Internasional

Berikut Negara yang Mampu Hadapi Corona tanpa Melakukan Lockdown

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Berbagai negara memberlakukan kebijakan yang beragam dalam menangani penyebaran wabah virus corona (Covid-19).

Sebagian negara seperti Selandia Baru, Malaysia, Denmark, India, hingga Italia menerapkan kebijakan penguncian wilayah (lockdown).

Kebijakan lockdown dinilai menjadi salah satu cara memutus rantai penularan corona dengan menahan arus keluar masuk individu terhadap suatu wilayah atau negara.

Meski begitu, ada beberapa negara yang justru mampu membendung penyebaran corona tanpa menerapkan lockdown seperti Korea Selatan, Taiwan hingga Islandia.

Korea Selatan

Korea Selatan sempat menjadi negara dengan kasus corona tertinggi kedua setelah China di awal masa penyebaran virus serupa SARS tersebut.

Pemerintahan Presiden Moon Jae-in dinilai berhasil menekan angka penularan corona dengan efektif dan terbilang cepat tanpa menerapkan kebijakan lockdown.

Dalam waktu kurang lebih tiga bulan, Korea Selatan turun peringkat dari semula negara kedua dengan kasus corona tertinggi menjadi kini ke-24 di dunia.

Menurut Kepala Departemen Kesehatan Publik Global University of Edinburgh, Profesor Devi Sridhar, model pemeriksaan massal yang diterapkan Korea Selatan adalah satu-satunya cara untuk mengatasi wabah.

Dikutip dari majalah Foreign Policy, Sridhar bahkan menyebut negara lain patut mencontoh Korea Selatan terkait sistem penanganan dan pemeriksaan virus corona.

Korea Selatan memiliki sekitar 51 juta populasi dan pemerintahan Presiden Moon melakukan tes corona terhadap lebih dari 20 ribu orang setiap harinya. Negeri Ginseng bahkan tak hanya mengandalkan rumah sakit saja sebagai tempat pemeriksaan corona.

Demi mempermudah warga, Korea Selatan bahkan membuka tes pemeriksaan Covid-19 melalui layanan drive-through di sejumlah daerah selain di ibu kota Seoul.

Korea Selatan juga cukup ketat mengawasi para pendatang dari luar negeri. Setiap pendatang dari luar negeri diwajibkan memasang sebuah aplikasi yang bisa memantau pergerakan mereka selama berada di Korsel.

Dalam aplikasi itu, para pendatang juga wajib mengisi pernyataan pribadi berupa kondisi kesehatan setiap hari. Aplikasi itu mampu melacak keberadaan para pendatang asing sehingga pemerintah mengetahui jika ada pendatang yang tidak melakukan karantina sesuai alamat yang dicantumkan setibanya di Korea Selatan

Setiap pelanggar akan diberi sanksi hingga deportasi. Seorang warga Indonesia pernah dideportasi pada awal April lalu setelah melanggar aturan karantina mandiri.

Islandia

Islandia mampu menekan angka penularan tanpa lockdown. Salah satu kunci keberhasilan Islandia juga terletak pada pemeriksaan massal terhadap para penduduknya.

Negara Nordik itu menjadi salah satu negara dengan tingkat pemeriksaan corona tertinggi dari pada negara dan wilayah lainnya di dunia. Hal itu tak luput dari jumlah penduduk dan wilayahnya yang relatif kecil.

Per hari ini, Islandia tercatat memiliki 1.711 kasus corona dengan 9 kematian. Berdasarkan data Worldometer, Islandia telah melakukan pemeriksaan terhadap 41.091 warganya.

Hal itu menggambarkan bahwa Islandia melakukan tes corona terhadap 120.416 warga dari setiap satu juta populasinya.

Dikutip The Guardian, Islandia bahkan melakukan tes terhadap setiap orang yang tidak menunjukkan gejala Covid-19. Sebab, berdasarkan hasil uji laboratorium, 50 persen kasus corona di Islandia tidak menunjukkan gejala apa pun

Taiwan (Republik China)

Taiwan berhasil menekan angka penularan kasus corona di wilayahnya tanpa menerapkan lockdown.

Sejak mendeteksi kasus corona pertama pada 21 Januari lalu hingga hari ini, Taiwan tercatat memiliki 422 kasus corona dengan enam kematian.

Dua kunci yang disebut sangat membantu Taiwan menekan angka penularan corona adalah pemeriksaan massal dan sikap pemerintah yang gesit.

Pemerintah Taiwan segera memeriksa para pendatang dan pesawat yang datang dari China, terutama Wuhan, sejak 31 Desember 2019. Saat itu, virus corona masih disebut virus misterius yang pertama kali muncul dan menyebar di Wuhan, China.

Selain itu, wilayah yang terletak hanya 100 mil dari daratan China itu juga langsung membuat sistem penelusuran kontak untuk melacak kemungkinan terduga pengidap corona, membangun sistem karantina mandiri, hingga meningkatkan produksi peralatan medis seperti masker dan APD sejak Januari lalu.

Belajar dari pengalaman menangani wabah SARS pada 2003 lalu, pemerintah Taiwan juga langsung mengambil alih produksi dan distribusi masker yang kini merupakan barang langka serta mahal di beberapa negara akibat wabah corona.

Pada level pemerintah, Taiwan segera membentuk pusat komando penanganan corona yang dipimpin kementerian kesehatan. Pusat komando itu bertanggung jawab mulai dari menangani segala sumber daya yang berkaitan dengan penanganan virus hingga menggelar jumpa pers rutin demi melaporkan perkembangan penanganan wabah kepada publik secara rutin.

Taiwan juga merilis pemetaan kluster penyebaran corona demi meningkatkan kewaspadaan pada setiap warganya.

Taiwan bahkan memanfaatkan teknologi dengan membangun sebuah aplikasi yang bisa mempermudah warga melacak keberadaan masker di setiap apotek dan toko obat.

Kantor imigrasi Taiwan juga memberikan akses bagi rumah sakit dan klinik untuk membuka riwayat perjalanan setiap suspect hingga pasien corona selama 14 hari terakhir demi memaksimalkan diagnosa dan pelacakan.

Terkait pemeriksaan massal, sejauh ini Taiwan telah melakukan pemeriksaan corona terhadap 53.632 orang dari total 23 juta warganya. Hal itu menggambarkan Taiwan melakukan tes corona terhadap 2.252 warga per satu juta populasinya.

cnn

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top