Opini

Catatan Menjelang Kongres ke-XXXIII HMI

Logo HMI

Oleh Akbar*

OPINI, EDUNEWS.ID-Pasca penyelenggaraan Pleno 3 PB HMI, banyak kader berpikir forum itu akan melahirkan gagasan kebaruan, terutama melahirkan strategi mumpuni menjawab tantangan organisasi, dan mempertegas posisi HMI dalam menyikapi problematika bangsa yang kian karut-marut.

Yang Lebih Mendesak

Membaca berita terbitan Lembaga Pers Mahasiswa Islam Serang, Pleno 3 tidak lebih sekadar Penetapan Tuan Rumah Kongres semata. Wajar saja, kader-kader yang masih waras cenderung menilai pergelaran Pleno 3 hanya sebatas pengguguran kewajiban PB HMI.

Dari tiga poin tujuan Pleno 3 yang hendak dicapai diantaranya, memantapkan resolusi dinamika internal dan eksternal HMI, menetapkan tuan rumah Kongres HMI ke XXXIII, dan merekomendasikan struktur Majelis Pekerja Kongres, saya menilai hanya poin pertama yang paling urgen dibanding dua poin lainnya. Membincangkan resolusi dinamika internal dan eksternal HMI, seyogyanya lebih utama dari pada menghabiskan waktu dan anggaran untuk membicarakan resolusi negara ini, yang nyatanya amat begitu besar untuk di bebankan kepada HMI. Terlebih PB HMI sama sekali tidak memiliki pengaruh secara politik maupun pergerakan.

Apalagi kini pemilihan tuan rumah kongres begitu identik dengan politik kelompok guna memenangkan calon ketua umum PB HMI jagoannya masing – masing. Kondisi ini berpotensi besar ‘mengaburkan’ tujuan pleno 3 yang sesungguhnya yakni sebagai ajang memperbaiki organisasi secara kultur, tradisi, ghirah serta cita-cita organisasi melalui perumusan dan penetapan kebijakan strategis oleh PB HMI. Hal ini sesuai dengan Pasal 25 konstitusi Tentang Tugas dan Kewajiban Pengurus Besar yang kemudian dijelaskan secara rinci pada pedoman struktur organisasi HMI. Disamping itu pandangan bahwa kongres sebagai peralihan kekuasaan, mesti dikubur dalam-dalam, sehingga semua harus fokus bagaimana memenangkan HMI secara organsasi bukan figur semata.

Salah satu dinamika internal HMI yang mesti dituntaskan pasca Pleno 3 adalah penyelesaian dualisme (baca : pengakuan oknum) sebagai Ketua Umum PB HMI. Semenjak kepengurusan PB HMI periode 2020-2022 berjalan, batang tubuh HMI mulai mengalami guncangan struktural. Ini bisa menjadi sejarah terburuk sekaligus menyeret HMI ke fase kemunduran organisasi.

PB HMI kini memiliki lebih dari satu struktur kepengurusan, yakni versi Affandi Ismail dan versi Ahmad Latupono, yang lahir dari dinamika Kongres ke XXXII kemarin. Kabar terbaru, La Ode Muh Farid juga mengaku sebagai Ketua Umum PB HMI.

Pencatutan  organisasi hingga klaim sebagai Ketua Umum merupakan parasit dalam tubuh HMI saat ini. Sayangnya, PB HMI yang sah secara konstitusional tidak tegas dalam menyikapi persoalan tersebut. Padahal perihal terbentuknya struktur kepengurusan selain versi Affandi Ismail tentu akan berpengaruh terhadap citra HMI yang mestinya terjaga. Dengan struktural ganda tentu menjadi preseden buruk atas HMI. Sementara kondisi ‘dualisme’ tidak bisa diperbaiki dengan cara berdiam diri dan terus – menerus melakukan klarifikasi yang sama sekali tidak memiliki kekuatan secara organisasi.

Selain membingungkan publik, PB HMI dengan banyak versi menandakan bahwa organisasi HMI terlalu mudah disusupi dan dipermainkan. Padahal PB HMI bisa mengambil sikap organisasi seperti memecat kader-kader yang bertindak inkonstitusional. Pasal 11 Konstitusi HMI dapat menjadi alat yang sah konstitusional memberangus praktik – praktik yang merusak nama baik organisasi.

Dengan hajatan besar seperti Pleno 3, mestinya tidak terlalu mempertengkarkan siapa yang layak menjadi tuan rumah kongres, tetapi bagaimana melahirkan hal-hal besar berupa kebijakan untuk organisasi yang jauh lebih berdampak.

Terbentuknya Poros Tengah

Benar saja, karena Pleno 3 fokus membicarakan siapa tuan rumah kongres, akhirnya hanya menyisakan konflik. Penetapan Aceh sebagai tuan rumah kongres ke XXXIII menuai polemik. Beberapa cabang yang tidak puas dengan keputusan PB HMI kemudian membentuk kelompok yang dinamai dengan Poros Tengah.

Upaya kudeta terhadap ketua umum PB HMI pun kembali tercium. Poros Tengah yang terdiri dari Cabang Serang, Cabang Alor, Cabang Majene, Cabang Jayapura, Cabang Medan, Cabang Tulang Bawang dan beberapa cabang lainnya, mengancam akan menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) apabila PB HMI tidak meninjau kembali keputusannya.

Terbentuknya Poros Tengah tidak hanya diisi dan dimotori oleh Cabang-Cabang, tetapi juga oleh beberapa oknum Pengurus PB HMI sendiri. Poros Tengah menilai bahwa ketetapan tuan rumah kongres diputuskan dengan subjektif, serta mengabaikan pertimbangan cabang-cabang yang telah merumuskan indikator kelayakan cabang untuk menjadi tuan rumah kongres.

Jika mengamati kepengurusan PB HMI periode ini, memang yang lebih sering tampil hanya beberapa orang saja dan berbagai keputusan-keputusan diambil terkesan tidak aspiratif.

Perihal Aceh sebagai tuan rumah kongres, Poros Tengah menilai Aceh masih berstatus sebagai Cabang Bina, belum pernah mengelola kegiatan besar, serta akses dan mobilitas bagi mayoritas cabang-cabang yang memberatkan.

Meski begitu, hadirnya Poros Tengah tidak boleh dilihat sebagai upaya pembangkangan organisasi, melainkan sebagai konsekuensi logis dari kinerja PB HMI yang melenceng jauh dari ekspektasi.

Kinerja PB HMI yang stagnan dapat dengan mudah kita buktikan dengan mengukur capaian visi misi Ketua Umum PB HMI. Dari 10 poin misi skuad PB HMI periode 2020-2022, nyaris tidak ada satupun misi yang tercapai, mulai dari cita-cita modernisasi infrastruktur organisasi hingga kemandirian HMI.

Yang menarik ditunggu adalah apakah gugatan dan berbagai protes cabang-cabang terhadap kinerja dan keputusan PB HMI melalui Poros Tengah merupakan sinyal penolakan LPJ pada Kongres nanti, serta sejauh mana gertakan Poros Tengah ketika PB HMI tetap teguh pada keputusannya.

 

Akbar, Kader HMI Makassar

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); });