Ekonomi

Soal Kenaikan Bunga Acuan, Bank Indonesia Hadapi Dilema

 
 
JAKARTA, EDUNEWS.ID – Bank Indonesia (BI) dinilai menghadapi dilema soal kenaikan suku bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate. Apabila bunga dinaikkan untuk meredam pelemahan rupiah lebih dalam, potensi kredit macet akan meningkat terutama akibat jor-joran kredit properti yang outstandingnya mencapai 800 triliun rupiah saat ini.
Akan tetapi, jika bunga acuan tetap dipertahankan maka pelarian modal atau capital outflow bakal makin deras karena negara-negara lain telah lebih dulu memperketat kebijakan moneter untuk merespons kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, Bloomberg mencatat kurs rupiah di pasar spot, Rabu (25/4/2018), melemah 0,23 persen menjadi 13.921 rupiah per dollar AS, dibandingkan hari sebelumnya.
Sedangkan pada kurs tengah BI, mata uang RI menguat 0,08 persen menjadi 13.888 rupiah per dollar AS. Ekonom Universitas Islam Indonesia (UII), Suharto, mengatakan BI tengah menghadapi situasi “maju kena mundur kena” terkait kebijakan bunga acuan untuk meredam tekanan pada rupiah.
Sebab, apabila menaikkan bunga acuan maka bunga kredit akan ikut naik, sehingga meningkatkan risiko kredit macet perbankan.
“Jangan salahkan faktor eksternal melulu. Bagaimana dengan jor-joran kredit properti hingga mencapai 800 triliun rupiah. Ini sangat tidak produktif, rentan macet akibat bubble property,” ungkap dia, Rabu (25/4/2018).
Menurut dia, aset jaminan kredit properti banyak yang digelembungkan supaya nilainya kelihatan besar. “Masak harga tanah bisa naik 500 persen dalam beberapa tahun. Jika gelembung pecah dan kreditnya macet, ini tanggung jawab siapa.”
Semestinya, lanjut Suharto, BI belajar dari krisis keuangan 1998 ketika perbankan kolaps yang dipicu oleh kredit macet properti. Dia menambahkan, kenaikan suku bunga acuan juga tidak sejalan dengan target pemerintah untuk mewujudkan bunga kredit rendah guna memacu pertumbuhan ekonomi.
Namun, jika BI terus mempertahankan bunga acuan di level 4,25 persen maka risiko capital outflow dan tekanan depresiasi rupiah akan meningkat. “BI tidak mungkin kuat menahan rupiah dengan terus mengintervensi pasar, ini akan menguras devisa,” tukas Suharto.
Sementara itu, Bloomberg, Rabu, mewartakan desakan agar bunga acuan dinaikkan kian meningkat setelah BI dinilai belum mampu meredam pelemahan rupiah hingga mencapai titik terlemah dalam dua tahun terakhir.
Ini memicu penjualan obligasi dan saham Indonesia. PT Bank Mandiri mengharapkan bank sentral menaikkan bunga awal kuartal ini untuk membendung hengkangnya investor dari obligasi dan saham. Mata uang RI, Rabu, jatuh menuju level terendah terhadap dollar AS dalam 27 bulan meski bank sentral telah mengintervensi pasar sejak awal Februari untuk menjinakkan fluktuasi rupiah.
Ini meningkatkan kekhawatiran bahwa upaya BI menjaga rupiah sia-sia ketika emerging market menghadapi tekanan akibat melonjaknya kurs dollar AS. “Bank Sentral AS kemungkinan mempercepat rencana kenaikan bunga acuan karena data ekonomi AS bagus dan inflasi menguat di sana,” ujar Presdir Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo.
“Jika Indonesia tidak merespons, kita akan tertinggal. Ini akan memicu penjualan obligasi dan saham.”
Dampak Depresiasi
Terkait dampak pelemahan rupiah, peneliti Indef, Bhima Yudhistira, menyatakan depresiasi rupiah akan berdampak ke banyak sektor, seperti potensi melambungnya harga barang, inflasi, dan beban utang naik.
Harga kebutuhan pokok bakal naik karena sebagian besar berasal dari impor. “Beras impor, gula rafinasi impor, garam juga impor. Jadi, kondisi ini pasti akan membuat importir akan menaikkan harga jualnya,” kata Bhima.

To Top