Opini

Keberagaman Pemahaman Agama: Rahmat atau Perpecahan?

Oleh : Muh. Ali

Oleh : Muh. Ali*

OPINI, EDUNEWS.ID-Keberagaman pemahaman dalam agama khususnya Islam adalah suatu keniscayaan yang tidak terbantahkan keberadaannya. Kasus tersebut telah terjadi sejak zaman Rasulullah dan para sahabat Radiallahu Anhu hingga saat ini. Oleh karena itu ketika seseorang atau sekelompok orang memiliki prinsip untuk menyatukan pemahaman maka hal tersebut dipandang sebagai utopia (prinsip belaka).

Yang menjadi subtansi untuk kita lakukan ialah bagaimana keberagaman pemahaman agama itu bisa menjadi harmonis (harmoni in diversity). Tidak saling menyalahkan antara satu sama lain serta tidak merasa paling benar sendiri. Sebagaimana yang sering kita dengar bahwa perbedaan diantara umat Islam adalah Rahmat. Hal ini mesti kita jaga agar tidak ternodai dengan sentimen negatif.

Menurut sejarah, keberagaman pemahaman dalam keagamaan telah lahir pada zaman Rasulullah dan akan berlanjut secara terus-menerus. Bagi umat Islam, keberagaman pemahaman keagamaan mulai menonjol pada abad kedua Hijriyah.

Namun perbedaan pemahaman tersebut tidak menyangkut masalah Ushuliyyah, seperti kedudukan Allah sebagai Tuhan, Allah itu esa dan Allah itu kekal, Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, Nabi Muhammad adalah utusan Allah, serta Kiamat adalah suatu kejadian yang akan terjadi, dan masih banyak lagi. Keberagaman pemahaman keagamaan cuman menyangkut masalah Furui’yyah, seperti syarat dan rukun berwudhu, khotbah Jum’at atau pernikahan. Lalu apa yang menyebabkan keberagaman pemahaman keagamaan ini terjadi?

Syah Waliyullah Al-Dhalwi berpendapat bahwa terjadinya keberagaman pemahaman keagamaan itu sebabkan oleh dua hal.

Pertama, Perbedaan waktu penerimaan hadist dari Nabi. Munculnya perbedaan waktu penerimaan hadist itu disebabkan karena aktivitas keseharian sahabat dengan Nabi itu berbeda-beda. Terkadang pada suatu kondisi yang berbeda ada sahabat yang telah menerima Hadist dari Nabi dan sahabat yang lainnya belum menerima Hadist. Sehingga ketika sahabat yang belum menerima Hadist ini ditanyai suatu persoalan oleh umat yang dimana persoalan tersebut belum dia dengar Hadist sebagai jawabannya dari Nabi terkait pertanyaan tersebut, maka Sahabat yang belum mendapatkan Hadist ini berijtihad (berpendapat sendiri) untuk menjawab pertanyaan dari umat.

Misalnya Ibnu Mas’ud pernah ditanyai tentang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya akan tetapi belum menentukan jumlah mahar yang akan diberikan kepadanya. Lalu Ibnu Mas’ud berkata “Saya belum pernah mendapatkan riwayat atau penjelasan terkait hal tersebut dari Rasulullah”.

Beberapa hari setelahnya, Ibnu Mas’ud kemudian berijtihad dengan menyatakan bahwa “Mahar wanita tersebut disamakan dengan wanita yang setaraf dengan dia, tidak lebih dan tidak kurang, dan dia wajib menjalin masa tunggu (Iddah) dan berhak mendapat warisan dari suami yang meninggalkannya”.

Kemudian salah seorang sahabat berdiri dan bersaksi bahwa Rasulullah pernah mengatakan hal demikian yang serupa dengan yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud.

Kedua adalah adanya perbedaan penalaran. Sudah menjadi ketentuan Allah bahwa perbedaan kemampuan dan daya nalar seseorang dengan yang lainnya itu berbeda-beda.

Salah satu tokoh agama Muammad Awwamah dalam karyanya menyebutkan bahwa perbedaan daya nalar itu muncul disamping karena fitrah dasar manusia, juga dikarenakan perbedaan budaya dan kecerdasan, perjalanan intelektual dan pergaulan dengan orang lain sehingga mempengaruhi kecerdasan akalnya.

Begitu juga dengan riwayat Ibnu Umar dari Rasulullah bahwa seorang mayit disiksa sebab tangisan dan ratapan keluarganya. Aisyah mendengar berita ini lalu ‘menghukumi’ Ibnu Umar salah paham terhadap ucapan Rasulullah ketika beliau melewati kuburan seorang wanita yang ditangisi oleh keluarganya, sementara sang mayit kata Rasul sedang disiksa di dalam kubur. Ibnu Umar mengira bahwa siksaan tersebut disebabkan oleh tangisan keluarganya dan berlaku pada semua mayit.

Dari riwayat di atas, Ibnu Umar berpendapat bahwa disiksanya mayit di dalam kubur pada waktu Nabi melewati kuburan tersebut disebabkan oleh tangisan keluarganya.

Sementara bagi Aisyah yang banyak bergaul dengan Nabi berpendapat bahwa Ibnu Umar salah paham dalam memahami riwayat tersebut. Menurut Aisyah riwayat yang sebenarnya adalah suatu waktu Rasulullah mendengar para sahabat meratapi kematian seorang perempuan Yahudi. Atas kejadian tersebut Rasulullah mengatakan bahwa para kerabat itu meratapi kematiannya, sementara si mayit sedang disiksa di dalam kubur.

Begitu juga dengan para imam Madzhab, adanya perbedaan diantara mereka itu adalah hal yang wajar, disamping mereka tidak belajar bersama tentunya juga mereka tidak memiliki penamaan yang sama dalam suatu permasalahan.

Salah satu contoh perbedaan pendapat tersebut misalnya apakah ‘niat’ merupakan syarat sahnya berwudhu atau bukan. Imam madzhab berbeda pendapat dalam hal tersebut. Ada yang mengatakan bahwa niat  termasuk syarat sah, ada juga yang mengatakan bahwa niat tidak termasuk dalam syarat sahnya wudhu.

Sementara, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan imam Malik mengatakan bahwa niat termasuk dalam syarat sahnya wudhu, sedangkan Imam Abi Hanifah dan Atsaury mengatakan bahwa niat tidak termasuk dalam syarat sahnya wudhu. Ada yang mengatakan bahwa wudhu termasuk ibadah Mahdhah (ibadah khusus), dan ada juga menilai wudhu termasuk dalam ibadah Ghairu Mahdhah (ibadah umum).

Meski begitu, perbedaan pemahaman dalam aspek fiqih tanpa didasari ilmu pengetahuan yang memadai, akan cenderung melahirkan kondisi yang negatif, seperti menyalahkan pendapat orang lain yang berbeda dengannya, sekaligus mengeksklusifkan kebenaran tunggal pada kelompoknya. Bahkan yang lebih radikal adalah menganggap amalan orang lain akan membawanya ke neraka, tidak diterima Allah dan menyematkan label Kafir.

Untuk itu, dibutuhkan tradisi intelektual yang kondusif bagi masyarakat Islam yakni saling mengkaji setiap pendapat atau riwayat yang diperolehnya. Lebih jauh, perbedaan pandangan di antara orang lain seharusnya menghindarkan mereka pada klaim kebenaran sendiri dengan tetap menghargai pendapat yang berbeda dengan dirinya.

 

Muh. Ali, Pemuda

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); });