Opini

Puasa sebagai media transformasi sosial

Sopian Tamrin

Oleh : Sopian Tamrin*

OPINI, EDUNEWS.ID-Persuasi merengkuh banyak amalan saat ramadhan sudah bergema sejak hari perdana hingga sepertiga ramadhan kini. Masyarakat terus memeriahkan moment spiritual tahunan ini. Namun apalah daya hubungan sosial kita tetap saja sama seperti sebelumnya kita berpuasa, kita masih sama yang dulu. Apakah memang puasa ritual bersifat pribadi yang tidak memiliki dampak terhadap persaudaraan sesama di kehidupan sekitar. Jika puasa tidak merubah kebencian kita pada sesama, tetap memiliki rasa iri pada orang lain serta tidak peduli dengan penderitaan di sekitar kita maka barangkali ada yang keliru dalam pemaknaan atau pengalaman berpuasa kita.

Meskipun demikian tetap saja bahwa mimbar masih didominasi ceramah agama yang mengarah pada amalan pribadi. Ini cukup mendorong saya untuk membentang makna dan menariknya pada horizon transformatif tehadap kehidupan sosial.

Saya memahami bahwa alangkah meruginya kita apabila puasa yang dilakukan selama bulan suci ramadhan ini tidak memiliki dampak yang besar terhadap pengentasan beberapa problem relasional antar individu dalam komunitas atau masyarakatnya.

Kita percaya bahwa puasa bisa menjadi jalan untuk memperbaiki pribadi kita. Dengan pribadi yang baik itulah sebagai basis untuk menata aspek sosialitas kita nantinya yang bermula dari membaiknya hubungan sosial kita.

Hal semacam ini menjadi penting karena pada umumnya puasa masih dipahami sebatas seremonial ramadhan bahkan motivasi amalan yang sifatnya indivualis dan nihil efek dalam keseharian kita. Mungkin inilah type beribadah kita yang tidak memproleh apa-apa kecuali lelah semata.

Sekali lagi saya ingin meyakinkan bawa puasa itu punya kaitan erat dengan diri kita terhadap kehidupan disekitar. Sebagaimana disampaikan Allah melalui firmannya pada surah Al baqarah ayat 184 : (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Dari ayat diatas bahwa bahwa begitu kuat kaitannya antara berpuasa dengan keberadaan kita dalam lingkungan sosial. Mengapa puasa bisa diganti dengan fidyah? Kan bisa saja dipilih ibadah atau amalan lain yang tidak terkait dengan orang lain. Dari sini semakin menguatkan penasaran saya bahwa korelasi antara puasa dengan implikasi kemanusiaan kita begitu nyata. Jika puasa bisa diganti dengan memberi makan pada fakir miskin maka dalam konteks tersebut ia setara dengan berbuat baik pada sesama.

Paling tidak beberapa kebiasaan pada bulan suci ramadhan bisa kita lihat fungsi sosialnya. Setidak-setidaknya ada empat yang sempat saya urai dan mungkin bisa lebih banyak dan lebih eksploratif jika dicermati lebih lanjut.

Beberapa kebiasaan yang bisa mentransformasi puasa yang individual ke ranah sosial, sebagai berikut :
1. Diawal dan diakhir puasa kita disunnahkan untuk saling bermaaf-maafan. Suatu ketika saat Nabi melakukan khutbah jumat bulan sya’ban kemudian mengucapkan amin sebanyak tiga kali sepontan para sahabat mendengar lalu mengikuti nabi. Selepas shalat jumat Nabi menjelaskan bahwa

“Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, Kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.“

Artinya ayat terkait puasa dan ramadhan begitu banyak yang memberi isyarat pada hubungan kita pada yang lain sebagai penyempurna amalan. Tentu bukan kebetulan.

2. Puasa adalah arena pengendalian diri
Orang – orang yang bisa mengendalikan dirinya adalah yang baik hubungan sosialnya. Mengapa? Karena ia tidak ingin menang sendiri, tidak melakukan berbagai cara demi memenuhi kebutuhan pribadi, bisa menahan emosi dan ucapannya yang menghindarkannya dari perselisihan. Bahkan hari-hari kita banyak berselisih dari hal sepeleh sulit menerima fakta akan perbedaan, padahal kita hidup di situasi yang penuh dengan perbedaan. Selain itu kita memang memerlukan latihan berpuasa dari pribadi yang serakah terhadap apa saja terutama pada kekuasaan. Bahkan kalau mau dilacak sejarah pertengkaran manusia basisnya adalah ketidakmampuan manusia menahan hasrat (dessire) untuk memperoleh kekuasaan (power).

3. Puasa bisa mengaktifkan kepekaan sosial
Ada pepatah yang menyatakan bahwa orang yang mempelajari kedalaman pada dirinya maka akan menemukan orang lain pada dirinya. Sebaliknya orang mempelajari orang lain akan menemukan dirinya sendiri. Melalui puasa kita bisa sedikit demi sedikit memahami diri kita dan atas pemahaman itu kita bisa merasakan kehadiran orang lain dalam hidup kita. Sehingga kita bisa merasa terhubung dengan derita orang-orang disekitar kita. Saya kira ini juga bisa jadi pintu terbukanya ruang transformatif.

4. Berbagi pada sesama dibulan ramadhan apakah melalui suguhan berbuka, zakat ataupun sedekah justru menjadi prasyarat untuk mensucikan jiwa dan harta kita. Artinya orang lain adalah jalan merengkuh kesempurnaan keimanan kita. Karena membuat orang lain bahagia karena usaha dan harta kita sungguh adalah cerminan orang yang beragama. Sebagaimana Hadits HR. Ahmad, Ath-Thabrani : bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Sungguh cerminan dari keberhasilan puasa dan amalan, ada pada kemampuan kita berkhidmat pada kebaikan orang lain.

Sebagai kesimpulan bahwa berpuasa tidak hanya memperbaiki sisi kebatinan kita dan hubungan kita dengan Tuhan namun juga sebagai momentum memperbaiki hubungan kita pada sesama. Semoga puasa menghidupkan cahaya kebaikan yang bersemayam dalam sanubari kita masing-masing. Sehingga semakin peduli dan perhatian pada sesama. Jika kita gagal menjadi rahmat bagi sesama jangan membawa agama sebagai rahmatan lil alamin. Wallahuallam.

*Sopian Tamrin,  Sosiolog Muda UNM/Direktur Edu. Corner

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top