Kampus

Menristekdikti Tidak Bisa Copot Wakil Rektor PTS

 
 
JAKARTA, EDUNEWS.ID – Wakil Rektor I Universitas Trisakti (Usakti), Yuzwar Z. Basri menilai ada yang janggal di balik keputusan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mencopot dirinya.
Apalagi, dia kini tengah memperjuangkan upaya penegerian Usakti yang telah berjalan selama 16 tahun. Yuzwar menilai pencopotan ini sebagai upaya menghalangi penyelamatan aset negara tersebut.
“Ini saya melihat ada latar belakang politik, karena saya adalah salah satu orang yang sedang berjuang guna mempertahankan asset Negara dari upaya penguasaan oleh pihak swasta,” ujarnya, Rabu (25/4/2018).
Selain itu, Yuzwar menyabut pencopotan tersebut telah menyalahi prosedur pengangkatan dan pemberhentian wakil rektor seperti yang tercantum pada Statuta Usakti. Kata dia, Menristekdikti M Nasir tidak bisa mengeluarkan keputusan untuk memberhentikan wakil rektor I sebuah perguruan tinggi swasta. Sebab, mekanisme yang ada menyebut bahwa warek hanya bisa dicopot melalui mekanisme kampus. Di Usakti, pencopotan ini diatur dalam Statuta Usakti.
“Alasan pemberhentiannya tidak jelas. Ini yang membuat saya memperjuangkan keadilan dan menggugat ke PTUN, padahal banyak pejabat lainnya yang sama-sama habis masa jabatnya tapi tetap dipertahankan bahkan diperpanjang karena mendukung Pjs Rektor,”kata Yuswar.
Yuzwar telah mengeluarkan gugatan kepada Menristekdikti M Nasir atas penerbitan Kepmen 458/M/KPT.KP/2017 tanggal 3 November 2017 tentang Pemberhentian Yuswar sebagai Wakil Rektor 1 Universitas Trisakti.
Gugatan sudah didaftarkan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan teregister 269/G/2017/PTUN.JKT pada 20 Desember 2017. Sidang kasus ini, sudah sampai pada kesimpulan dan putusan akan dibacakan pada awal Mei mendatang.
Yuzwar berharap pengadilan dapat memenangkan dirinya, sehingga ia bisa kembali berjuang mempertahankan aset negara yang nilainya diperkirakan lebih dari Rp 10 triliun tersebut.
“Sekali lagi saya tekankan bahwa disini saya bukan mempertahan posisi maupun kekayaan saya pribadi, namun ini adalah kekayaan milik negara, dan saya berharap bahwa Usakti ini dapat menjadi Universitas Negeri. Jika nanti trisakti sudah berhasil menjadi negeri saya juga akan berhenti, sebab saya juga sudah sangat lelah untuk terus memperjuangkan ini,” tukasnya.
Senada dengan itu, kuasa hukum Yuzwar, Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa Menteri Nasir tidak punya alasan kuat mencabut jabatan Yuzwar. Sebab, Usakti sekarang masih berupa perguruan tinggi swasta dan belum menjadi perguruan tinggi negeri.
Sehingga keputusan untuk mengangkat maupun memberhentikan pembantu rektor tergantung pada statuta masing-masing universitas. “Pada Statuta Usakti tertulis bahwa pemberhentian pembantu rektor adalah harus melalui pertimbangan Senat Universitas. Nah hal ini tidak dilakukan oleh Menristek Dikti,” tukasnya.
Atas alasan itu juga, dia optimis akan memenangkan gugatan kliennya ini. “Dari alasan hukum dan bukti kami yang kuat, kami optimis pengadilan akan membatalkan keabsahan Surat Keputusan dari pihak tergugat,” pungkasnya.

To Top