Kampus

Ada Kekerasan, Akreditas Kampus Bisa Turun

Anggota Komisi X DPR Esti Wijayanti

YOGYAKARTA, EDUNEWS.ID – Anggota Komisi X DPR Esti Wijayanti meminta kasus kekerasan di dunia pendidikan harus diselesaikan secara tegas dan tuntas. Bahkan, tidak hanya pelaku yang nantinya akan dihukum berat. Namun, lembaga pendidikan pun akan terancam penurunan akreditasi.

Esti menegaskan, DPR tidak hanya berbicara pada konteks kasus kekerasan yang menimpa mahasiswa UII saat pendidikan dasar mapala. Namun, kasus kekerasan juga terjadi di lembaga pendidikan tinggi lainnya. Berkaca dari hal itu, ada perlunya dibuat aturan tegas supaya kejadian tersebut tidak berulang kembali.

“Usulan supaya ada hukuman penurunan akreditasi bagi perguruan tinggi tersebut sudah kami bahas bersama Menteri Riset teknologi dan Pendidikan Tinggi saat rapat kerja Rabu (25 Januari 2017) lalu,” ujarnya, Minggu (29/1/2017).

Menurut Esty, topik bahasan dengan Menristekdikti adalah membuat regulasi yang tegas. Tidak hanya pada pejabat atau pimpinan perguruan tinggi. Namun, perguruan tinggi juga bertanggung jawab atas kegiatan yang dilakukan civitas akademisnya.

“Maka, jika kekerasan masih berulang, akreditasinya bisa diturunkan. Saya tidak mengatakan UII harus turun akreditasinya karena belum ada aturan, maka kami dorong dibuat aturannya,” ujarnya.

Esti menuturkan, pelaku kekerasan juga harus diproses hukum. Dia berharap kasus ini bisa diusut tuntas sekaligus memotong mata rantai kekerasan di perguruan tinggi.

Menurut Esti, kasus kekerasan di UII sudah menjadi perhatian nasional sehingga publik juga berhak tahu peristiwa yang terjadi sebenarnya. Dia mendesak penegak hukum bisa bekerja secara transparan.

“Buka apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.

Esti juga menghormati keputusan pengunduran diri rektor serta wakil rektor III UII. Meski demikian, pengunduran diri tidak kemudian menjadikan tanggung jawab keduanya selesai.

“Pengunduran diri Pak Rektor sebagai rasa tanggung jawab, saya hormati tetapi dengan pengunduran diri, bukan berarti selesai,” tuturnya.

To Top