Kampus

Mahalnya UKT Tak Dibarengi dengan Peningkatan Fasilitas Kampus

ILUSTRASI

PALEMBANG, EDUNEWS.ID – Mahalnya uang kuliah tunggal (UKT) sudah lama dikeluhkan oleh mahasiswa. Memang belum ada laporan mahasiswa yang stop out atau drop out (SO/DO).

“Tapi hampir seluruh mahasiswa mengeluhkan UKT yang tak dibarengi fasilitas kampus,” ujar Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIN Raden Fatah Palembang, Fahriyadi Pohan, Selasa (24/1/2017).

Fasilitas yang tidak mendukung itu seperti kelas perkuliahan kurang, AC sering mati, dan toilet tidak terawat.

“Jadi kami meminta UKT diturunkan saja,” sebutnya.

Presiden BEM Unsri, Rahmat Farizal menilai, sejatinya amanat UU bahwa pendidikan harus dirasakan semua golongan orang kaya atau miskin. Sayangnya, kata dia, dari data statistik hanya 2-3 persen saja penduduk Indonesia kuliah. Bahkan, dia menyebut UKT banyak tidak tepat sasaran dan nominalnya sangat besar.

“Artinya, UKT selama ini belum menjadi solusi bagi masyarakat miskin yang mau kuliah. Banyak yang tidak mampu, tapi UKT-nya tinggi,” terangnya.

Tapi ironisnya, UKT juga sulit turun padahal selayaknya UKT Unsri pun perlu dievaluasi mengingat banyak mahasiswa kesusahan. Diakuinya, saat ini belum ada mahasiswa DO karena tak mampu membayar UKT.

“Tapi sudah ada 22 mahasiswa kesulitan membayar hingga meminta penundaan pembayaran. Mereka kebanyakan mahasiswa jalur USM,” cetusnya.

Ketua BEM Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri), Deni Trisna Jaya, berharap penerapan UKT sesuai dengan pendapatan orang tua mahasiswa.

“Kalau ada keluhan mahasiswa, kami selalu menyampaikannya kepada pimpinan Polsri agar bisa diatasi,” ujarnya.

Apakah diberikan beasiswa, atau semacamnya agar ini tak jadi kendala. Tak hanya di kalangan mahasiswa, besarnya biaya kuliah juga jadi perbincangan calon mahasiswa yang kini duduk di kelas III SMA sederajat. Mereka yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi kini berpikir ulang.

To Top