Ekonomi

Soal Utang, Indonesia Terus ‘Gali Lubang Tutup Lubang’

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Defisit keseimbangan primer yang terus berlangsung sejak 2012 mengindikasikan utang pemerintah belum digunakan untuk kegiatan produktif yang mampu menghasilkan pendapatan untuk membayar kembali kewajiban utang.

Selain itu, hal tersebut juga menunjukkan Indonesia setidaknya dalam lima tahun terakhir ini terperangkap dalam “gali lubang tutup lubang”, harus menarik utang baru hanya untuk membayar bunga utang lama.

Defisit keseimbangan primer menunjukkan bahwa negara tekor karena pendapatan negara tidak mampu menutup belanja negara, di luar kewajiban bunga utang. Peneliti Indef, Reza Akbar, menjelaskan defisit keseimbangan primer makin tinggi berarti pemerintah perlu dana tambahan yang berasal dari utang untuk menutup bunga utang.

“Hal itu biasa disebut gali lubang tutup lubang,” kata dia, di Jakarta, Ahad (18/3/2018).

Reza menambahkan pertumbuhan bunga utang sejak 2012 semestinya diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan negara yang lebih tinggi. Masalahnya, pertumbuhan pendapatan lebih rendah, dibandingkan dengan pertumbuhan belanja tiap tahun dan pertumbuhan pembayaran bunga utang.

Di samping itu, utang pemerintah juga terus meningkat. “Itu yang bikin masalah, sehingga bunganya itu semakin meningkat dan kita harus menerbitkan utang baru untuk membayarnya. Tapi, ini bukan hanya bunga utang tahun-tahun belakangan ini, ada beban utang pemerintahan sebelumnya yang harus kita bayar sampai sekarang,” ungkap dia.

Menurut dia, indikator paling riil dan konkret untuk mengukur kesehatan utang adalah neraca keuangan pemerintah. Makanya, ketika neraca keseimbangan primer defisit sudah pasti utang itu tidak produktif.

Artinya, kalau neraca keseimbangan primer defisit sama saja pertumbuhan penerimaan pemerintah justru menurun, tidak bisa mengejar pertumbuhan bunga dan belanja negara.

“Ketika modal yang berasal dari tambahan utang itu tadi dimasukkan ke dalam belanja pemerintah itu tidak menambah penerimaan, tapi malah penerimaannya semakin tekor. Kalau seperti itu, apa gunanya utang,” papar Reza.

Sebelumnya, sejumlah kalangan mengingatkan beban kewajiban utang Indonesia bakal meningkat, selain karena penambahan stok utang tiap bulan, juga akibat depresiasi rupiah yang akan menambah beban pembayaran utang luar negeri (ULN).

Beban utang pemerintah saat ini bisa dikatakan sudah lampu kuning dan tidak produktif karena tidak meningkatkan produktivitas negara sehingga bisa digunakan untuk membayar kembali kewajiban utang. Kementerian Keuangan mencatat total utang pemerintah hingga akhir Februari 2017 menembus 4.035 triliun rupiah, naik 13,46 persen dalam setahun.

Sedangkan Bank Indonesia (BI) mengungkapkan ULN Indonesia (pemerintah dan swasta) akhir Januari 2018 mencapai 357,5 miliar dollar AS, tumbuh 10,3 persen dalam setahun. Dari total ULN itu, 49 persen merupakan utang swasta.

To Top