News

Kota Besar Sering Abaikan Pengelolaan Air

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Sigit Supadmo Arif, mengatakan hampir di semua kota besar dunia ketiga mengabaikan pengelolaan air. Setiap kali hujan, terjadi banjir, tapi jika kemarau sebentar saja, pasokan air bagi warga sulit.

Hal itu terutama disebabkan oleh lemahnya negara dalam mengatur air dari hulu sampai hilir. Di hulu, resapan berganti beton, sampah dibiarkan menumpuk di sepanjang sungai. Akibatnya, jika hujan sebentar saja warga di hilir terancam banjir dan di hulu terancam longsor.

Menurut Sigit, upaya memenuhi pasokan air bagi masyarakat harus diikuti penegakan hukum bagi warga atau institusi bisnis yang melanggar undang-undang dan peraturan daerah tentang pemanfaatan air.

Sigit yang juga pakar irigasi, lantas mencontohkan upaya petani di Kabupaten Bantul, DIY, dalam menjaga sungai dan saluran irigasi. Secara bergiliran warga Bantul membersihkan sampah dari sungai dan saluran irigasinya.

Di setiap bulan Maret, selama sebulan, warga Bantul dengan inisiatif sendiri tanpa keterlibatan negara menyelenggarakan peringatan Hari Air Dunia dengan puncak acara Mapak Toya yang berarti menjemput air.

Acara Mapak Toya berisi kirab budaya dan pesta bersama warga yang menyimbolkan bahwa air yang bersih membuat tubuh manusia bersih, juga membersihkan jiwa manusia sehingga air yang mengalir ke sawah melalui irigasi yang bersih akan menghasilkan padi yang baik.

“Padi yang baik akan membuat manusia yang makan jadi baik. Begitu seterusnya dalam kesinambungan kebaikan. Ini acara simbolik yang sudah lama mati,” papar Sigit.

To Top