MAKASSAR, EDUNEWS.ID – Bursa pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) periode 2026–2030 mulai menjadi perhatian. Sejumlah nama akademisi dengan latar belakang dan pengalaman kepemimpinan yang berbeda mulai disebut-sebut berpotensi ikut serta meramaikan kontestasi untuk memimpin salah satu perguruan tinggi negeri terbesar di Sulawesi Selatan tersebut.
Berdasarkan informasi yang mulai beredar hingga saat ini, sedikitnya enam nama yang telah muncul dalam bursa bakal calon Rektor UNM. Mereka diantaranya adalah Hasmyati, Arifin Manggau, Andi Aslinda, Suwardi Annas, Eko Hadi Sujiono, dan Muhammad Jufri.
Keenam nama tersebut tentunya memiliki rekam jejak akademik dan pengalaman manajerial yang cukup beragam. Kondisi ini berpotensi membuat kontestasi pemilihan Rektor UNM menghadirkan pertarungan gagasan mengenai arah pengembangan kampus untuk periode empat tahun mendatang.
Dari Olahraga hingga Psikologi
Hasmyati merupakan akademisi dengan latar belakang Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi. Berdasarkan profil yang kami himpun, beliau pernah menempuh pendidikan sarjana di UNM, kemudian melanjutkan magister bidang kesehatan di Universitas Airlangga dan doktor bidang Pendidikan Olahraga di Universitas Negeri Jakarta.
Dalam perjalanan kariernya selama di UNM, Hasmyati pernah menduduki sejumlah posisi struktural, di antaranya Kepala Laboratorium FIKK UNM, Ketua Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi, Wakil Dekan II bidang umum dan keuangan, hingga Dekan FIKK UNM selama 2 periode. Rekam jejak tersebut memberikan pengalaman dalam pengelolaan fakultas sekaligus bidang akademik dan administrasi tentunya.
Nama berikutnya adalah Arifin Manggau. Ia memiliki latar belakang pendidikan Seni dan pernah menduduki sejumlah posisi strategis di lingkungan UNM, termasuk Kepala Pusat KKN, Wakil Dekan II bidang umum dan keuangan FSD, serta Wakil Rektor bidang Alumni dan Kemahasiswaan.
Sementara itu, Andi Aslinda datang dari bidang Administrasi Publik. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana, magister, hingga doktor di Universitas Hasanuddin. Dalam kariernya di UNM, ia pernah menjadi Sekretaris Program Studi Administrasi Negara, Ketua Program Studi, Wakil Dekan II FISH, hingga dipercaya menduduki posisi Wakil Rektor I bidang akademik dan kepegawaian UNM. Rekam jejak tersebut membuat pengalaman pengelolaan bidang akademik menjadi salah satu kekuatan yang melekat pada namanya.
Pengalaman Sains dan Manajemen Kampus
Nama lain yang muncul adalah Suwardi Annas. Akademisi dari bidang matematika dan statistika ini memiliki latar pendidikan S1 Pendidikan Matematika di UNM, magister Statistika dari Institut Pertanian Bogor, serta doktor Statistika Lingkungan dari Osaka Prefecture University, Jepang.
Dalam perjalanan kariernya, Suwardi pernah menjabat Wakil Dekan bidang Kerja Sama dan Pengembangan FMIPA, Wakil Dekan bidang Akademik FMIPA, hingga Dekan FMIPA UNM.
Ada pula Eko Hadi Sujiono yang berasal dari bidang Fisika. Ia menempuh pendidikan S1 Fisika di UNM, kemudian melanjutkan pendidikan fisika di Institut Teknologi Bandung hingga doktor. Ia juga memiliki pengalaman postdoctoral di University of Twente, Belanda.
Di lingkungan UNM, Eko Hadi Sujiono pernah dipercaya sebagai Kepala Pusat Program Profesi Guru dan Wakil Rektor IV bidang Perencanaan dan Kerja Sama.
Nama terakhir yang masuk dalam daftar tersebut adalah Muhammad Jufri. Berbeda dengan kandidat lainnya, Jufri memiliki latar belakang Psikologi. Ia menempuh pendidikan S1 Bimbingan Konseling di UNM dan kemudian pendidikan Psikologi di Universitas Proklamasi 45 serta Universitas Gadjah Mada hingga jenjang doktor.
Pengalamannya di UNM juga cukup panjang. Ia pernah menjadi Sekretaris Lembaga Penelitian UNM, Sekretaris Lembaga/Kantor Pengembangan dan Penjaminan Mutu, Direktur Career Development Center, hingga Dekan Fakultas Psikologi UNM.
Pertarungan Pengalaman dan Gagasan
Munculnya ke enam nama tersebut menunjukkan bahwa bursa Rektor UNM mulai diwarnai figur dengan latar belakang keilmuan yang berbeda. Ada yang kuat dari sisi pengelolaan fakultas, akademik dan kepegawaian, kemahasiswaan, perencanaan dan kerja sama, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Namun, siapa yang nantinya benar-benar maju dalam pemilihan Rektor UNM masih bergantung pada tahapan dan mekanisme resmi yang Ada. Oleh Karena itu, enam nama tersebut untuk saat ini masih disebut sebagai nama yang yang telah muncul ke permukaan dalam bursa bakal calon Rektor, bukan sebagai calon rektor yang telah ditetapkan secara resmi oleh panitia.
Kontestasi ini menarik untuk dinantikan karena pemilihan Rektor UNM tidak hanya akan menentukan siapa yang memimpin kampus tersebut, tetapi juga akan menentukan arah kebijakan UNM pada periode 2026–2030.
Pertanyaan besar yang kemudian muncul bukan hanya tentang siapa yang akan maju, tetapi siapa yang memiliki visi paling kuat untuk membawa UNM menghadapi tantangan pendidikan tinggi, riset, digitalisasi, internasionalisasi, tata kelola, serta kebutuhan mahasiswa dan masyarakat khususnya di Sulawesi Selatan.
Dengan enam nama yang mulai muncul, dinamika menuju Pemilihan Rektor UNM 2026–2030 diperkirakan akan semakin menarik untuk diikuti.
Kontributor : Fajar | Editor : Eka Setiawan

