Hukum

Dahnil : Ada yang Perlu Diluruskan dengan Cara Berpikir Presiden

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah sekaligus Pendiri Madrasah Anti Korupsi (MAK)Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan ada yang perlu diluruskan terkait cara berpikir kepala negara Presiden Joko Widodo terkait kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Menurut Dahnil, kasus penyerangan dan teror bukan ditujukan kepada Novel secara pribadi, namun penyerangan terhadap agenda pemberantasan korupsi.

“Ini penyerangan terhadap agenda pemberantasan korupsi, penyerangan terhadap anda, penyerangan terhadap negeri ini,” ujar dia di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu malam (1/3/2018).

Untuk itulah, Dahnil menegaskan perlu dibetuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), mengingat kasus Novel hingga 10 bulan penyidikan tidak menunjukan perkembangan yang positif. Dan justru menurutnya, cenderung kepada penyidikan yang salah arah.

“Malah sekarang yang mau dikejar-kejar itu adalah Novel, seolah-olah mau dipersalahkan, enggak kooperatif lah, dituduh enggak ada BAP lah, padahal ada. Anda coba bayangkan, terakhir yang diperiksa saya, apa hubunganya saya dengan peristiwa itu?” lanjutnya.

“Jadi semua orang yang mau kritik diperiksa, semua orang yang pesismis dan enggak percaya polisi mau diperisa. Kan ada yang salah,” tambah Dahnil.

Tak hanya itu, dia justru menduga saat ini penyidikan polisi bukan berhadapan dengan kendala teknis penyidikan, melainkan kendala non teknis, yang sulit untuk dijangkau. Pasalnya, pangkat para penyidik KPK melawan orang yang memiliki high profil person, jadi persoalan.

“Non teknisnya apa? Politik. Bisa karena terkait high profil person, jadi karena dugaan kasus ini melibatkan orang yang punya pengaruh kuat, orang yang punya pangkat, atau seperti istilah Novel ada dugaan keterlibatan jenderal, itu yang menjadi halangan dan hambatan kasus ini dituntaskan secepat mungkin,” tuturnya.

“Dan faktanya setiap penyidikan terkait dengan yang ditangani polisi terkait orang-orang yang high profil atau sering kali kami sebutkan, jeruk makan jeruk, enggak pernah selesai,” pungkas Dahnil menambahkan.

To Top