News

Potensi Munculnya Poros Baru Pilpres 2019

Oleh: Mohammad Jafar Loilatu

OPINI, EDUNEWS.ID – Tahun demokrasi yang akrab dengan diksi tahun “politik”, semakin ramai diperbicangkan pada kalangan elit politik, disamping persiapan Pilkada gelombang ketiga, partai politik sedang sibuknya mempersiapkan Pemilu serentak 2019. Komunikasi politik dibangun melalui elit partai tetapi hingga saat ini belum menemukan jawaban, hanya koalisi PDIP yang sudah menentukan arah bersama Partai Nasdem dan Hanura yang merupakan pengusung Jokowi-JK pada Pilpres tahun 2014, diikut dua partai yang beralih mendukung pemerintahan yakni Golkar dan PPP. Sedangkan Partai Gerindra hingga saat ini belum mendeklarasikan Prabowo sebagai Capres, meski mendapatkan tawaran sebagai Cawapres Jokowi, namun tawaran itu kan menutup keran demokrasi dengan hanya mempertemukan calon tunggal dengan kotak kosong.

Sejauh ini Gerindra bersama PKS masi solid untuk berkoalisi dan menolak bergabung bersama koalisi PDIP. Sedangkan tiga partai lainya yakni Partai Demokrat, PAN dan PKB berada pada posisi dilematis sehingga belum menentukan arah koalisinya meskipun terkesan sulit, selain bergabung bersama PDIP atau Gerindra, ataukah sebaliknya mengambil satu poros baru sebagai kekuatan alternatif Pilpres 2019. PKB dan PAN merupakan dua partai yang sejak awal melakukan komunikasi politik, tetapi peluang kedunya kecil untuk berada pada koalisi Jokowi dan Prabowo, PKB sejak awal menawarkan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai Cawapres Jokowi, PKB tidak dapat mengambil langkah berani untuk posisi Capres, karena posisi Cak Imin belum populer dibandingkan nama-nama lainya seperti Mahfud MD, Budi Gunawan, Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono. Hingga saat ini nama Cak Imin bersaing dengan Zulkifli Hasan dan Mahfud MD yang mewakili pemilih muslim .

Zulkifli Hasan sama halnya dengan Cak Imin, meski mendapat dorongan dari kader PAN untuk maju sebagai Capres atau Cawapres, dibandingkan Cak Imin, Zulkifli lebih dikenal karena menjadi ketua MPR, tetapi PAN ragu-ragu dalam mengambil langkah politik yang berani menggingat peluang koalisi yang kecil bersama dua Partai yang belum menentukan arah Partai Demokrat dan PKB. Berdasarakan perolehan kursi  PAN  mendapatkan 49 kursi dengan suara 7,59%, sedangkan PKB mendapatkan 47 kursi dengan suara 9,04%, Koalisi keduanya tidak memungkinan dengan prosentasi suara yang tidak mencapai 20%, maka Partai Demokrat adalah kunci koalisi dan juga sebagai poros baru dengan perolahan kursi 61 dan suara 10,19%.

Tetapi jika ketiga partai ini berkoalisi maka siapa yang akan dicalonkan sebagai Capres dan Cawapres, popularitas AHY berdasarakan survei LSI menempati posisi ketiga dengan 71,2% disusul Gatot 56,5%, sedangkan Prabowo diposisi pertama dengan popularitasnya 90,2% disusul Anies 76,7%. Keempat nama tersebut adalah penantang Jokowi dengan populartias tertinggi. Maka dengan popuralitas demikian Demokrat tidak memiliki peluang besar untuk mengusung AHY juga berkoalisi dengan PAN dan PKB dan memunculakn Cak Imin atau Zulkifli sebagai Capres atau Cawapres.

Hingga saat ini Jokowi belum menemukan penantang yang sebanding selain Prabowo yang elektbilitasnya semakin menurun, survei empat lembaga menunjukan elektabilitas Jokowi masi diatas dibandingkan Prabowo. SMRC misalnya survei tanggal 7-13 September 2017 menempatkan Jokowi 38,9%, Prabowo 10,5%. Indo Barometer survei tanggal 15-23 November 2017 Jokowi 34,9%, Prabowo 12,1%. Polmark survei 13-25 November 2017 Jokowi 50,2%, Prabowo 22,0%. Poltracking survei 8-15 November Jokowi 53,2%, Prabowo 30,0% (Detik 02/02/2018).

Poros Baru dan Capres Alternatif

Poros baru adalah langkah alternatif untuk menggunguli Jokowi di Pilpres 2019, juga sebagai alternatif atas jawaban elektabilitas Capres lain yang fluktuatif. Poros baru akan memunculkan Capres alternatif yang mampu menyaingin Jokowi, seperti langkah Megawati mencalonkan Jokowi di Pilpres 2014, dan langkah tersebut sebagai alternatif untuk memenangkan Pilpres di tahun 2014. Siapa kemudian yang menjadi alternatif penantang Jokowi?, TGH Muhammad Zainul Majidi atau Tuan Guru Bajang (TGB), Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dua periode (2008-2013, 2013-2018) dan anggota DPR RI Bidang Pendidikan, Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Kesenian dan Kebudayaan Komisi X (2004-2009).

Jokowi dan TGB memiliki pengalaman yang sama Jokowi Walikota Solo dua periode, TGB Gubernur NTB dua periode pula dan Jokowi dicalonkan pada Pilpres 2014 meski masa bakti Gubernur DKI belum selesai. Prosentase kemenagan TGB lebih besar dari Jokowi, TGB mewakili basis pemilih muslim. Jika sebelumnya Jokowi menggandeng JK sebagai penguat suara pemilih muslim. Jika poros baru yang dipilih, maka kedua partai selain Demokrat, PKB dan PAN harus legowo untuk menarik dua nama Cak Imin dan Zulkifli, karena kedua mewakilii pemilih muslim, untuk mewakili suara sipil maka Panglima TNI Gatot Nurmantiyo tepat untuk mendampingi TGB, TGB-Gatot adalah duel yang mampu manarik pemilih Jokowi dan Prabowo, jika kontestasi diikuti oleh tiga pasang calon. Sebaliknya jika hanya diikuti oleh dua pasang calon maka TGB adalah alternatif menggantikan Prabowo atau berpasangan dengan Prabowo, tetapi duet ini akan lebih sengit jika Jokowi didampingin oleh Cawapres yang mampu merepresntasikan pemilih muslim.

TGB dikenal sebagai pemipimpin dengan latar belakang agama yang baik, menamtakan studi di Kairo juga dikenal sebagai ulama. Representasi TGB mampu meraup suara dari pemilih muslim. Meski survei Populi Center Jokowi unggul pada pemilih muslim,  NU dengan 66,0%, Muhammadiyah dengan 56,4%, Persisi dengan 61,9%, diluar organiasi 57,1%, sedangkan pemilih Prabowo pada NU 25,4%, Muhammadiyah 34,6%, Persisi 28,6%, pemilih diluar organisasi 27,3% (Kompas 28/02/2018). Tetapi TGB memiliki latar belakang sebagai tokoh agama yang moderat dan juga tokoh politik yang relijius, maka peluang bergesarnya suara tiga organisasi besar kepada TGB jika dilihat dari latar belakang TGB sendiri.

Pilpres, Pileg atau Pilkada adalah representasi suara “mayoritas” atau “populis” meski sedikit diterima jika menggunakan bahasa “populis”. Capres dan Cawapres 2019 adalah representasi suara populis baik itu dari segi suku, ras dan agama (SARA), maka Capres poros baru adalah capres yang mencoba menghentikan perolehan suara incumbent Jokowi. TGB saat ini masuk dalam bursa Cawapres Jokowi dan Prabowo, representasi suara TGB akan dominan, meski saat ini TGB masi pasif dalam melakukan komunikasi politik, tetapi media daring sedang ramainya membumingkan nama TGB, disamping itu TGB mendapatkan dukungan dari tokoh-tokoh politik, nasional dan ulama. Maka TGB memiliki peluang menang TGB sebagai Capres poros baru.

Mohammad Jafar Loilatu. Alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang dan Direktur Mazhab Djaeng (Forum Multiculturalism and Social Science).

To Top