Opini

Pesantren, Gotong Royong, dan Jalan Kemenangan di Tengah Krisis Global

Robert Edy Sudarwan

Oleh: Robert Edy Sudarwan*

 OPINI, EDUNEWS.ID – Dunia sedang bergerak dalam ketidakpastian. Krisis global bukan lagi sekadar isu ekonomi, tetapi telah menjelma menjadi krisis peradaban ketika sistem yang dibangun di atas utang, spekulasi, dan akumulasi segelintir pihak mulai kehilangan legitimasi. Dalam situasi ini, kita membutuhkan bukan hanya solusi teknis, tetapi cara pandang baru tentang bagaimana ekonomi seharusnya dijalankan.

Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan warisan gagasan besar. Soekarno meletakkan fondasi gotong royong sebagai jiwa bangsa bahwa kekuatan kolektif adalah jalan utama menuju kemandirian. Sementara Mohammad Hatta menegaskan bahwa ekonomi harus dibangun di atas asas keadilan melalui koperasi bukan kapitalisme yang eksploitatif, tetapi ekonomi yang menempatkan manusia sebagai subjek, bukan objek.

Menariknya, nilai-nilai besar ini tidak berhenti sebagai wacana ideologis. Ia hidup, tumbuh, dan dipraktikkan secara nyata dalam tradisi pesantren. Pesantren adalah ruang di mana gotong royong bukan slogan, tetapi keseharian. Santri hidup bersama, berbagi, saling menopang. Kemandirian bukan diajarkan sebagai teori, tetapi dilatih dalam praktik dari mengelola kebutuhan harian hingga membangun unit usaha sederhana. Dalam banyak pesantren, kita melihat koperasi santri, dapur bersama, hingga usaha produktif yang menjadi tulang punggung keberlangsungan lembaga.

Inilah sintesa yang sering luput kita sadari: pesantren adalah pertemuan antara nilai gotong royong ala Soekarno, ekonomi kerakyatan ala Hatta, dan prinsip keadilan dalam ekonomi Islam. Lebih dari itu, pesantren bukan institusi yang statis. Ia adaptif terhadap laku zaman. Dari masa kolonial hingga era digital hari ini, pesantren terus bertransformasi tanpa kehilangan jati dirinya. Ia mampu menyerap teknologi, membuka diri terhadap perubahan, sekaligus menjaga nilai-nilai dasar yang menjadi ruhnya.

Di sinilah letak kekuatan strategis pesantren dalam menghadapi krisis global. Ketika dunia menghadapi disrupsi rantai pasok, pesantren justru memiliki potensi membangun rantai nilai berbasis komunitas. Ketika ekonomi global rentan terhadap spekulasi, pesantren bertumpu pada sektor riil. Ketika individualisme menjadi arus utama, pesantren menawarkan kolektivitas.

Bayangkan jika konsep ini diangkat menjadi cara pandang bersama. Pesantren tidak lagi diposisikan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai hub ekosistem ekonomi umat. Setiap pesantren menjadi simpul produksi, distribusi, dan konsumsi yang saling terhubung. Apa yang diproduksi oleh satu pesantren menjadi kebutuhan bagi pesantren lain. Alumni menjadi jembatan ke pasar yang lebih luas. Masyarakat sekitar menjadi bagian dari ekosistem yang hidup dan tumbuh bersama.

Model ini sejatinya adalah koperasi dalam skala besar koperasi peradaban. Namun untuk menjadikannya nyata, kita membutuhkan langkah yang terstruktur dan kolektif. Pertama, membangun kesadaran bersama bahwa ekonomi umat adalah tanggung jawab bersama. Gotong royong harus dimaknai ulang dalam konteks ekonomi modern bukan sekadar kerja bakti, tetapi kolaborasi sistematis dalam produksi dan distribusi. Kedua, mengkonsolidasikan kekuatan pesantren dalam satu jaringan ekonomi terintegrasi. Tidak boleh ada lagi pesantren yang berjalan sendiri. Harus ada orkestrasi: siapa memproduksi, siapa mendistribusikan, siapa memasarkan.

Ketiga, menghidupkan kembali semangat koperasi dalam wajah baru yang lebih adaptif. Koperasi pesantren tidak cukup hanya menjadi toko kecil, tetapi harus naik kelas menjadi holding bisnis, bahkan platform digital yang menghubungkan seluruh ekosistem. Keempat, mengoptimalkan instrumen ekonomi Islam seperti wakaf produktif, zakat, dan dana abadi sebagai sumber pembiayaan utama. Inilah keunggulan kita: memiliki sistem keuangan sosial yang tidak dimiliki oleh ekonomi konvensional.

Kelima, mempercepat transformasi digital. Tanpa teknologi, ekosistem ini akan berjalan lambat. Dengan teknologi, jaringan pesantren dapat menjadi kekuatan ekonomi yang terhubung secara nasional bahkan global. Keenam, menyiapkan generasi santri yang tidak hanya alim secara spiritual, tetapi juga unggul secara ekonomi. Santri harus menjadi pelaku utama entrepreneur, inovator, dan pemimpin ekonomi umat.

Jika semua ini berjalan, maka kita tidak hanya membangun ketahanan, tetapi menciptakan daya saing global. Dunia saat ini sedang mencari model baru ekonomi yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga adil dan berkelanjutan. Pesantren, dengan seluruh nilai yang dikandungnya, memiliki potensi untuk menawarkan model tersebut kepada dunia.

Namun ini tidak akan terjadi jika kita masih memandang pesantren secara sempit. Kita harus mulai melihat pesantren sebagai pusat peradaban ekonomi baru. Tempat di mana nilai, tradisi, dan inovasi bertemu. Tempat di mana gotong royong, koperasi, dan ekonomi Islam bukan hanya konsep, tetapi praktik hidup. Dan lebih dari itu, kita harus bergerak bersama. Karena dalam sejarahnya, tidak pernah ada kemenangan besar yang lahir dari kerja sendiri-sendiri. Kemenangan selalu lahir dari kekuatan kolektif yang terorganisir. Hari ini, pesantren telah memiliki semua fondasi itu. Tinggal satu hal yang dibutuhkan: keberanian untuk mengorkestrasi dan menggerakkannya.

Jika itu terjadi, maka pesantren tidak hanya akan menjadi benteng di tengah krisis, tetapi juga lokomotif yang membawa umat menuju kemenangan bukan hanya di tingkat nasional, tetapi di panggung global.

 

Penulis merupakan Direktur Eksekutif DEN WIZSTREN (Wakaf Zakat Infaq Shodaqoh Pesantren) Indonesia, dan Dosen Program Pascasarjana UNUJA (Universitasi Nurul Jadid) Paiton Probolinggo, berbasis pesantren

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kerjasama dan Mitra silakan menghubungi 085171117123

Kirim Berita

  • redaksi@edunews.id
  • redaksiedunews@gmail.com

ALAMAT

  • Branch Office : Gedung Graha Pena Lt 5 – Regus – 520 Jl. Urip Sumoharjo No. 20, Pampang, Makassar Sulawesi Selatan 90234
  • Head Office : Plaza Aminta Lt 5 – Blackvox – 504 Jl. TB Simatupang Kav. 10 RT.6/14 Pondok Pinang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12310. Telepon : 0411 366 2154 – 0851-71117-123

 

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com