabuhan Iran serta penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.
Profit Taking Wall Street Perparah Keadaan
Sentimen buruk bawaan juga datang dari bursa Wall Street akhir pekan lalu, yang ditutup melemah signifikan akibat aksi ambil untung (profit taking) massal pada sektor teknologi. Tingginya valuasi sektor Artificial Intelligence (AI) memicu koreksi tajam; Nvidia turun 4,4%, Intel rontok 6%, serta AMD dan Micron Technology merosot di atas 5%. Tekanan ini menyeret S&P 500 minus 1,24% dan Nasdaq melemah 1,54%.
Dengan kejatuhan IHSG yang mencapai 4,08% menjelang siang ini, pasar modal domestik berada dalam situasi krusial. Publik kini menunggu langkah taktis dan intervensi nyata dari Menkeu Purbaya bersama regulator pasar modal untuk menenangkan psikologis pasar sebelum senyum optimisme ekonomi itu benar-benar lenyap diterpa badai global. (*)
