Kampus

Masih ada Kesenjangan di Perguruan Tinggi Bidang Pariwisata

ILUSTRASI

YOGYAKARTA, EDUNEWS.ID – Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah V Yogyakarta terkejut melihat perbedaan yang sangat tajam pada perguruan tinggi bidang pariwisata di Jogja. Kesenjangan tersebut terlihat dari jumlah mahasiswa yang dimiliki masing-masing kampus pariwisata.

Koordinator Kopertis Wilayah V Yogyakarta Bambang Supriyadi mengungkapkan, di Jogja total ada sembilan kampus yang memiliki kajian khusus pariwisata. Sembilan perguruan tinggi tersebut semuanya berstatus swasta. Dari sembilan kampus pariwisata itu, menurut Bambang, yang mudah dalam menjaring mahasiswa hanya dua, yakni Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (Stipram) dan Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Jogja.

“Dua kampus itu bisa menjaring mahasiswa hingga mencapai angka di atas 1000 dalam setiap tahun ajaran baru. Lainnya, hanya mendapatkan mahasiswa sebanyak 40 saja susahnya minta ampun,” ujarnya, Rabu (2/11/2016).

Dia belum mengetahui secara pasti penyebab sejumlah kampus pariwisata di jogja ini belum bisa berkembang maksimal. Padahal Jogja merupakan kawasan yang memiliki banyak potensi wisata.

“Tentu hal ini harus segera dicara akar masalahnya, apakah masalah terjadi karena akreditasi, kurang promosi atau letak kampus yang kurang strategis, atau karena jumlah PTS terlampau banyak,” jelas dia.

Bambang pun memberikan gambaran solusi agar kampus-kampus pariwisata di Jogja ini mendapatkan pemerataan jumlah mahasiswa. Solusinya tentu saja dengan bersinergi dengan kampus pariwisata lainnya yang memiliki skala lebih besar. Dalam kondisi seperti saat ini, menurut dia kampus tidak boleh mempertahankan idealisme kolot dalam persaingan.

Bambang memberikan gambaran tentang solusi yang dia berikan pada Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) beberapa waktu lalu. Kala itu STTNAS sangat kesulitan dalam mendapatkan mahasiswa.

“Penyebabnya STTNAS kukuh bersaing dengan Teknik Perminyakan UPN Veteran yang lebih menjadi pilihan. Yang terjadi justru STTNAS semakin sulit mendapat mahasiswa waktu itu,” terangnya.

Bambang kemudian menyarankan STTNAS agar mendatangi UPN dan menjalin kerjasama. Dengan begitu, STTNAS bisa mendapatkan mahasiswa dari sisa-sisa pendaftar yang tidak diterima di UPN. Minimal mendapatkam data pendaftar untuk di follow up.

“Terbukti setelah itu STTNAS mendapat banyak mahasiswa. Bahkan saat ini Teknik Pertambangan sampai over kuota. Saya kira itu bisa diterapkan juga di perguruan tinggi pariwisata agar sama-sama berkembang,” tegasnya.

Apalagi, lanjut Bambang, pendaftar di Stipram dalam setiap tahun mencapai 3600 lebih. Padahal yang diterima hanya sekitar 1600. Artinya ada 2000 pendaftar yang dibuyang percuma. Ribuan pendaftar yang tidak diterima itu selanjutnya bisa direkomendasikan masuk Di kampus-kampus lain yang kesulitan mendapat mahasiswa.

Sementara Ketua Umum Stipram Suhendroyono mengakui, masing-masing kampus masih kental dengan ego masing-masing, terutama dalam hal persaingan mendapat mahasiswa.
Persaingan yang tidak bersinergi itulah yang menurutnya justru Menjadikan perguruan tinggi pariwisata tidak berkembang.

“Bagi kami persaingan semacam itu tidak pantas. Sudah saatnya kita saling bersinergi untuk kemajuan bersama,” jelas Suhendroyono.

Temu Nasional Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata itu sekaligus merupakan upaya untuk mewujudkan persatuan kampus. Lewat wahana itu masalah-masalah yang ada di masing-masing kampus pariwisata bisa dimusyawarahkan sekaligus dicarikan. Solusinya secara bersama.

To Top