Kampus

Pendidikan Dokter Tak Cukup dengan Kompetensi

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pendidikan dokter saat ini tidak cukup dengan kompetensi, tetapi harus ada sentuhan yang lebih manusiawi. Misalnya, bagaimana dokter memperlakukan pasien, komunikasi yang bagus dan juga berorientasi pada kepuasan pasien.

Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ali Ghufron Mukti, dalam seminar Kolaborasi Indonesia-Inggris, di Jakarta, Jumat (23/3/2018).

Ghufron mengatakan secara kompetensi, dokter di Indonesia maupun Inggris sama, yakni harus menguasai sekitar 155 kompetensi. Namun, yang membedakannya adalah sentuhan yang lebih manusiawi. Dokter di Inggris lebih bagus dalam hal komunikasi maupun berorientsi pada kepuasaan pasien.

“Beberapa bulan lalu, kami ke Inggris dan melihat langsung fasilitas kesehatan yang terintegrasi di Inggris. Untuk jaminan kesehatan sendiri, sama dengan kita, begitu juga untuk sistem rujukannya. Akan tetapi, yang membedakan adalah penanganan kesehatan yang kolaboratif, tidak hanya ditangani satu atau dua orang dokter saja, namun bekerja sama dengan dokter ahli lainnya,” papar Ghufron.

Dia memberi contoh, di Inggris, untuk penanganan ibu hamil, misalnya, tidak hanya melibatkan dokter kandungan, tetapi juga ahli gizi, dokter penyakit dalam dan juga ahli farmasi. Semuanya berperan dalam bidangnya masing-masing.

Karena itu, lanjut Ghufron, pihaknya akan mencoba menerapkan layanan yang lebih terintegrasi tersebut di sejumlah rumah sakit pendidikan di Tanah Air yakni di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Universitas Airlangga, dan Universitas Padjadjaran.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, mengatakan menyatukan para profesional dalam bidang kesehatan untuk berbagi ilmu dan bekerja sama merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.

“Kami sangat senang pemerintah Indonesia telah menetapkan isu ini sebagai prioritas utama,” kata Moazzam.

To Top