Kampus

Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi Tak Sesuai dengan Kebutuhan Dunia Kerja

Ribuan mahasiswa mengikuti kegiatan awal mahasiswa baru UI (kamaba UI) di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Dilema memasuki perguruan tinggi juga bisa dialami siswa Indonesia. Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Arief Rachman memaparkan kualitas lulusan perguruan tinggi tak sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

“Selama ini mahasiswa hanya disuruh belajar untuk lulus jadi sarjana. Mereka hanya mengejar status bukan proses untuk menjadi sarjana. Akhirnya mereka jadi tak punya pemahaman apa-apa terhadap proses pendidikan yang sudah dilalui,” ujarnya, seperti yang dilansir dari Antara.

Sementara itu, JobsDB, sebuah portal pencari kerja memaparkan lebih dari 66 ribu lulusan sarjana baru di Indonesia tidak terserap perusahaan dan berpotensi menjadi pengangguran, sementara jumlah lulusan sarjana baru setiap tahun mencapai sekitar 250 ribu.

Sulitnya lulusan universitas lokal memperoleh pekerjaan sudah terlihat dari angka pengangguran terdidik Indonesia yang meningkat setiap tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi.

Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (S-1). Dari jumlah itu, penganggur paling tinggi merupakan lulusan universitas bergelar S-1 yang mencapai 495.143 orang.

Angka pengangguran terdidik pada 2014 itu meningkat dibandingkan penganggur lulusan perguruan tinggi pada 2013 yang hanya 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang).

Berdasarkan hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014 mengungkap, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

Masih menurut hasil studi itu, semestinya perusahaan tidak sulit mencari tenaga kerja, sebab angka pertumbuhan lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahun selalu bertambah. Sementara itu, angka permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja selalu lebih rendah dari pada jumlah lulusannya.

“Setelah India dan Brasil, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan universitas lebih dari 4 persen dan rata-rata surplus 1.5 persen per tahun. Tapi, perusahaan tetap kesulitan mendapatkan karyawan yang berpotensi tinggi,” kata Consultant Director, Willis Tower Watson Indonesia, Lilis Halim.

Ia menambahkan susah terserapnya lulusan perguruan tinggi Indonesia karena tidak memiliki skill yang dibutuhkan perusahaan dan tidak punya critical skills. Kampus seperti tidak memberikan peningkatan pada kemampuan sumber daya manusianya.

“Skill adalah langkah utama memasuki dunia kerja, setelah itu harus punya critical skills jika ingin berkembang dan masuk jajaran manajemen perusahaan,” kata Lilis.

Berdasarkan studi itu, Lilis mengatakan di era digital saat ini lulusan perguruan tinggi juga harus punya digital skills, yaitu tahu dan menguasai dunia digital. Agile thinking ability (mampu berpikir banyak skenario) serta interpersonal and communication skills -(keahlian berkomunikasi sehingga berani adu pendapat).

Terakhir, menurut dia, para lulusan juga harus punya global skills. Skil tersebut meliputi kemampuan bahasa asing, bisa padu dan menyatu dengan orang asing yang berbeda budaya, dan punya sensitivitas terhadap nilai budaya.

Ini berarti pengalaman jauh lebih penting dari ijazah jika ingin bisa bersaing dalam bursa lapangan kerja yang bergengsi.

To Top