Opini

Kebijakan Mendikbud ; Sumbangan Pendidikan, Efektifkah?

La Ode Arpai

Oleh : La Ode Arpai*

OPINI, EDUNEWS.ID-Pada dasarnya manusia merupakan mahluk pembelajar. Kata pembelajar sendiri dikonsepkan pada hal-hal yang bersifat sangat dasar, misalnya belajar dari hal-hal yang tidak tahu menjadi tahu atau belajar dari yang belum mengerti menjadi mengerti. Tentunya, kata belajar ini tidak terlepas dengan nuansa pendidikan sebagai episentrum untuk memberikan wadah dari pendidikan tingkat dasar sampai pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hal tersebut juga, sudah tertuang dalam konstitusi UUD 45 , yang berbunyi semua warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan. melihat hal tersebut, masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pendidikan. Dimana pendidikan merupakan endemic utama untuk merubah pola kognitif atau psikomotorik seseorang agar bisa beradab dalam kehidupanya.

Olehnya itu, pemerintah sebagai pembuat kebijkan harus melihat struktur agar mampu merubah kultur. Menurut Paulus wirutomo (2013: 111), kultur melahirkan struktur, dan sebaliknya struktur melahirkan kultur. Artinya kebijakan yang dibangun harus bersifat transformatif untuk semua kalangan masyarakat.

Terkait hal tersebut, jika kebijakan pemerintah dalam hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberlakukan sumbangan Pembiayaan Pendidikan (SPP), diawal tahun pelajaran 2017 akan terjadi perubahan kultur yang ada di masyarakat. Jika dilihat secara sosiologis maka penulis menggunakan pendekatan secara mikro dan makro.

Pertama, secara makro, dimana sekolah-sekolah negeri akan jadi lebih kompetitif. Artinta adalah masing-masing sekolah bisa menjadi sumber pendanaan lewat SPP untuk pengembangan kualitas guru, penambahan alat bantu ajar dan juga perbaikan sarana dan prasarana pendidikan.

Kedua, jika dilihat secara mikro kebijakan pemerintah untuk memberlakukan SPP diawal tahun pembelajaran akan memangkas hak-hak masyarakat miskin untuk mengikuti pendidikan. artinya jika pembayaran SPP yang ditetapkan pemerintah dengan nominal yang sangat tinggi, maka akan menyulitkan masyarakat kelas bahwa. Secara otomatis angka anak putus sekolah akan semakin tinggi.

La Ode Arpai. Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Sosiologi, Universitas Indonesia

To Top