Ekonomi

Pengamat : Utang yang Besar Sangat Berisiko

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Defisit keseimbangan primer yang terus berlangsung sejak 2012 mengindikasikan utang pemerintah belum digunakan untuk kegiatan produktif yang mampu menghasilkan pendapatan untuk membayar kembali kewajiban utang.

Selain itu, hal tersebut juga menunjukkan Indonesia setidaknya dalam lima tahun terakhir ini terperangkap dalam “gali lubang tutup lubang”, harus menarik utang baru hanya untuk membayar bunga utang lama.

Defisit keseimbangan primer menunjukkan bahwa negara tekor karena pendapatan negara tidak mampu menutup belanja negara, di luar kewajiban bunga utang. Direktur Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan utang yang sangat besar dalam struktur ekonomi yang timpang akan sangat berisiko.

Dia mengingatkan agar pemerintah hati-hati membandingkan rasio utang dengan produk domestik bruto (PDB). Sebab, PDB Indonesia banyak dibentuk oleh perusahaan swasta besar dari luar negeri yang menguasai tambang migas, batu bara, kehutanan, air, perkebunan, industri, keuangan, perdagangan, dan sebagainya.

“Tanpa reformasi struktural maka utang besar akan melanggengkan ketimpangan, oligarki, dan kebergantungan perekonomian. Kemiskinan dan ketimpangan akan jadi bom waktu,” tegas Awan baru-baru ini.

Selain itu, lanjut dia, utang membuat kapasitas pemerintah mengalokasikan anggaran untuk mengikis kemiskinan dan ketimpangan kesejahteraan makin minim.

Awan mengungkapkan surat utang negara yang sekitar 40 persen dikuasai kreditur asing sangat berisiko jika terjadi gejolak keuangan global yang mendorong pelarian modal atau capital flight.

Akibatnya, Indonesia juga tersandera dengan kebijakan yang harus sejalan dengan jaringan modal internasional. Ini yang membuat selalu sulit mengurangi kemiskinan dan ketimpangan secara signifikan dan struktural.

To Top