Nasional

PA 212 Curiga Tuntutan 6 Tahun HRS terkait Pilpres 2024

Wasekjen DPP PA 212, Novel Bamukmin.

JAKARTA, EDUNEWS.ID — Wasekjen DPP PA 212 Novel Bamukmin mencurigai tuntutan penjara 6 tahun Habib Rizieq Shihab (HRS) atas kasus RS Ummi didesain oleh peguasa zolim.

Hal itu, untuk membungkam perjuangan Habib Rizieq terhadap wacana Joko Widodo (Jokowi) jadi presiden tiga periode.

“Diduga kuat tuntutan (6 tahun HRS) pesanan para pemodal yang mengangkangi bangsa ini untuk membungkam ulama yang istiqomah. Sehingga menjadi korban untuk dibungkam minimal sampai tahun 2024 setelah Pilpres selesai,” kata Novel saat dihubungi Pojoksatu.id (jaringan Fajar.co.id), Selasa (22/6/2021).

Namun, kata Novel, pihaknya tak mau berlarut-larut perihal wacana Joko Widodo jadi presiden tiga periode.

Pasalnya, saat ini pihaknya fokus mengawal kasus kriminalisasi yang menjerat Imam Besar Habib Rizieq Shihab.

“Untuk bicara Pilpres sampai saat ini PA 212 belum ada pembahasan ke arah itu karna kami sangat fokus terhadap kasus kriminalisasi IB HRS,” ujar Novel.

Seperti diketahui, wacana untuk mengusung Joko Widodo jadi presiden tiga periode muncul kembali. Isu ini muncul kembali usai sekelompok relawan menyatakan mengusung Jokowi-Prabowo 2024.

Mereka ingin Jokowi maju kembali di Pilpres 2024 berpasangan dengan Prabowo Subianto.

Sebelumnya, pada 2019, wacana untuk mengusung Jokowi menjadi presiden selama tiga periode juga sempat ramai ketika ada wacana untuk amendemen UUD 1945.

Saat itu, dalam rencana amendemen terbatas UUD 1945 terungkap berbagai pendapat dari masyarakat terkait perubahan masa jabatan presiden.

Ada yang mengusulkan masa jabatan presiden menjadi delapan tahun dalam satu periode. Ada pula yang mengusulkan masa jabatan presiden menjadi empat tahun dan bisa dipilih sebanyak tiga kali.

Namun usulan tersebut langsung direspon oleh presiden Jokowi. Ia menegaskan tidak setuju dengan usul masa jabatan presiden diperpanjang menjadi tiga periode.

Ia curiga ada pihak yang mengusulkan wacana itu dengan sengaja untuk menjerumuskannya.

“Kalau ada yang usulkan itu, ada tiga (motif) menurut saya, ingin menampar muka saya, ingin cari muka, atau ingin menjerumuskan. Itu saja,” pungkas Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/12/2019).

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top