News

Daur Ulang Solusi Tepat Lawan Sampah Plastik

 
 
JAKARTA, EDUNEWS.ID – Direktur Sustainable Waste Indonesia (SWI) Dini Trisyanti mengatakan, melawan polusi sampah plastik bisa dilakukan dengan mengoptimalkan potensi nilai ekonomis.
Salah satunya melalui model daur ulang. Menurut Dini, industri daur ulang plastik saat ini telah berkembang di Indonesia. Terutama untuk jenis plastik yang memiliki nilai ekonomis seperti PET dan PP. Tingkat daur ulang keduanya mencapai di atas 50 persen.
“Sebenarnya sampah memiliki nilai ekonomi jika terkelola dengan baik” ujar Dini dalam sebuah diskusi Kopi Sore bersama Aqua di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (24/4/2018).
Saat ini, penggunaan plastik meningkat 20 kali lipat dalam 50 tahun terakhir. Berdasar laporan World Economic Forum (WEF), plastik yang didaur ulang dengan efektif hanya lima persen.
Sebanyak 40 persen berakhir di tempat pembuangan sampah dan sisanya ke ekosistem seperti lautan. Jika pengelolaan sampah tidak mulai dilakukan sejak sekarang, jumlah limbah plastik di lautan akan lebih banyak dibanding ikan pada 2050.
Dini menambahkan, rantai daur ulang menjadi kunci utama dalam penerapan ekonomi circular. Daur ulang sampah plastik bisa mengurangi penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).
Model ini juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat serta bisa mendukung industri-industri pengolahan sampah. Dalam kesempatan itu, Dini memaparkan hasil kajian SWI pada 2017 tentang Analisis Arus Limbah Indonesia, Rantai Nilai dan Daur Ulang.
Sebanyak 60 persen sampah di kota di Indonesia adalah organik. Sementara itu, sebanyak 14 persen lainnya adalah sampah plastik. Sampah kertas mencapai sembilan persen, sampah metal sebesar 4,3 persen, dan sampah lain seperti kaca, kayu, serta bahan lain sebayak 12,7 persen.
SWI juga memetakan manajemen pengelolaan sampah yang diterapkan di sejumlah kota. Hal itu dilakukan lewat kerja sama dengan sejumlah asosiasi dan komunitas masyarakat. Di antaranya, Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI), dan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI).
“Dalam memperkuat analisis, SWI melakukan studi lapangan di Jakarta sebagai representasi kota besar dan Ambon sebagai representasi kota kecil di Indoensia disertai interview di sejumlah toko barang bekas,” kata Dini.

To Top