Opini

Siapakah Aku? Marsose kah, Tentara Gurkha, atau Anak Cucu Diponegoro

Oleh : Faedurrahman*

OPINI, EDUNEWS.ID – Sewaktu pasukan Kesultanan Yogjakarta berhadap-hadapan dengan pasukan Diponegoro, termasuk kaum ningrat (ulebalang) dengan laskar santri Aceh, pasukan siaga memuntahkan peluru tapi ternyata hanya berupa peluru hampa  yang ditembakkan dari senapannya. Setelah itu masing-masing komandan maju bertemu dan saling berangkulan.

Pimpinan pasukan Belanda yang mengintip dari kejauhan adegan pertempuran sandiwara itu hanya bisa menggeleng kepala, tertunduk lemas dan kecewa berat. Ia menggusar dalam hatinya inlander anak negeri tidak bisa dipercaya.

Ternyata antara pihak kesultanan Jogja masih memiliki hubungan kekerabatan dengan para pejuang (Pangeran Diponegoro), begitu pula kaum Ulebalang yang dipimpin Teuku Umar saat itu. Mereka tidak mau membunuh sesama keluarga dan bangsanya sendiri. Toh mereka memahami mengapa para pejuang itu memberontak.

Beda halnya dengan KNIL dan pasukan Marsose yang dibentuk Belanda, mayoritas direkrut dari orang-orang Ambon, Manado kafir dan Jawa abangan. Mereka Marsose dilatih sebagai pasukan tempur elit kecil, bersenjata senapan dan kelewang menghadap para gerilyawan. Mereka mengintai dan berani melabrak para gerilyawan, bertarung satu lawan satu, menerobos masuk kamp gerilyawan. Pasukan Marsose dikenal bengis dan kejam membantai dan menggantung kepala musuhnya di kampung-kampung untuk menakut-nakuti supaya tidak bersikpati dengan pejuang.

Beda halnya dengan pasukan sewaan Gurkha dari negeri Inggris. Ketika masa perjuangan bersimpati dengan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, banyak dari mereka berbalik angkat senjata membantu pasukan republik melawan penjajah Belanda, kemudian menikah dengan orang lokal dan keturunannya beranak pinak di Indonesia sampai saat ini.

Anak cicit Diponegoro-kah kita? Marsose, atau tentara Gurkha?

Faedurrahman, Ketua Qomando Masyarakat Tertindas (Qomat)

To Top