Artikel

Sepekan Taman Sari

Lurah Taman Sari Abdul Malik Raharusun (tengah putih)

Oleh : Abd. Malik Raharusun*

EDUNEWS.ID- Bismillah, dengan nama-Nya yang Rahman dan Rahim memulai satu tahapan baru dalam kirier sebagai Lurah di Kelurahan Taman Sari, satu dari delapan -Pinangsia, Glodok, Tangki, Maphar, Mangga Besar, Keagungan dan Krukut- Kelurahan di Kecamatan Taman Sari, Kota Administrasi Jakarta Barat. Kalau ada yang masih bertanya dimana itu Taman Sari, biasanya saya langsung menyebut kawasan Kota Tua (sekarang Batavia), Glodok atau Mangga Besar, barulah si penanya mafhum.

Dari namanya saja jelas, “Taman Sari”, sebuah kawasan di Jakarta yang memiliki kemajemukan sangat tinggi, baik dari Suku, Ras dan Agama. Namanya Taman harus warna-warni ragam bunga, jika hanya satu jenis bunga saja, itu disebut Kebon. Menariknya juga karena ada “Sari”nya, Taman Sari. Jadi, walaupun sangat beragam persatuan dan integrasi sangat terjaga, inilah Taman yang menghasilkan “Sari Persatuan”.

Menurut Zaenudin HM sejarawan Jakarta yang menulis buku, “212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe” terbitan Ufuk Perres pada Oktober 2012, menyebutkan pada era Pemerintahan Hindia Belanda abad ke-19 dibangun Taman yang diberi nama “Wilhelmina Park”, dikutip bisnis.com. “Wilhelmina Park” atau Taman Wilhelmina dibangun atas prakarsa Gubernur Jenderal Van De Bosch tahun 1834. Taman Wilhelmina adalah taman terbesar yang dibangun saat itu, terbentang dari kawasan Mangga Besar sampai ke Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal sekarang.

Taman ini dibangun sebagai penghormatan kepada Wilhelmina yang pada saat itu calon tunggal Ratu Belanda. Nama lengkapnya Wilhelmina Helena Puline Marie van Orange Nassau, lahir 31 Agustus 1880 – 28 November 1962, dan menjadi Ratu Belanda sejak 1890-1948. Adalah anak satu-satunya dari Raja Willem III dan istri keduanya Ratu Emma. Taman Wilhelmina selain taman bunga juga terdapat kebon sayur dan buah bagi orang Belanda, aliran Sungai Ciliwung yang bersih mengalir (pada waktu itu) juga menjadi daya tarik Taman Wilhelmina, terdapat Benteng (Citedal) Prins Frederik Hendrik dan Monumen Waterloo atau dikenal juga dengan nama “Atjeh Monumen”, sebuah monument pengingat gugurnya Tentara Belanda dalam perang melawan Kesultanan Aceh Darusalam.

Dalam perjalanan sejarahnya yang sangat panjang kawasan Taman Wilhelmina beralih fungsi menjadi derah pemukiman, pertokoan dan termasuk didalamnya lokasi Masjid Istiqlal (1961) dulunya Benteng (Citedal) Prins Frederik Hendrik dan Gereja Katedral. Menurut Zaenudin HM tidak ada penjelasan sejarah terkait perubahan nama dari Taman Wilhelmina menjadi Taman Sari. Ini berlangsung dalam proses sosio-masyarakat yang sangat panjang, mungkin saja karena jejak Taman jadinya disebut Taman Sari.

Taman Sari saat ini adalah pemukiman padat daerah bisnis dan hiburan di Jakarta, hal yang merepresentasikan Taman selain penataan ruang yang menyediakan taman perkotaan juga secara substansial warga Taman Sari yang heterogenitasnya sangat tinggi dangan warga Tionghoa terbanyak di Jakarta. Heterogenitas warga dapat dilihat dari keragaman etnis, suku, dan agama yang mendiami wilayah Taman Sari. Dari Masjid, Gereja dan Vihara menghiasi jalan Taman Sari. Menariknya walaupun heterogenitas warga tinggi, kohesi sosial seperti persaudaraan, kerjasama, gotongroyong dan pergaulan lintas etnis, suku dan agama menjadi panorama warna-warni di Taman Sari.

Barangkali tidak berlebihan jika dikatakan bahwa heterogenitas warga itulah yang disebut “Taman” dan “kohesi sosial seperti persaudaraan, kerjasama, gotongroyong dan pergaulan lintas etnis, suku dan agama” adalah Sarinya. Datang dan berkunjunglah di Taman Sari dari wisata kuliner, sejarah, budaya atau sekedar berbelanja, Anda akan melihat sensasi interaksi warga yang sangat bersahaja.

 

Abd. Malik Raharusun, Lurah Kelurahan Taman Sari sejak 31 Agustus 2021

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top